APAKAH PAHA TERMASUK AURAT?Perkiraan waktu baca: 2 menit

165
Picture

وَعَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَزَا خَيْبَرَ فَصَلَيْناَ عِنْدَهَا صَلَاةَ الْغَدَاةِ بِغَلَسٍ، فَرَكِبَ نَبِيُّ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَكِبَ أَبُو طَلْحَةَ، وَأَناَ رَدِيْفُ أَبِي طَلْحَةَ، فَأَجْرَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي زُقاَقِ خَيْبَرَ [وَإِنَّ رُكْبَتِي لَتَمَسُّ فَخِذَ نَبِيِّ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ]، ثُمَّ حَسَرَ الْإِزَارَ عَنْ فَخِذِهِ حَتَّى إِنِّي أَنْظُرُ إِلَى بَيَاضِ فَخِذِ نَبِيِّ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم،َ فَلَمَّا دَخَلَ الْقرْيَةَ قَالَ: ((اللهُ أَكْبَرُ خَرِبَتْ خَيْبَر!! إِنَّا إِذَا نَزَلْنَا بِسَاحَةِ قَوْمٍ، فَسَاءَ صَبَاحُ المـُنْذَرِيْنَ))، قَالَهَا ثَلَاثًا. رَوَاهُ البُخَارِيُّ، وَفِي رِوَايَةٍ لـمُسْلِمٍ: وَانْحَسَرَ الْإِزَارُ عَنْ فَخِذِ نَبِيِّ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فَلَفْظُ مُسْلِمٍ لَا حُجَّةَ فِيهِ عَلَى أَنَّ الْفَخْذَ لَيْسَ بِعَوْرَةٍ، وَلَفْظُ البُخَارِيِّ مُحْتَمَلٌ. وَاللهُ أَعْلَمُ

Dari Anas bin Mālik raḍiyallāhu ‘anhu bahwa Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam melakukan peperangan terhadap Khaibar, kami salat Subuh ketika keadaaan masih gelap gulita. Lalu Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam mengendarai tunggangannya, sementara aku membonceng pada tunggangan Abū Ṭalhah raḍiyallāhu ‘anhu. Lalu beliau berkendara di jalanan sempit Khaibar sehingga lututku (Anas) bersentuhan dengan paha Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam hingga izar (pakaian) beliau tersingkap dan aku melihat putihnya paha Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. Ketika memasuki kota (Khaibar) beliau bersabda, “Allāhu Akbar, Khaibar ditaklukkan!! Jika kami turun di suatu wilayah, maka amat buruklah pagi hari orang-orang (di tempat) tersebut.”

Beliau mengucapkannya sebanyak tiga kali. Hadis ini adalah riwayat al-Bukhārī, sedangkan riwayat Muslim, “Izar (pakaian) beliau tersingkap hingga pahanya terlihat.” Lafaz Muslim tidak memberikan indikasi yang dapat dijadikan hujah bahwa paha bukan aurat. Sedangkan lafaz al-Bukhārī ada ihtimal akan hal tersebut.

Kosa kata hadits:

  1. زُقَاقِ artinya jalan kecil di antara rumah-rumah, bentuk jamaknya أَزِقَّة.
  2. خَرِبَتْ خَيْبَرُ artinya secara harfiah adalah Khaibar telah runtuh. Maknanya ada dua menurut ulama. Pertama adalah kalimat tersebut adalah doa, maksudnya “Aku memohon kepada Allah Ta’ālā keruntuhan Khaibar.” Kedua adalah kabar gembira kepada kaum Muslim bahwa Khaibar akan ditaklukkan untuk mereka dan kehancuran bagi kaum kafir Khaibar itu sendiri.[1]

Faedah dan istinbat dari hadis:

  1. Hadis tersebut adalah satu dari sejumlah dalil yang dijadikan hujah ulama Malikiyah bahwa paha bukan termasuk aurat.

Sedangkan ulama yang berpendapat bahwa paha seseorang adalah bagian dari auratnya, mentakwilkan hadis tersebut.

Hadits Anas bin Malik raḍiyallāhu ‘anhu dipahami oleh mereka sebagai peristiwa yang tidak disengaja. Tersingkapnya pakaian karena kondisi yang berdesak-desakan karena sempit serta karena sedang berada di atas hewan tunggangan, bukan karena kehendak Nabi Muhammad ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. Anas bin Malik raḍiyallāhu ‘anhu pun melihat paha Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam secara tiba-tiba, lutut yang bersentuhan dengan paha juga bukan karena disengaja.

  1. Dibolehkan berboncengan dengan satu tunggangan jika tunggangan atau kendaraan tersebut mampu dan sesuai kapasitasnya.
  2. Tidak mengapa seorang pemuka kaum, zuama dan ulama mengendarai sendiri tunggangannya. Hal tersebut tidak menjatuhkan muruah dan kehormatan mereka. Secara khusus, jika ada kebutuhan untuk itu seperti peristiwa perang, melatih diri dan tunggangan serta melakukan sebab-sebab dan melatih keberanian.
  3. Istiḥbāb untuk bertakbir dan berzikir ketika perang sedang berkecamuk[2], hal tersebut selaras dengan firman Allah Ta’alā,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا لَقِيْتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوْا وَاذْكُرُوا اللّٰهَ كَثِيْرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَۚ

Baca juga:  HADIS KE-6 AL-ARBAIN: ANTARA HALAL DAN HARAM

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan pasukan (musuh), maka berteguh hatilah dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.” (Q.S. al-Anfāl: 45)


Footnote

[1] Al-Nawawi. Al-Minhāj. Jilid 9, hlm. 219.

[2] An-Nawawi. Al-Minhaaj. Jilid 9, hlm 219.

Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Oldest
Newest Most Voted