SIFAT MALU DALAM TINJAUAN HADIS

539
Perkiraan waktu baca: 2 menit
image_pdfUnduh PDF

Sifat malu merupakan salah satu sifat terpuji yang memilki banyak keutamaan. Kendatipun sifat ini identik dengan kaum hawa, namun bukan berarti kaum adam menjauhi sifat ini. Justru ia merupakan di antara sifat mulia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan pada diri beliaulah suri teladan itu disematkan. Allah Ta’ala berfirman,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا – سورة الأحزاب:21

“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan (bagimu) yaitu bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan datangnya hari kiamat serta banyak mengingat Allah.” (Surah al-Ahzab: 21)

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الخُدْرِيِّ رضي الله عنه، قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَشَدَّ حَيَاءً مِنَ العَذْرَاءِ فِي خِدْرِهَا

Abu Sa’id al-Khudriy radhiallahu ‘anhu, salah seorang sahabat Rasulullah, pernah mengabarkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lebih pemalu dari seorang anak gadis yang dipingit di dalam kamarnya (H.R. Bukhari no. 3562 dan Muslim no. 3230).

Oleh karenanya,  sudah sepatutnya para pengikut beliau berhias dengan sifat yang mulia ini.

Di antara keutamaan sifat malu yang disebutkan dalam hadis-hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah:

Pertama, sifat malu adalah bagian dari cabang keimanan.

Rasullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ .  وفي رواية مسلم : بضع وسبعون شعبة

“Iman itu memiliki lebih dari enam puluh cabang, dan malu adalah bagian dari cabang keimanan.” (H.R. Bukhari no. 6) Dalam riwayat muslim disebutkan,  “lebih dari tujuh puluh cabang… .” (HR. Muslim no. 35)

Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berjalan melewati salah seorang sahabat dari kalangan Anshar yang ketika itu sedang memberi nasehat kepada saudaranya tentang malu. Tatkala Rasulullah mendengarnya, beliau berkata kepadanya, “Biarkanlah ia (dengan sifat malunya itu) karena sesungguhnya malu itu bagian dari iman.” (H.R. Bukhari no. 42 dan Muslim no. 36, dan selainnya)

Dalam kesempatan yang lain,Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الْحَيَاءُ مِنَ الْإِيمَانِ ، وَالْإِيمَانُ فِي الْجَنَّةِ ، وَالْبَذَاءُ مِنَ الْجَفَاءِ ، وَالْجَفَاءُ فِي النَّارِ

“Sifat malu adalah bagian dari iman, sedangkan iman itu tempatnya di Surga. Sebaliknya,  perkataan yang keji itu itu berasal dari watak dan perangai yang keras, sedangkan kekerasan tempatnya di neraka.” (H.R.Tirmidzi no. 2009, Ibnu Majah no. 4184 dan Ahmad no. 10661)

Kedua, sifat malu hanya mendatangkan kebaikan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الْحَيَاءُ لَا يَأْتِي إِلَّا بِخَيْرٍ

“Sifat malu itu tidak mendatangkan kecuali kebaikan.” (H.R. Bukhari no. 6117 dan Muslim no. 38)

Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana dalam Sunan Abi Daud menyifati sifat malu tersebut sebagai sifat yang semua jenis kebaikan terkandung di dalamnya.

Ketiga, sifat malu di antara sifat yang dicintai Allah Ta’ala.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ حَلِيمٌ حَيِيٌّ سِتِّيرٌ يُحِبُّ الْحَيَاءَ وَالسِّتْرَ ، فَإِذَا اغْتَسَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَتِرْ .

“Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla Maha Pemurah, Maha Malu dan Maha Tertutup, serta cinta terhada rasa malu, maka apabila salah seorang di antara kalian mandi, hendaklah ia menutup dirinya.” (H.R. An-Nasai, 1/404)

Keempat, Sifat malu menghiasi segala sesuatu.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَا كَانَ الْفُحْشُ فِي شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ ، وَمَا كَانَ الْحَيَاءُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ

“Tidaklah sifat buruk berada dalam sesuatu kecuali akan memperburuknya, dan tidaklah sifat malu berada pada sesuatu kecuali akan menghiasinya.” (H.R.Tirmidzi no. 1974, Ibnu Majah no. 4185 dan Ahmad no. 12886)

Kelima, sifat malu adalah perangai dan karakter Islam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إن لِكُلِّ دِينٍ خُلُقاً ، وَإن خُلُقَ الْإِسْلَامِ الْحَيَاءُ

“Sesungguhnya setiap agama itu memiliki akhlak,dan akhlak islam itu adalah sifat malu.” (H.R. Ibnu Majah no. 4181)

Adapun di antara perkataan salaf tentang sifat malu, yaitu:

  1. Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu berkata,

 مَن قلَّ حياؤه قلَّ ورعه، ومَن قلَّ ورعه مات قلبه

“Barangsiapa yang sedikit sifat malunya, maka sedikit pula sifat waraknya. Dan barangsiapa yang sedikit sifat waraknya, maka hatinya akan mati.”

2.  Fudhail bin Iyadh rahimahullah dalam kitab Syuabul Iman berkata,

خمسٌ مِن علامات الشَّقاوة: القسوة في القلب، وجمود العين، وقلَّة الحَيَاء، والرَّغبة في الدُّنْيا، وطول الأمل

“Lima tanda kesengsaraan, yaitu kerasnya hati, keringnya air mata, sedikitnya rasa malu, terlalu berambisi terhadap dunia dan panjang angan-angan.”

3.  Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitabnya Madaariju al-Saalikin berkata,

حياة القلب يكون فيه قوَّة خُلُق الحَيَاء، وقلَّة الحَيَاء مِن موت القلب والرُّوح، فكلَّما كان القلب أحيى كان الحَيَاء أتم.

“Hidupnya sebuah hati tergantung bagaimana kuatnya rasa malu di dalamnya, dan sedikitnya rasa malu disebabkan matinya hati dan ruh. Semakin hati seseorang hidup maka semakin sempurnalah rasa malu dalam dirinya.”

Demikianlah di antara keutamaan sifat malu yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan juga beberapa perkataan salaf tentang sifat dan rasa malu. Semoga Allah Ta’ala senantiasa menghiasi diri kita dengan sifat yang terpuji ini.

image_pdfUnduh PDF
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments