BEBERAPA FAEDAH TERKAIT HADIS SAHIH

267
Perkiraan waktu baca: 3 menit
image_pdfUnduh PDF
  • Hadis shahih li dzatihi memiliki berbagai ragam berdasarkan derajat kekuatan sanadnya. Ada hadis sahih yang paling kuat dan ada yang kurang kuat, hanya saja semuanya adalah shahih li dzatihi. Berikut tingkat kekuatannya (berdasarkan urutan nomor):
  1. Muttafaq ‘Alaih, yaitu hadis yang diriwayatkan secara bersama-sama oleh Imam Bukhari dalam Shahih-nya dan Imam Muslim dalam Shahih-nya dengan perawi sahabat yang sama.
  2. Hadis dalam Shahih Bukhari tanpa Muslim.
  3. Hadis dalam Shahih Muslim tanpa Bukhari.
  4. Hadis sahih sesuai syarat Imam Bukhari dan Muslim dalam Kitab al-Shahih
  5. Hadis sahih sesuai syarat Imam Bukhari dalam Shahih-nya.
  6. Hadis sahih sesuai syarat Imam Muslim dalam Shahih-nya.
  7. Hadis sahih sesuai syarat selain mereka berdua.
  • Secara umum, hadis sahih adalah hujah, baik ia berupa mutawatir atau ahad. Sebagaimana dalam ucapan Imam al-Syafi’iy rahimahullah, “Saya tidak mendapati para ulama umat Islam yang berselisih tentang hujahnya hadis ahad sebagaimana yang telah saya sebutkan padamu, bahwa hal itu (berhujah dengan hadis ahad) telah ada dalam (praktik) mereka semua.” (Al-Risalah: 399).

Al-Khathib al-Bagdadiy rahimahullah berkata, “Beramal (berhujah) dengan hadis ahad merupakan pandangan seluruh tabiin dan seluruh fukaha mutaakhirin di seluruh negeri umat Islam sampai zaman kita ini. Tidak sampai kabar pada kita bahwa seorang dari mereka mengingkari hadis ahad dan menentangnya. Maka dengan ini, sahihlah bahwa merupakan keyakinan agama mereka; wajibnya berhujah dengan hadis ahad, sebab seandainya di antara mereka (para salaf) ada yang tidak mengakui hujahnya hadis ahad; maka pasti akan dinukil kepada kita tentang kabar mazhabnya tersebut.” (Al-Kifayah: 1/129)

  • Dalam ranah praktik atau amalan, beberapa hadis sahih tidak bisa dijadikan hujah, bukan karena ia hadis ahad, tapi karena terhalangi oleh beberapa dalil lain, semisal; hadis sahih itu mansukh (terhapus hukumnya), atau hadis itu sama sekali tidak diamalkan oleh para salaf secara ijmak, atau hadis itu mujmal (global) dan ada hadis lain yang mengkhususkan/membatasi maknanya, dan lainnya. Ini biasanya bisa dipelajari dalam ilmu usul fikih.

Jadi, ketika mendapati suatu hadis sahih, jangan dulu tergesa-gesa mempraktikannya bila hadis itu terasa aneh, karena boleh jadi hadis itu mansukh atau para salaf telah berijmak untuk tidak mempraktikkannya. Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata, Para imam dan fukaha ahli hadis maka mereka mengikuti hadis sahih bila hadis itu diamalkan oleh para sahabat dan ulama setelah mereka, atau oleh sekelompok mereka. Adapun bila ia (amalan dengan hadis sahih tertentu) ditinggalkan (oleh mereka) secara ijmak, maka tidak boleh (bagi kita) mengamalkannya karena mereka (para salaf) tidaklah meninggalkannya melainkan mereka lebih tahu bahwa hadis itu tidak diamalkan.” (Fadhl ‘Ilmi al-Salaf: 83)

  • Buku-buku hadis yang dianggap seluruh hadisnya sahih adalah Shahih Bukhari dan Shahih Muslim menurut kesepakatan para ulama. Kecuali ada beberapa hadis saja yang masih diperselisihkan kesahihannya di dalamnya, namun hadis-hadis tersebut sangat sedikit dan tidak membatalkan kesepakatan para ulama akan keabsahan kandungan dua kitab shahih tersebut. Tidak ada yang menyelisihi keabsahan Shahih Bukhari dan Muslim kecuali Syiah Rafidah dan beberapa sekte sesat lainnya.
  • Hadis-hadis sahih bisa diketahui lewat penilaian hadis sahih yang dilakukan oleh para ulama hadis. Dan ini bisa diketahui lewat buku-buku hadis mereka, seperti buku al-Badr al-Munir karya Ibnul-Mulaqqin rahimahullah, al-Talkhish al-Habir karya Ibnu Hajar al-‘Asqalaniy rahimahullah, Silsilah al-Ahadits al-Shahihah karya al-Albaniy rahimahullah dan selain mereka. Selain itu, hadis sahih juga bisa diketahui lewat buku-buku ulama klasik yang membawa judul “al-Shahih“.
  • Ada beberapa kitab-kitab hadis klasik yang membawa judul “al-Shahih“, seperti Shahih Ibnu Khuzaimah, Shahih Ibnu Hibban, Shahih al-Hakim (al-Mustadrak), Shahih Ibn al-Sakan, Shahih al-Dhiya’ (al-Mukhtaarah); namun kitab-kitab ini masih mengandung banyak hadis yang daif atau tidak mencapai derajat hadis sahih sebagaimana Shahih Bukhari dan Muslim. Kumpulan buku-buku yang berjudul al-Shahih ini merupakan salah satu jenis buku hadis bersanad era klasik.

Dalam ilmu hadis ada salah satu cabang ilmu, namanya “Mashadir al-Sunnah“. Ilmu ini mengkaji tentang sejarah penulisan hadis-hadis Nabi di setiap era Islam, serta membahas tentang isi seluruh buku-buku hadis dengan beragam variabel atau jenisnya, beserta biografi penulis dan metode penulisannya. Di antara variabel kitab-kitab hadis selain buku al-Shahih adalah; al-Sunan, al-Jami’, al-Mushannaf, al-Musnad, al-Muwaththa’, al-Garib, al-Ajzaa’, al-Masyikhah, al-Fawa’id, al-Mustakhraj, al-Amaliy, al-Mu’jam, al-‘Ilal, dan lain sebagainya.

image_pdfUnduh PDF
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments