HADIS KETIGA: BEBERAPA FADILAT BERPUASA

391
Perkiraan waktu baca: 3 menit
image_pdfUnduh PDF

SERIAL HADIS TENTANG PUASA RAMADAN(1)

REDAKSI HADIS:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعمِائَة ضِعْفٍ، قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ، يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِي، لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ: فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ، وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ، وَلَخُلُوفُ(2) فَمِ الصائم أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ

Dari Abu Hurairah radliallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Setiap amal anak Adam dilipatgandakan pahalanya. Satu (amal) kebaikan diberi pahala sepuluh hingga tujuh ratus kali. Allah azza wajalla berfirman, ‘Kecuali puasa, karena puasa itu adalah bagi-Ku dan Akulah yang akan membalasnya. Sebab, dia telah meninggalkan nafsu syahwat dan nafsu makannya karena-Ku.’ Dan bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan. Kebahagiaan ketika dia berbuka, dan kebahagiaan ketika dia bertemu dengan Rabb-Nya. Sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Allah daripada wanginya kesturi.’”

TAKHRIJ HADIS:

Hadis ini diriwayatkan oleh Bukhari (no. 1894) dan Muslim (no. 1151). Redaksi hadis ini menurut periwayatan Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu. Imam Muslim juga meriwayatkan hadis ini dari sahabat Abu Said al-Khudri radhiyallahu anhu, no. 165.

PROFIL SAHABAT PERAWI HADIS:

Lihat: https://markazsunnah.com/perawi-islam-abu-hurairah/

PENJELASAN HADIS SECARA GLOBAL:

Hadis ini menjadi dalil keutamaan puasa dan betapa agung kedudukannya di sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Di dalam hadis ini ada empat keutamaan (puasa) yang disebutkan dari sekian banyak keutamaannya yang ada.

Pertama: Orang yang berpuasa akan dibalas dengan pahala yang tidak terbatas, sesungguhnya amalan-amalan yang ada akan dibalas dengan 10 kali lipat hingga 700 kali lipat kecuali puasa, karena dia tidak terbatas (pahalanya) dengan bilangan yang ada. Tetapi Allah subhanahu wa ta’ala akan menggandakan (pahalanya) berkali-kali lipat. Karena puasa itu bagian dari kesabaran dan Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman tentang sabar

.. إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجرَهُم بِغَيرِ حِسَاب

Artinya: … hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas. (QS. Al-Zumar: 10)

Imam al-Auza’i berkata berkenaan ayat ini,

ليس يوزن لهم ولا يكال لهم إنما يغرف لهم غرفا

“Tidaklah dibuat timbangan dan takaran bagi mereka, melainkan dituangkan tanpa ukuran”(3)

Kedua: Allah subhanahu wa taala menyadarkan puasa kepada diri-Nya dibandingkan amalan yang lainnya.

Karena seluruh rangkaian amalan (puasa) itu berada pada siang hari, karenanya seorang yang berpuasa kehilangan syahwatnya, dan hasrat nafsunya kepadanya (wanitanya), utamanya di siang hari pada saat musim panas yang mana rentang waktunya lebih lama dan cuacanya sangat panas.

Juga karena puasa adalah rahasia antara seorang hamba dengan Rabb-nya, tidak ada yang mengetahui dan melihatnya kecuali Allah subhanahu wa ta’ala, ia adalah amalan batin yang tidak dapat dilihat oleh makhluk dan tidak dimasuki oleh ria.

Ketiga: Orang yang berpuasa ketika berjumpa dengan tuhannya dia akan berbahagia dengan puasanya disebabkan oleh apa yang dia akan lihat dan dapati dari balasan puasanya.

Adapun kebahagiaan dia ketika berbuka maka ini sebagai bentuk dari sempurnanya amalannya, selamatnya dia dari perusak dan pembatal (amalan), dan mendapatkan apa yang tadinya dilarang dari sesuatu yang sejalan dengan tabiat dan fitrahnya, dan ini adalah bentuk kebahagian yang terpuji karena dia adalah kebahagian disebabkan ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan kesempurnaan dari puasanya yang dijanjikan baginya balasan kebaikan.

Keempat: Sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Allah subhanahu wa ta’ala daripada wanginya kesturi, dan ini (bau yang wangi) akan dia temukan pada hari kiamat karena di sanalah waktu ditampakkanya pahala dan balasan dari seluruh amalan yang ada, di riwayat lain disebutkan, “Lebih wangi di sisi Allah pada hari kiamat.(4)

Bau ini walaupun bagi manusia di dunia tidak disukai dan merasa terganggu dengannya, akan tetapi dia di sisi Allah lebih harum dari misk karena bentuk ketaatannya kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Di antara keutamaan puasa adalah pengampunan dosa dan penggugur kesalahan.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Artinya, “Barang siapa yang berpuasa karena iman dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”(5)

Namun keutamaan ini tidak akan didapatkan kecuali bagi orang yang meninggalkan makan, minum, dan berhubungan dengan pasangannya didasari keikhlasan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dan anggota tubuhnya yang lain juga berpuasa dan menahan dari melakukan dosa maka ini jenis puasa yang disyariatkan yang pantas baginya pahala yang besar dan agung. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Barang siapa yang tidak bisa meninggalkan perkataan zur (dusta) dan perbuatan zur (maksiat) maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan (tidak akan menerima puasanya).”(6)

Semoga Allah menjaga puasa kita, menjadikannya syafaat bagi kita, menolong kita untuk dalam ketaatan, menjauhkan dari jalan kemaksiatan, mengampuni kita, kedua orang tua, dan kaum muslimin secara umum.

 


Footnote:

(1) Dari kitab Mukhtashar Ahāditsi al- Ṣiyām, karya Syekh Abdullah bin Sālih al-Fauzān.

(2) Khuluf artinya perubahan bau yang terjadi pada mulut, Qadhi Iyad berkata, “Kami tulis dari para ahli hadis yang mutqin menyebut khuluf, walaupun kebanyakan ahli hadis mengatakan khaluf dan ini adalah kesalahan,” al-Khaththabi juga menyebutkan dalam kitabnya ‘Ishlah Ghalath al-Muhadditsin’, lihat: hal. 44 dan juga kitab Fath al-Bari (4/105).

(3) Lihat: Tafsir Ibn Katsir (7/80).

(4) H.R. Muslim, no. 1151.

(5) HR. Bukhari (no. 38) dan Muslim (no. 760), sabda beliau shallallahu alaihi wasallam: (مِنْ ذَنْبِهِ) secara zahirnya dosa yang terampuni secara umum baik kecil maupun dosa besar, akan tetapi mazhab jumhur ulama bahwa dosa yang dimaksud terkhusus pada dosa-dosa kecil.

(6) HR. Bukhari (no. 6057), lihat penjelasan Syekh Islam Ibnu Taimiyah tentang makna hadis ini di Minhaj al-Sunnah (5/197-198).

image_pdfUnduh PDF
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments