
وَعَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: ((خَرَجْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي بَعْضِ أَسْفَارِهِ فَجِئْتُ لَيْلَةً لبَعْضِ أَمْرِي، فَوَجَدْتُهُ يُصَلِّي وَعَلَيَّ ثَوْبٌ وَاحِدٌ، فَاشْتَمَلْتُ بِهِ وَصَلَّيْتُ إِلَى جَانِبِهِ، فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ: ((مَا السُّرَى يَا جَابِرُ؟)) فَأَخْبَرْتُهُ بِحَاجَتِي، فَلَمَّا فَرَغْتُ قَالَ: ((مَا هَذَا الاشْتِمَالُ الَّذِي رَأَيْتُ؟)) قُلْتُ: كَانَ ثَوْبٌ – يَعْنِي ضَاقَ – قَالَ: ((فَإِنْ كَانَ وَاسِعًا فَالتَحِفْ بِهِ وَإِنْ كَانَ ضَيِّقًا فَاتَّزِرْ بِهِ)). رَوَاهُ البُخَارِيُّ بِهَذَا اللَّفْظِ، وَرَوَاهُ مُسْلِمٌ وَلَفْظُهُ: ((إِذا كَانَ وَاسِعًا فَخَالِفْ بَينَ طَرفَيْهِ، وَإِنْ كَانَ ضَيِّقاً فَاشْدُدْهُ عَلَى حَقْوِكَ))
Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu anhuma dia berkata, “Saya pernah ikut serta dalam salah satu safar bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, pada suatu malam saya mendatangi beliau untuk suatu urusan pribadi. Saya melihat beliau shalat, ketika itu saya hanya mengenakan satu lembar pakaian yang dililitkan ke seluruh tubuhku, lalu saya pun lalu shalat disampingnya. Ketika beliau selesai dan berkata, ‘Apa sebab kedatanganmu pada malam hari.’ Maka saya menyampaikan beberapa hajat saya. Ketika saya telah selesai, beliau berkata lagi, ‘Mengapa aku lihat kamu melilitkan pakaian seperti ini?’ Saya menjawab, ‘Pakaian (kain) ini tidak lebar.’ (Beliau) Bersabda, ‘Jika kainnya lebar maka ikatlah di pundak, jika kainnya sempit maka maka jadikan izar (kain di pinggang)’.” Hadis riwayat Al-Bukhari dengan lafaz yang demikian, dan Muslim meriwayatkan pula dengan lafaz, “Jika (pakaian) lebar maka selempangkan dari dua sisinya, jika ia sempit maka kencangkan ia di pinggangmu.”
Kosa kata hadis:
- (السُّرَى) As-Suraa artinya adalah aktivitas (kedatangan) pada malam hari.[1]
- (الحَقْوِ) makna asalnya pinggang atau bagian tubuh tempat mengikat dan mengencangkan kain[2], namun kemudian dimaknai sebagai izar (sarung) itu sendiri.
Faedah dan istinbat dari hadis:
- Dilarang memakai pakaian atau selainnya yang dapat menyibukkan seseorang dan mengganggunya dari kekhusyukan shalat.
- Dibolehkan shalat dengan hanya memakai izar saja jika seseorang tidak memiliki pakaian selainnya. Maknanya bahwa dia menutup bagian tubuh yang paling darurat secara definisi yaitu aurat mughallazhah.[3]
- Jika seseorang hanya memiliki satu lembar pakaian saja maka hendaknya dia jadikan izar (sarung) yang dia lilitkan di pinggang untuk digunakan ketika shalat. Sehingga dia menutup auratnya yang ada di antara pusar dan lutut dan shalatnya sah,[4] demikian Asy-Syafi’i dan ulama Syafi’iyah beristidlal.
[1] Ibnu Hajar Al-Asqalany. Fathul Baari Syarh Shahih Al-Bukhari. Jilid 1, hlm 472.
[2] An-Nawawi. Al-Minhaaj. Jilid 142, hlm 18.
[3] Al-Qadhi Iyadh. Ikmalul Mu’lim bi fawaaid Muslim. Jilid 8, hlm 568.
[4] An-Nawawi. Al-Minhaaj. Jilid 142, hlm 18.
















