HADIS KE-38 AL-ARBA’IN: WALI ALLAH

69
Perkiraan waktu baca: 4 menit
image_pdfUnduh PDF

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ : إِنَّ اللهَ تَعَالَى قَالَ: مَنْ عَادَى لِي وَلِيَّاً فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالحَرْبِ. وَمَا تَقَرَّبَ إِلِيَّ عَبْدِيْ بِشَيءٍ أَحَبَّ إِلِيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ. ولايَزَالُ عَبْدِيْ يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِيْ يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِيْ يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِيْ بِهَا. وَلَئِنْ سَأَلَنِيْ لأُعطِيَنَّهُ، وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِيْ لأُعِيْذَنَّهُ. رواه البخاري

Dari Abu Hurairah raḍiyallāhu ‘anhu, beliau berkata, “Rasulullah ṣallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya Allah Ta’ālā berfirman, ‘Barang siapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku mengumandangkan perang dengannya. Tidaklah hamba–Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada hal–hal yang telah Aku wajibkan baginya. Hamba-Ku terus mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan–amalan nāfilah (sunah) hingga Aku mencintainya. Apabila Aku telah mencintainya maka Aku menjadi pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar, Aku menjadi penglihatannya yang dia gunakan untuk melihat, Aku menjadi tangannya yang dia gunakan untuk menggapai dan Aku menjadi kakinya yang dia gunakan untuk melangkah. Jika dia meminta kepada-Ku, Aku pasti memberinya dan jika dia meminta perlindungan kepada-Ku, Aku pasti melindunginya’.” (H.R. al-Bukhari).

Di dalam hadis ini, Allah memberikan ultimatum yang sangat tegas bahwa siapa saja yang memusuhi wali-Nya, akan berperang dengan-Nya. Siapakah yang akan menang bila berperang dengan Tuhan semesta alam? Hadis ini menunjukkan wajibnya seorang muslim memberikan loyalitas kepada wali Allah dan tidak memusuhinya. Dipahami pula dari hadis ini tentang wajibnya memusuhi musuh-musuh Allah dan tidak loyal kepada mereka. Allah subḥānahu wa ta’ālā berfirman,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّخِذُوا الَّذِيْنَ اتَّخَذُوْا دِيْنَكُمْ هُزُوًا وَّلَعِبًا مِّنَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَالْكُفَّارَ اَوْلِيَاۤءَۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan orang-orang yang menjadikan agamamu bahan ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab suci sebelummu dan orang-orang kafir, sebagai teman setia (mu). Bertakwalah kepada Allah jika kamu orang-orang mukmin.” (Q.S. al-Ma`idah : 57)

Allah juga berfirman,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّخِذُوْا عَدُوِّيْ وَعَدُوَّكُمْ اَوْلِيَاۤءَ

“Wahai orang-orang yang beriman. Janganlah kamu menjadikan musuh-Ku dan musuhmu sebagai (wali) teman setia.” (Q.S. al-Mumtahanah : 1)

Namun, siapakah wali Allah itu?

Yang paling baik menjelaskan sebuah ucapan adalah orang yang mengucapkan ucapan tersebut. Firman Allah dalam hadis qudsi ini dijelaskan dalam firman-Nya di dalam Al-Qur’an. Allah berfirman,

اَلَآ اِنَّ اَوْلِيَاۤءَ اللّٰهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَۚ اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَكَانُوْا يَتَّقُوْنَۗ لَهُمُ الْبُشْرٰى فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَفِى الْاٰخِرَةِۗ لَا تَبْدِيْلَ لِكَلِمٰتِ اللّٰهِ ۗذٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُۗ

“Ketahuilah bahwa sesungguhnya (bagi) para wali Allah itu tidak ada rasa takut yang menimpa mereka dan mereka pun tidak bersedih. (Mereka adalah) orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (ketetapan dan janji) Allah. Demikian itulah kemenangan yang agung.” (Q.S. Yunus : 62-64).

Rasulullah ṣallallāhu ‘alayhi wa sallam pun menjelaskan jalur utama bagi seorang hamba agar memperoleh predikat wali Allah. Beliau menjelaskan bahwa jalur tercepat untuk mendekatkan seorang hamba kepada Allah ialah dengan mengerjakan segala hal yang diwajibkan oleh Allah. Ibnu Rajab mengatakan, “Asal dari loyalitas (sifat wali) adalah kedekatan. Sedangkan asal dari pada permusuhan adalah kerenggangan. Wali-wali Allah ialah mereka yang mendekat kepada-Nya dengan perkara yang dapat mendekatkan mereka kepada Allah sedangkan musuh-musuh Allah ialah orang-orang yang Allah jauhkan dengan amalan-amalan yang berkonsekuensi dapat menjauhkan mereka dari Allah.”[1]

Wali-wali Allah dibagi oleh Ibnu Rajab menjadi dua bagian, yaitu:

  1. Orang-orang yang didekatkan Allah kepada-Nya dengan menunaikan amalan wajib.
  2. Orang-orang yang didekatkan Allah kepada-Nya dengan menunaikan amalan nāfilah, yakni amalan sunah. Mereka inilah yang sering disebut sebagai albiqūn.

Allah berfirman,

وَالسّٰبِقُوْنَ السّٰبِقُوْنَۙ اُولٰۤىِٕكَ الْمُقَرَّبُوْنَۚ

“… Orang-orang yang paling dahulu (beriman). Merekalah yang paling dahulu (masuk surga). Mereka itulah orang-orang yang didekatkan (kepada Allah).” (Q.S. al-Wāqi’ah : 10-11)

Siapa saja yang berusaha keras untuk mendekatkan diri kepada Allah, mengerjakan amalan wajib, lalu mengerjakan amalan sunah, Allah pasti akan mendekatkan ia dengan-Nya. Allah pun akan mengangkatnya menuju derajat ihsan setelah sebelumnya ia berada dalam derajat iman.

Ketika seorang hamba sudah dimuliakan oleh Allah untuk sampai pada cinta-Nya, Dia berfirman, “Apabila Aku menjadi pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar, Aku menjadi penglihatannya yang dia gunakan untuk melihat, Aku menjadi tangannya yang dia gunakan untuk menggapai dan Aku menjadi kakinya yang dia gunakan untuk melangkah.” Maksudnya ialah ia tidak mendengar kecuali apa yang diperkenan syariat, tidak melihat kecuali yang dibolehkan dalam syariat, tidak menggapai sesuatu kecuali telah diizinkan oleh syariat, tidak berjalan dengan kakinya kecuali ke tempat yang diperkenankan oleh syariat.[2] Segala tingkah laku dan ucapannya berada dalam koridor syariat karena di sanalah terdapat rida dan cinta Allah.

Bukan hanya itu, Allah pun menambahkan kekhususan bagi wali-Nya, dengan berfirman, “Jika dia meminta kepada-Ku, Aku pasti memberinya dan jika dia meminta perlindungan kepada-Ku, Aku pasti melindunginya.”

Jika seorang manusia mencintai orang lain, ia rela melakukan apa saja untuk memenuhi keinginan dan harapan orang yang dicintainya. Bagaimana jika seseorang telah meraih cinta Allah? Pemberian seperti apa yang akan diberi oleh zat yang kekayaan-Nya meliputi langit dan bumi, kuasa-Nya tak terhingga, dan kehendak-Nya tak terbatasi oleh apapun?

Tanah milik Anas bin Malik di kota Basrah pernah mengalami kekeringan. Anas pun berwudu dan pergi menuju tanah lapang, lantas beliau pun salat dua rakaat lalu beliau berdoa. Seketika itu, hujan datang membasahi tanah beliau, namun anehnya hujan tersebut tidak keluar dari batas tanah beliau.[3]

Suat ketika Ṣilah bin Asyyam berjalan bersama sekelompok pasukan. Tiba-tiba bagal yang dikendarai oleh beliau hilang beserta muatan yang dipikulnya. Pasukan pun sudah beranjak meninggalkan lokasi. Beliau pun berdiri melaksanakan salat seraya berdoa, “Ya Allah, saya bersumpah atas nama-Mu agar engkau mengembalikan kepadaku bagal dan muatannya.” Bagal beliau pun kembali ke hadapan beliau.[4]

Suatu ketika beliau juga pernah berada di padang pasir yang luas. Beliau pun lapar. Beliau lalu meminta kepada Allah agar diberi makan. Seketika itu, beliau mendengar ada suara benda terjatuh di belakang beliau. Ternyata itu adalah wadah makanan yang dibungkus dengan kain. Di dalamnya terdapat kurma ruab yang segar. Beliau pun memakannya dan kain itu disimpan oleh isteri beliau, Muażah al-Adawiyah, seorang wanita salehah.[5]

Muhammad bin al-Munkadir pernah ikut serta sebuah peperangan. Ada salah seorang sahabat beliau berkata, “Saya ingin makan keju dan kurma ruab.” Ibnu al-Munkadir berkata, “Mintalah kepada Allah, niscaya Allah akan memberi. Sesungguhnya Allah itu kuasa.” Mereka pun berdoa kepada Allah. Tidak jauh mereka berjalan, tiba-tiba mereka mendapati bejana yang dijahit. Di dalamnya terdapat keju dan kurma ruab. Tiba-tiba sebagian orang berangan-angan agar sekiranya ada madu juga. Ibnu Al-Munkadir pun berkata, “Dia yang memberi kalian keju dan ruab di sini, berkuasa memberi kalian madu, maka mintalah pada-Nya!” Mereka pun lantas berdoa kepada Allah, lalu melanjutkan perjalanan. Tiba-tiba mereka mendapati wadah berisi madu di jalan. Mereka pun singgah dan memakannya.[6]


Footnote:

[1] mi’ al-‘Ulūm wa al-Ḥikam hal. 730.

[2] Syarḥ al-Arba’in al-Nawawiyah yang dinisbatkan kepada Ibnu Daqīq al-Īd hal. 166.

[3] Lihat: al-Ṭabaqāt karya Ibn Sa’d (7/15).

[4] Lihat: Mujab al-Da’wah karya Ibnu Abi al-Dunya hal. 55.

[5] Idem hal. 55.

[6] Idem hal. 67.

image_pdfUnduh PDF
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments