BAIT KE-28 DAN KE-29: HADIS MUTTAFIQ, MUFTARIQ, MU’TALIF, DAN MUKHTALIF

1640
BAIT KE dan HADIS MUTTAFIQ
Perkiraan waktu baca: 1 menit

SYARAH MUDAH MATAN AL-BAIQŪNI[1]

Imam al-Baiqūni:

مُتَّفِقٌ لَفْظاً وَخَطًّا مُتَّفِقْ … وضِدُّهُ فِيمَا ذَكَرْنَا المُفْتَرِقْ

مُؤْتَلِفٌ مُتَّقِقُ الخَطِّ فَقَطْ … وَضِدُّهُ مُخْتَلِفٌ فَاخْشَ الْغَلَطْ

Artinya:
“Yang sama lafaz dan khatnya disebut muttafiq, dan kebalikan dari yang disebutkan disebut muftariq.

Mu’talif adalah yang sama khatnya saja, dan sebaliknya disebut mukhtalif maka hati-hatilah akan kekeliruan.”

Definisi:

Al-muttafiq dan al-muftariq[2] adalah ketika nama para rawi dan nama ayah mereka ke atas (kakek dan seterusnya) sama dalam hal khat padahal mereka adalah orang yang berbeda. Sebagian ulama telah menulis kitab terkait pembahasan ini, di antara yang populer adalah al-Khaṭīb al-Bagdādi namun kitab beliau tersebut belum dicetak.

Contoh:

  1. الخَلِيلُ بنُ أَحْمَد

Ada enam orang yang memiliki nama ini, yang pertama adalah guru dari Sībawaih.

  1. أَحْمَدُ بنُ جَعْفَرَ بنِ حَمْدَان

Ada empat orang yang bernama demikian pada satu masa yang sama.[3]

Definisi:

Al-mu’talif dan al-mukhtalif[4] adalah ketika nama, lakab (gelar/julukan), kuniyah, atau nasab sama dari dalam hal khat namun berbeda dalam hal lafaz baik perbedaan tersebut disebabkan oleh noktah (titik) atau syakl (harakat).[5]

Contoh:

  1. سَلَام dan سَلَّام, yang pertama tanpa tasydid sedang yang kedua dengan tasydid.
  2. الثَّوْرِي dan التَّوَّزِي, yang pertama dengan ṡā dan ra sedang yang kedua dengan ta bertasydid dan wa bertasydid.[6]

 


Footnote:

[1] Diterjemahkan dan disadur dari kitab al-Ta’liqāt al-Aariyyah ‘ala al-Manẓūmah al-Baiqūniyyah karyra Syekh ‘Ali bin Ḥasan al-Ḥalabi al-Aṡari raḥimahullāh.

[2] Lihat: al-Tadrīb (2/316) dan ‘Ulūm al-Ḥadī (h. 321).

[3] Al-Muttafiq wa al-Muftariq (1/89) karya al-Khaṭīb dan Irsyād al-Ṭullāb al-Ḥaqāiq (2/733) karya al-Nawawi. Rujuk: al-Risālah al-Mustaṭrafah (h. 86 dst.)

Baca juga:  JENIS HADIS PERTAMA: HADIS SAHIH

[4] Lihat: Ḥāsyiyah al-Ajhūri (h. 78) dan Tadrīb al-Rāwi (2/297).

[5] Tauḍīḥ al-Afkār (2/487) karya al-Ṣan’āni secara panjang lebar dan dengan tambahan.

[6] Al-Ikmāl (1/588) karya Ibn Mākūla dan Musytabah al-Nisbah (12) karya al-Azdi. Lihat: Tadrīb al-Rāwi (2/260).

Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments