SIFAT-SIFAT YANG DICINTAI ALLAH AZZA WAJALLA

426
SIFAT YANG DICINTAI ALLAH
Perkiraan waktu baca: 8 menit
image_pdfUnduh PDF

REDAKSI HADIS:

عَنْ سَعْدِ بن أَبي وَقَّاص رضي الله عنه قَالَ : سَمِعْتُ رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: إنَّ الله يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِيَّ الغَنِيّ الْخَفِيَّ.

Dari Saad bin Abi Waqqash radiyallahu ‘anhu, dia berkata,  “Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Sesungguhnya Allah mencintai seorang hamba yang bertakwa, merasa cukup dengan pemberian Allah azza wa jalla dan tersembunyi’.”

TAKHRIJ HADIS:

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad (1441) dan Imam Muslim (2965) dari jalur Bukair bin Mismar, dari ‘Amir bin Sa’ad bin Abi Waqqash, dari Sa’ad bin Abi Waqqash radiyallahu ‘anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Di antara keunikan yang menghiasi sanad ini adalah:

  • Tiga perawi di atas berasal dari satu kota, yaitu Madinah al-Nabawiyah, bahkan berasal dari satu kabilah yaitu bani Zuhrah.
  • Periwayatan seorang anak yaitu ‘Amir bin Sa’ad bin Abi Waqqash, dari ayahnya, sahabat yang mulia, Sa’ad bin Abi Waqqash.

PROFIL SAHABAT:

Saad bin Malik Abu Waqqash bin Wuhaib bin Abdimanaf al-Qurasyi al-Zuhri al-Madani memiliki keutamaan yang banyak.  Di antaranya beliau adalah orang yang pertama kali membidikkan anak panah di jalan Allah, penakluk Qadisiyah pada zaman khalifah Umar bin Khattab, memiliki  doa yang mustajab, dan puncaknya, beliau adalah satu di antara sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau beruzlah (hidup mengasingkan diri dan menyepi) ketika terjadi fitnah pembunuhan khalifah Utsman bin Affan radiyallahu ‘anhu. Para ulama berselisih terkait tahun wafatnya, namun yang populer, beliau wafat pada tahun 55 H menurut Ibnu Hajar al-Asqalani .[1]

PENJELASAN HADIS:

Sa’ad bin Abi Waqqash radiyallahu ‘anhu mendengarkan hadis ini secara langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau mengucapkan hadis ini ketika datang kepadanya seorang putranya yaitu Umar bin Sa’ad bin Abi Waqqash, dan kisahnya diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Imam Muslim,

عَنْ عَامِرِ بْنِ سَعْدٍ، أَنَّ أَخَاهُ عُمَرَ انْطَلَقَ إِلَى سَعْدٍ فِي غَنَمٍ لَهُ، خَارِجًا مِنَ الْمَدِينَةِ، فَلَمَّا رَآهُ سَعْدٌ قَالَ: أَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شَرِّ هَذَا الرَّاكِبِ . فَلَمَّا أَتَاهُ قَالَ: يَا أَبَتِ أَرَضِيتَ أَنْ تَكُونَ أَعْرَابِيًّا فِي غَنَمِكَ، وَالنَّاسُ يَتَنَازَعُونَ فِي الْمُلْكِ بِالْمَدِينَةِ ؟ فَضَرَبَ سَعْدٌ صَدْرَ عُمَرَ، وَقَالَ: اسْكُتْ إنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِيَّ الْغَنِيَّ الْخَفِيّ.

“Dari ‘Amir bin Sa’ad, ia berkata bahwa saudaranya ‘Umar bin Sa’ad mengunjungi ayahnya, Sa’ad bin Abi Waqqash, yang sedang menggembala kambingnya di pedalaman kabilah Arab, dia datang dari Madinah. Ketika Sa’ad bin Abi Waqqash melihat putranya, beliau mengatakan, ‘Saya berlindung kepada Allah dari keburukan orang yang berkendara ini (menunggang kuda atau unta)’. Ketika putranya mendatanginya, ia berkata, ‘Wahai Ayahku, apakah engkau rela menjadi seorang Arab Badui di tengah kambing-kambingmu (menggembala kambing), sedangkan manusia berebut tahta dan pangkat di kota Madinah?’ Sa’ad bin Abi Waqqash memukul dada ‘Umar –putranya- sambil mengatakan, ‘Diamlah, sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Sesungguhnya Allah mencinta seorang hamba yang bertakwa, merasa cukup dengan pemberian Allah azza wa jalla dan tersembunyi’.”

  • Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إنَّ الله يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِيَّ

“Sesungguhnya Allah mencinta seorang hamba yang bertakwa.”

Kalimat “inna” di dalam bahasa Arab berfungsi untuk penegasan. Redaksi hadis ini mengonfirmasikan kecintaan Allah kepada tiga golongan yang disebutkan dalam hadis ini.

Hadis ini menetapkan sifat cinta bagi Allah azza wa jalla. Yang dimaksud dengan cinta di sini adalah cinta yang hakiki, yang sepadan dengan keagungan dan kemahabesaran Allah subhanahu wata’ala, dan berbeda dengan sifat makhluk. Allah berfirman,

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِير

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia yang Maha Mendengar, Maha Melihat.” (Surah al-Syura: 11)

Dan juga secara logika, zat Allah berbeda dengan zat makhluk, maka  konsekuensinya adalah sifat Allah pasti berbeda dengan sifat makhluk-Nya.

Adapun memaknai cinta dengan menganugerahkan kenikmatan, rahmat dan pahala bagi hamba, interpretasi ini bukan makna yang hakiki bagi cinta, tetapi merupakan konsekuensi dari sifat cinta.

Di antara orang yang dicintai oleh Allah adalah al-taqi atau orang yang bertakwa. Cukup banyak interpretasi para ulama terkait dengan istilah ini, namun yang paling menonjol adalah ucapan Thalq bin Habib rahimahullah, “Melaksanakan ketaatan kepada Allah, dengan mengharap pahala dari Allah, berdasarkan cahaya dari Allah, dan meninggalkan maksiat kepada Allah, karena khawatir siksaan dari Allah, berdasarkan cahaya dari Allah.”[2]

Jadi, inti dari takwa adalah membangun penghalang antara hamba dengan azab, kemarahan dan kemurkaan Allah azza wajalla agar terhindar darinya, dan penghalang itu adalah mengerjakan perintah-perintah-Nya, dan meninggalkan larangan-larangan-Nya.[3]

Ada hal yang krusial yang diisyaratkan oleh Ibnu Rajab al-Hambali terkait masalah takwa ini, yaitu kewajiban membangun ketakwaan di atas pijakan ilmu syar’i. Maksudnya adalah pondasi dari amalan orang yang bertakwa adalah ilmu agama, bukan hanya sekedar motivasi tinggi dan perasaan cinta belaka. Bakr bin Khunais rahimahullah mengatakan,

كَيْفَ يَكُوْنُ مُتَّقِيًا مَنْ لَا يَدْرِيْ مَا يَتَّقِي

“Bagaimana seseorang menjadi bertakwa sedangkan ia tidak mengetahui perkara yang harus dihindari.”[4]

Demikian halnya dengan mengerjakan perintah Allah, seorang yang bertakwa hendaknya juga membangun Ibadah dan amalan-amalannya di atas pondasi ilmu syar’i pula, agar dapat melaksanakannya dengan baik dan benar.

Dan hal ini nampaknya juga di isyaratkan oleh Thalq bin Habib rahimahullah melalui ucapannya, “Di atas cahaya dari Allah”. Di antara makna cahaya dari Allah adalah ilmu dari Allah.

  • Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الغَنِيّ

“yang kaya.”

Kalimat ini memiliki dua interpretasi, yaitu:

Pertama, makna hakiki, yaitu orang yang banyak hartanya[5].

Kaya dalam perspektif ini bisa masuk dalam kategori terpuji dan bisa juga tercela. Termasuk kategori terpuji, jika banyaknya harta dapat mendekatkannya kepada Allah, dan dimanfaatkan untuk berkhidmat di jalan Allah demi menegakkan agama-Nya, serta tidak melalaikannya dari ketaatan kepada-Nya.

Dan menjadi tercela jika ia lebih mencintai dan lebih mengutamakan hartanya dibandingkan ketaatan kepada Allah, sehingga “diperbudak” oleh hartanya,  menjadi tamak dan rakus terhadap kenikmatan dunia, sehingga melalaikannya dari kehidupan akhirat.

Banyak di kalangan sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang konglomerat dan pedagang yang kaya raya, seperi Utsman bin Affan, Abdurrahman bin ‘Auf, Abu Bakar al-Shiddiq, Thalhah bin ‘Ubaidillah, bahkan isteri beliau Khadijah merupakan seorang wanita Quraisy yang tajir radiyallahu ‘anhum jami’an, namun semua sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat populer dengan kedermawanan dan pengorbanan dengan harta mereka di jalan Allah, karena harta mereka hanya berada di tangan dan tidak singgah di hati mereka, sehingga kekayaan itu menjadi “budak-budak” bagi mereka untuk “dipekerjakan” pada jalan-jalan kebaikan.

Kedua, makna syar’i, yaitu kaya hati atau orang yang berjiwa kanaah, yaitu merasa cukup dan rela menerima rezeki yang Allah anugerahkan kepadanya, hal ini sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah[6],

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Orang kaya itu bukan yang banyak hartanya, namun orang kaya adalah yang kaya hatinya.”[7]

Hal ini adalah kekayaan yang terpuji secara mutlak, sebab syariat merekomendasikan kaya jenis ini sebagaimana dipaparkan oleh hadis Nabi di atas. Kekayaan jenis ini bersumber dari ketakwaan hati, rida dan berserah diri atas takdir yang telah ditetapkan oleh Allah baginya. Konsekuensi dari sifat ini sangat luar biasa yaitu mewariskan sikap merasa cukup, rela dan puas dengan rezeki yang dianugerahkan oleh Allah azza wajalla, dan bersikap tidak tamak terhadapnya. Sifat ini biasanya populer dengan istilah kanaa.[8]Inilah kekayaan yang sejati[9].

Bahkan Imam Syafi’i menyamakan orang berhias dengan sifat ini dengan seorang Raja. Beliau mengatakan,

إِذَا مَا كُنْتَ ذَا قَلْبٍ قَنُوْعٍ       أَنْتَ وَمَالِكُ الدُّنْيَا سَوَاءٌ

“Jika engkau memiliki hati yang kanaah (merasa rida dan cukup dengan kenikmatan yang Allah anugerahkan), maka engkau sama dengan raja dunia.”

  • Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الخَفِيَّ

“yang tersembunyi”.

Lafaz ini datang dengan dua redaksi, dengan huruf kha’ ( خ ) sebagaimana redaksi dalam hadis ini, dan dengan huruf ha  ( ح ) tanpa titik ( الحَفِيُّ ).

Adapun maknanya, ada lima versi, yaitu:

Pertama, orang yang bersembunyi, menjauhkan diri dari khalayak dan berusaha untuk tidak dikenal, serta fokus untuk beribadah kepada Allah dan menyibukkan diri dengan perkara yang membawa manfaat bagi akhiratnya.[10]

Kedua, orang yang menyembunyikan amalannya atau beramal dengan sembunyi-sembunyi, sehingga tidak ada yang mengetahui amalannya tersebut kecuali dirinya dan Allah azza wajalla. Hal ini termasuk sifat yang terpuji, sebagaimana diisyaratkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya,

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ تَعَالَى فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ …وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ..

“Tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah ta’ala di bawah naungan-Nya (pada hari kiamat)… salah satunya: seorang laki-laki yang bersedekah, kemudian merahasiakan amalan tersebut sampai tangan kirinya tidak mengetahui yang disedekahkan oleh tangan kirinya.”[11]

Imam al-Bukhari membuat sebuah bab di dalam Shahih-nya, Bab “Sedekah Secara Rahasia”. Para ulama salaf sangat gemar dengan sifat ini, bahkan mereka sangat menganjur sifat ini. Zubair bin Awwam mengatakan,

مَنِ اسْتَطَاعَ أن تَكُوْنَ لَهُ خَبِيْئَةٌ مِنْ عَمَلٍ صَالِحٍ فَلْيَفْعَلْ

“Siapa yang mampu memiliki amal salih yang rahasia, maka hendaknya ia melakukannya.”[12]

Abdullah bin Dawud al-Khuraibi mengatakan,

كَانُوا يَسْتَحِبُّوْنَ أَن يَكُوْنَ لِلرَّجُلِ خَبِيْئَةٌ مِنْ عَمَلٍ صَالِحٍ لَا تَعْلَمُ بِهِ زَوْجَتُهُ وَلَا غَيْرُهَا

“Para ulama salaf menyukai jika seseorang memiliki amalan yang tersembunyi yang tidak diketahui istrinya dan orang lain.”[13]

Ketiga, orang yang berusaha untuk menyembunyikan kefakirannya[14].  Maknanya adalah sifat sebagian ulama salaf yang diisyaratkan Allah dalam firman-Nya,

لِلْفُقَرَاءِ الَّذِينَ أُحْصِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ لَا يَسْتَطِيعُونَ ضَرْبًا فِي الْأَرْضِ يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاءَ مِنَ التَّعَفُّفِ تَعْرِفُهُمْ بِسِيمَاهُمْ لَا يَسْأَلُونَ النَّاسَ إِلْحَافًا

“(Apa yang kamu infakkan) adalah untuk orang-orang fakir yang terhalang (usahanya karena jihad) di jalan Allah, sehingga dia tidak bisa berusaha di bumi. orang yang bodoh menduga bahwa mereka adalah orang-orang kayak arena mereka menjaga diri (dari meminta-minta), engkau (Muhammad) mengenal mereka dengan cirri-cirinya, mereka tidak meminta secara paksa kepada manusia.” (Surah al-Baqarah: 273)

Keempat, bermakna ulama atau orang yang berilm.[15] Makna ini diambil dari lafaz   ( حَفِيٌّ ), sebagaimana firman Allah,

…يَسْأَلُونَكَ كَأَنَّكَ حَفِيٌّ عَنْهَا قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللَّهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“Mereka bertanya kepadamu (tentang kiamat) seakan-akan engkau mengetahuinya, katakanlah wahai Muhammad; sesungguhnya pengetahuan tentang hari kiamat itu ada pada Allah azza wajalla, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Surah al-A’raf: 187)

Kelima, orang yang menyambung silaturahminya, bersikap lembut kepada keluarganya dan orang lain, dan suka membantu mereka dengan memenuhi kebutuhan mereka. Makna ini juga diambil dari lafaz (الحفي ).n [16]

Secara garis besar hadis ini memiliki dua makna global,

  • Allah azza wajalla mencintai orang yang bertakwa, yang bersifat kanaah, dan yang tersembunyi dari manusia, sebab dia beruzlah untuk menjauhkan diri dari fitnah agama (syubhat) maupun fitnah dunia (syahwat). Makna inilah yang dipahami dan ingin direalisasikan oleh sahabat yang Sa’ad bin Abi Waqqash radiyallahu ‘anhu. Hal ini dapat dipahami setelah menelisik sababul wurud (latar belakang periwayatan hadis ini), yang mana beliau ingin menghindarkan diri dari fitnah agama (syubhat) dan fitnah dunia (syahwat) sampai beliau rela hidup di pedalaman suku Arab Badui, dan menyibukkan sebagai penggembala kambing.
  • Allah azza wajalla mencintai orang yang bertakwa, yang banyak hartanya dan kaya raya, dan ia gemar bersedekah di jalan Allah dengan rahasia dan sembunyi-sembunyi.

FIKIH HADIS:

  • Hadis ini menetapkan salah satu sifat Allah azza wajalla, yaitu cinta.
  • Hadis ini menetapkan bahwa Allah mencintai orang-orang yang berhias dengan sifat takwa, kanaah, dan tersembunyi atau mencintai orang yang bertakwa, kaya harta, dan memanfaatkan hartanya untuk disedekahkan di jalan Allah dengan rahasia.
  • Hadis di atas menetapkan bahwa Allah mengumandangkan cinta-Nya kepada orang yang bersifat dengan sifat-sifat di atas. Sebagai seorang muslim yang cerdas, sebaiknya tidak hanya menyibukkan diri dengan mengungkapkan cintanya kepada Allah secara lisan semata, namun hendaknya mengupayakan untuk berhias dengan sifat-sifat yang secara gamblang dicintai oleh Allah ta’ala sebagaimana yang tercantum di dalam hadis di atas. Ibnu Katsir rahimahullah mengutip pernyataan para ulama di dalam tafsirnya,

لَيْسَ الشَّأْنُ أَنْ تُحِبَّ، إِنَّمَا الشَّأْنُ أَنْ تُحَبَّ

“Yang penting bukan bagaimana engkau mencintai, namun yang terpenting adalah bagaimana engkau dicintai.”[17]

  • Sifat-sifat yang disebutkan oleh hadis bukan pembatasan, masih ada sifat-sifat yang lain yang dicintai oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Di antara contohnya; Allah mencintai orang yang sabar, Allah azza wajalla Maha Indah dan mencintai keindahan dan lain sebagainya.
  • Hadis ini adalah bukti tentang benarnya firasat seorang mukmin yang bertakwa, sebab Sa’ad bin Abi Waqqash telah mewanti-wanti putranya, Umar, terkait fitnah dunia (perebutan tahta dan pangkat di Madinah), dan beliau juga telah mengatakan di depannya putranya itu, “Saya berlindung kepada Allah dari keburukan orang yang berkendara ini (menunggang kuda atau unta).” Ketika putranya tidak menggubris peringatan dari Sa’ad, ternyata putranya tersebut memetik buah pahit dari perbuatannya, di mana ‘Umar bin Sa’ad bin Abi Waqqash turut berpartisipasi dalam pasukan yang memerangi cucu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Husain bin ‘Ali, bahkan ‘Umar bin Sa’ad didaulat sebagai panglima salah satu pasukan[18].
  • Hadis ini merupakan dalil bagi praktek uzlah, yaitu mengasingkan diri dan tidak berinteraksi dengan masyarakat, khususnya ketika terjadi fitnah yaitu ujian atau cobaan bagi umat yang dapat menimbulkan dampak negatif bagi kualitas agama seseorang[19].

Footnote:

[1] . Lihat Tahdzibut Tahdzib (3/420), Al-Ishabah fi Tamyiizish Shahabah (3/74-75) dan Taqribut Tahdzib hal. 222.

[2] . Tafsir Ibnu Katsir (1/244).

[3] . Jamiul Ulum wal Hikam hal. 158.

[4] . Idem, hal. 160.

[5] . Syarhun Nawawi ‘Ala Muslim (18/100).

[6] . Idem.

[7] . Shahih al-Bukhari (6446), dan Shahih Muslim (1051).

[8] . Imam An-Nawawi memberi bab bagi hadis ini dengan;”bab keutamaan kanaah, dan motivasi untuk bersifat dengannya”. Lihat Sayahun Nawawi ‘Ala Muslim (7/140).

[9] . Lihat Syarhun Nawawi ‘Ala Muslim (7/140), dan Tuhfatul Ahwadzi (7/35-36) dengan sedikit modifikasi.

[10] . Idem (18/100).

[11] . Shahih Al-Bukhari (1423), dan Shahih Muslim (1031).

[12] . Kitab Az-Zuhd karya Abu Dawud, hal. 122.

[13] . Tahdzibul Kamal (14/464).

[14] . Al-Ifshah karya Ibnul Hubairah (1/350).

[15] . Al-Mufhim, karya Al-Qurthubi (7/120).

[16] . Syarhun Nawawi ‘Ala Muslim (18/100-101), dan Lihat Musnad Ahmad (3/52) di footnote.

[17] . Tafsir Ibnu Katsir (2/32).

[18] . Al-Ifshah (1/350).

[19] . Syarhun Nawawi ‘Ala Muslim (18/101).

image_pdfUnduh PDF
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments