HADIS KEDELAPAN: MOTIVASI UNTUK BERKONTRIBUSI DAN DERMAWAN

174
Perkiraan waktu baca: 3 menit
image_pdfUnduh PDF

SERIAL PENJELASAN RINGKAS HADIS TENTANG PUASA(1)

REDAKSI HADIS:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضي الله عنهما قَالَ : كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ فَلَرَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنْ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma, beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia yang paling dermawan dan bertambah kedermawanan beliau pada bulan Ramadan ketika malaikat Jibril menemuinya. Jibril menemuinya setiap malam di bulan Ramadan, kemudian mengajarkannya Al-Qur’an. Sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam jauh lebih dermawan daripada angin yang berhembus.” (H.R. Muttafaq ‘alaih)

TAKHRIJ HADIS:

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam dalam kitabnya, Shahih al-Bukhari;  no. 6 dan Muslim dalam kitabnya, Shahih Muslim;  no. 2308.

BIOGRAFI SAHABAT PERAWI HADIS:

Lihat: https://markazsunnah.com/abdullah-bin-abbas-ahli-tafsir-dan-hadis-umat-islam/

PENJELASAN HADIS SECARA GLOBAL:

Hadis ini adalah motivasi agar bersifat dermawan dan berinfak di setiap waktu, terlebih di bulan Ramadan karena Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma menyifati Nabi kita shallallahu ‘alaihi wasallam dengan sikap dermawan, dimana kedermawanan beliau di bulan Ramadan melebihi kedermawanannya di bulan yang lain. Kedermawanannya itu diibaratkan seperti angin yang berhembus, maksudnya adalah kedermawanan yang lebih kencang daripada hembusan angin. Di sini diungkapkan sebagai “angin berhembus” sebagai isyarat hembusan kasih sayang yang berkesinambungan dan kedermawanan yang mencakup manfaatnya ke semua kalangan, layaknya hembusan angin yang membawa manfaat ke semua benda yang ditimpanya.

Dermawan adalah sifat banyak memberi, termasuk di dalamnya sedekah dan semua pintu kebaikan. Pelajaran dari hadis ini adalah motivasi agar dermawan di setiap waktu, terlebih di bulan Ramadan karena kedermawanan di dalamnya sangat mulia dan banyak faedahnya.

Dari Anas radhiyallahu’anhu, ia berkata,

‎مَا سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الْإِسْلَامِ شَيْئًا إِلَّا أَعْطَاهُ، قَالَ: فَجَاءَهُ رَجُلٌ فَأَعْطَاهُ غَنَمًا بَيْنَ جَبَلَيْنِ، فَرَجَعَ إِلَى قَوْمِهِ، فَقَالَ: يَا قَوْمِ أَسْلِمُوا فَإِنَّ مُحَمَّدًا يُعْطِي عَطَاءً لَا يَخْشَى الْفَاقَةَ

“Tidak pernah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dimintai sesuatu karena Islam melainkan selalu dipenuhinya. Pada suatu hari, datang kepada beliau seorang laki-laki, lalu diberinya kambing di antara dua bukit. Kemudian orang itu pulang ke kampungnya dan berseru kepada kaumnya, ‘Hai, kaumku! Masuk Islamlah kalian semuanya! Sesungguhnya Muhammad telah memberiku suatu pemberian yang dia sendiri tidak takut miskin’.” (H.R. Muslim, no. 2312)

Oleh karena itu, sepantasnya bagi setiap orang mengikuti Nabinya shallallahu ‘alaihi wasallam, bersedekah agar orang miskin dan orang yang membutuhkan menjadi senang, memeriksa keadaan ekonomi tetangga, menyambung tali silaturahmi, dan berjuang di semua pintu kebaikan.

Al-Imam al-Syafi’i rahimahullah mengatakan,

فَأَحِبُّ لِلرَّجُلِ الزِّيَادَةَ بِالْجُودِ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ اقْتِدَاءً بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَلِحَاجَةِ النَّاسِ فِيهِ إِلَى مَصَالِحِهِمْ، وَتَشَاغُلِ كَثِيرٍ مِنْهُمْ بِالصَّوْمِ وَالصَّلَاةِ، عَنْ مَكَاسِبَهُمْ

“Aku menyukai jika seorang lebih dermawan di bulan Ramadan mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sebab orang-orang perlu memenuhi kebutuhannya di bulan Ramadan sedangkan mereka tersibukan dengan puasa dan salat dari mencari nafkah.”(2)

Mungkin di antara faktor pendorong berinfak adalah karena seorang mengingat nikmat Allah dengan berpuasa, dimana telah memudahkannya mendapatkan apa yang diinginkannya dari sesuatu yang dibolehkan untuknya, kemudian mengingat saudaranya si fakir yang tidak terpenuhi kebutuhannya sehingga akhirnya terdorong untuk bersedekah dan berbuat baik kepada mereka.

Dahulu para salaf saleh umat ini sangat antusias dalam memberikan makan dan buka puasa yang mengenyangkan, bahkan tidak segan mengorbankan makanan berbuka mereka miliki sendiri padahal mereka juga berpuasa, sebagaimana yang dilakukan oleh Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhuma, Daud al-Tha’i, Malik bin Dinar, dan Ahmad bin Hanbal rahimahumullah.

Syekh al-Islam Ibn Taimiyah rahimahullah berkata,

إعانة الفقراء بالإطعام في شهر رمضان هو من سنن الإسلام

“Membantu orang fakir dengan makanan di bulan Ramadan adalah di antara sunah di dalam Islam.”(3)

Di antara bentuk sedekah di bulan Ramadhan adalah menyiapkan makanan dan memberikannya kepada keluarga yang fakir, atau mengundangnya untuk makan, sedangkan bagi yang menganggap cara lainnya lebih bermanfaat seperti memberinya uang, pakaian, atau makanan yang bermanfaat bagi si fakir, mengambil manfaat darinya secara berjenjang, maka itu lebih baik lagi. Sebab tujuan berinfak adalah manfaat sebesar-besarnya bagi orang yg bersedekah dan si fakir, sehingga hendaknya kita berusaha dengan cara yang paling baik sesuai dengan tujuan berinfak, Allah Ta’ala tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang melakukan kebaikan.

Ya Allah, bersihkanlah hati kami dari kemunafikan, amalan kami dari riya’, lisan kami dari dusta, mata kami dari khianat, karena sesungguhnya Engkaulah maha mengetahui pengkhianatan mata dan apa tersembunyi dalam hati. Ampunilah kami ya Allah, kedua orang tua kami, dan seluruh kaum muslimin.

 


Footnote:

(1) Dari kitab Mukhtashar Ahāditsi al- Ṣiyām, karya Syekh Abdullah bin Sālih al-Fauzān hafizhahullah.

(2) Lihat: Ma’rifah al-Sunan wa al-Atsar, karya al-Baihaqi (6/382).

(3) Majmu’ al-Fatawa (25/298).

image_pdfUnduh PDF
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments