PERMISALAN TENTANG MEMILIH KAWAN

249
Perkiraan waktu baca: 2 menit
image_pdfUnduh PDF

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (Q.S. al-Taubah: 119)

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا.

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya. Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (Q.S. al-Kahfi: 28)

عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَثَلُ الجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ، كَحَامِلِ المِسْكِ وَنَافِخِ الكِيرِ، فَحَامِلُ المِسْكِ: إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الكِيرِ: إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً

Dari Abu Musa al-Asy’ary radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Seorang penjual minyak wangi mungkin memberimu minyak wanginya, atau engkau dapat membeli darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan seorang pandai besi, bisa jadi percikan apinya membakar pakaianmu, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tidak sedap.”[1]

⁕⁕⁕

Apabila aturan-aturan agama Islam hendak dipilah-pilah, akan kita dapati bahwa syariat Islam lebih banyak dan lebih terperinci dalam mengatur kepribadian seorang muslim secara individual dibandingkan hubungan kolektif sesama kaum muslimin dan atau manusia secara umum yang justru dijelaskan dengan nas-nas syar’i yang lebih universal. Di antara nas tersebut adalah hadis Abu Musa di atas yang menjelaskan urgensi memilih teman yang baik dalam pergaulan kita.

Anjuran untuk selektif dalam memilih kawan hendaknya ditanamkan sejak kecil kepada anak dan keluarga kita. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”[2]

Hari ini, lingkungan telah mengambil peran yang paling besar dalam pembentukan pola kehidupan individual manusia yang akan berimbas pada baik-buruk dan maju-mundurnya sebuah peradaban. Tidak hanya untuk manfaat dunia semata, namun lingkungan juga dapat menjadi sebab kebahagiaan seseorang di akhirat atau pangkal penyesalannya yang tak berujung. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَالَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا. يَاوَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا. لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا

“Dan ingatlah hari ketika orang yang zalim menggigit kedua tangannya seraya berkata, ‘Aduhai celaka, kiranya dulu aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku, kiranya aku dulu tidak menjadikan si fulan sebagai teman akrabku. Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur’an ketika Al-Qur’an itu telah datang kepadaku dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia’.”[3]     

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memisalkan pertemanan dengan orang yang baik ibarat berteman dengan seorang penjual minyak wangi yang akan mendatangkan kebaikan. Bisa jadi dengan diberikan hadiah olehnya, atau membeli darinya. Dan paling minimal duduk bergaul bersamanya dapat memberikan wangi yang harum. Sedangkan berteman dengan orang yang buruk ibarat bergaul dengan pandai besi yang akan mendatangkan keburukan pula. Bisa jadi pakaian terbakar oleh percikan apinya, atau paling tidak duduk bersamanya dapat memberikan bau yang tak sedap.

Imam al-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa hadis di atas menunjukan keutamaan berkawan dengan orang-orang yang saleh dan baik akhlak budi pekertinya, memiliki sifat warak, berilmu, dan beradab. Sekaligus juga menunjukan larangan berkawan dengan orang-orang yang buruk, ahli bidah, ahli ghibah, dan mereka yang memiliki sifat-sifat tercela lainnya.[4]

Jika kebaikan dan keburukan dapat menular disebabkan pertemanan yang dimiliki, sudah sepantasnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kita untuk memilih kawan yang baik dan saleh, yang mengajarkan hal-hal yang bermanfaat, memberikan nasihat, menjaga hak-hak kita, mengingatkan dari perbuatan buruk, serta memotivasi untuk senantiasa beriman dan bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الرجُلُ على دِينِ خَليلِهِ، فلينظر أحدُكُم من يُخالِلُ

“Agama seseorang sesuai dengan agama sahabat dekatnya, maka hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi sahabat dekatnya.”[5]


Footnote:

[1] H.R. Bukhari nomor 5534 dan Muslim nomor 2628.

[2] Q.S. Al-Tahrim ayat 6.

[3] Q.S. Al-Furqan ayat 27-29. 

[4] Al-Minhaj, 16/178.

[5] H.R. Abu Dawud nomor 4833 dan al-Tirmidzy nomor 2378, dihasankan Syekh al-Albany dalam Shahih Jami’ Shagir nomor 3545.

image_pdfUnduh PDF
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments