HUKUM PENGGUNAAN BEJANA EMAS DAN PERAK

292
Perkiraan waktu baca: 3 menit
image_pdfUnduh PDF

عَن الْبَراءِ قَالَ: أَمَرَنَا النَّبِيُّ اللهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِسَبْعٍ، وَنَهَانَا عَنْ سَبْعٍ، أَمَرَنَا بِاتِّبَاعِ الجَنَائِزِ، وعِيَادَةِ المـَرِيضِ، وَإجَابَةِ الدَّاعِي، وَنَصْرِ المـَظْلُومِ، وإبْرارِ القَسَمِ، ورَدِّ السَّلَام، وتَشْمِيتِ العَاطِسِ، وَنَهَانَا عَنْ آنِيَةِ الفِضَّةِ، وَخَاتِمِ الذَّهَبِ، وَالحَرِيْرِ، والدِّيْبَاجِ، والقَسِّيِّ، والإستَبْرَقِ. مُتَّفقٌ عَلَيْهِ، وَهَذَا لَفْظُ البُخَارِيِّ، وَفِي لَفْظِ مُسْلِمٍ: وَعَنْ شُرْبِ بِالْفِضَّةِ

Al-Baraa’ radhiyallahu anhu berkata, “Nabi ﷺ memerintahkan kami tujuh perkara dan melarang kami tujuh perkara; beliau memerintahkan kami untuk mengurus jenazah, menjenguk orang sakit, memenuhi undangan, menolong orang yang terzalimi, menunaikan sumpah, menjawab salam, mendoakan orang yang bersin. Beliau melarang kami dari (menggunakan) bejana perak, cincin emas, sutra, pakaian berbahan sutra, pakaian dengan campuran bahan sutra, sutra yang tebal.” (Muttafaqun Alaihi)

Pada lafal Imam Muslim, “Dari minum dengan bejana perak.”[1]

Kosa kata hadis:

  1. Rawi hadis adalah al-Baraa’ bin ‘Azib bin al-Harits. Kun-yah beliau adalah Abu ‘Amarah. Ayah beliau juga sahabat Nabi Muhammad ﷺ. Beliau wafat pada tahun 71 hijriah di Kufah pada masa pemerintahan Mus’ab bin al-Zubair Rahimahullah.[2] Beliau pernah berkata, “Tidak semua hadis yang kami riwayatkan kepada kalian langsung kami dengar dari Rasulullah ﷺ. Sebagiannya kami riwayatkan dari sahabat kami (sahabat Nabi yang lain) karena dulu kami juga memiliki kesibukan menggembala unta.”[3]
  2. Ibraarul Qasam (إبْرارِ القَسَمِ) maknanya adalah jika seseorang (sebagai pihak pertama) bersumpah dengan nama atau sifat Allah Ta’ala atas orang lain (sebagai pihak kedua), mustahab bagi pihak kedua membantu melakukan sumpah tersebut, selama bukan pada perkara yang makruh atau memberatkan pihak kedua tersebut.[4]

Makna hadis:

Nabi Muhammad ﷺ diutus dengan misi untuk menyempurnaan akhlak dan budi pekerti. Oleh karenanya, beliau selalu mengajak kepada akhlak dan amal perbuatan yang mulia, serta melarang dari semua amalan yang tercela.

Hadis ini merangkum amalan-amalan mulia yang diperintahkan, yaitu:

  • Mengurus jenazah yang merupakan hak sesama muslim, pahala bagi yang mengurusnya dan doa bagi mayit.
  • Menjenguk orang sakit untuk melipur hatinya dan mendoakannya.
  • Memenuhi undangan khususnya pada acara walimah adalah sarana mendekatkan hati dan menyucikan jiwa. Tidak menghadiri undangan tersebut dapat berakibat yang sebaliknya.
  • Menolong orang yang terzalimi adalah wujud dari mencegah kemungkaran (nahi mungkar). Ada dua maknanya, yaitu: pertama, menegakkan syariat untuk menciptakan keadilan; kedua, menolong saudara yang Muslim atau membelanya.[5]
  • Ibraarul Qasam (إبْرارِ القَسَمِ), misalnya seseorang mengundang temannya untuk suatu keperluan atau acara dengan bersumpah dengan nama Allah. Jika orang yang diundang tersebut tidak datang, orang yang bersumpah tersebut harus membayar kafarat sumpah. Agar dia tidak harus membayar kafarat,  bagi yang diundang dianjurkan untuk memenuhi undangan tersebut selama tidak memberatkan atau mengandung perbuatan yang terlarang.
  • Menjawab salam dengan yang semisal salam yang diucapkan atau yang lebih baik lagi.
  • Mendoakan orang yang bersin dengan mengucapkan: يَرْحَمُكَ اللهُ (yarhamukallahu), jika orang tersebut mengucapkan: الحَمْدُ للهِ (alhamdulillah) ketika dia bersin.[6]

Sedangkan perbuatan yang dilarang adalah:

  • Menggunakan bejana dari perak untuk minum karena hal tersebut mengindikasikan kesombongan dan Hal ini berlaku untuk laki-laki dan perempuan.
  • Memakai cincin emas diharamkan bagi laki-laki karena menyerupai kebiasaan kaum perempuan dan menafikan kejantanan, padahal ciri khas laki-laki adalah keras dan perkasa.
  • Sutra (الحَرِيرِ) yang dimaksud adalah sutra murni yang berasal dari ulat sutra atau bombyx mori.
  • Pakaian berbahan sutra (الدِّيْبَاجِ).
  • Pakaian dengan campuran bahan sutra (القَسِّيِّ). Nama ini disandarkan pada nama kota di negeri Mesir.
  • Sutra yang tebal (الإستَبْرَقِ). Namanya berasal dari bahasa Persia, kemudian diserap ke dalam bahasa Arab.
  • Yang ketujuh tidak disebutkan dalam hadis ini namun pada riwayat yang lain disebutkan المَيَاثِرِ[7]  (al-mayaatsir) yaitu alas duduk yang terbuat dari sutra.

Poin ketiga hingga poin ketujuh semuanya adalah benda yang terbuat dari sutra dengan beragam jenisnya, sehingga atas dasar itu semua diharamkan penggunaannya.[8]

Faedah dan istinbat dari hadis:

  1. Mengurus jenazah dengan memandikan, mensalatkan, mengantarkan hingga menguburkannya adalah fardu kifayah[9]; jika telah dilaksanakan oleh sebagian kaum Muslim maka tidak wajib lagi bagi yang lainnya. Secara umum, amalan ini adalah sunah berdasarkan ijmak ulama, dan ini berlaku umum untuk jenazah kerabat atau selainnya, dikenal ataupun tidak.[10]
  2. Menjenguk orang yang sakit adalah amalan sunah berdasarkan ijmak ulama, berlaku pula secara umum bagi orang yang dikenal atau tidak, baik kerabat maupun bukan.
  3. Memenuhi undangan walimah hukumnya wajib menurut jumhur ulama, sedangkan undangan hidangan makan selainnya adalah sunah.
  4. Mendoakan orang yang bersin adalah sunah kifayah; jika dilakukan oleh sebagian yang hadir maka telah gugur perintah bagi yang lainnya, dengan syarat ucapan “Alhamdulillah” dari orang yang bersin dilakukan dengan nyaring.
  5. Menolong orang yang terzalimi adalah kewajiban (fardu kifayah).[11]
  6. Memakai cincin emas bagi laki-laki diharamkan berlandaskan hadis tersebut.[12]

Footnote:

[1] H.R. al-Bukhari (1239) dan Muslim (2066).

[2] Ibnu Abdil Barr. Al-Isti’aab fii Ma’rifatil Ashaab. Jilid 1, hlm. 157.

[3] Ibnu Hajar al-Asqalany; Ahmad bin Ali (w.852 H). 1415 H. Al-Ishabah fii Tamyiiz al-Shahabah. Darul Kutub Ilmiyah, Beirut. Jilid 1, hlm. 411.

[4] Ibnu Batthal. Op. Cit. Jilid 3, hlm. 238.

[5] Ibnul Jauzi. Op. Cit. Jilid 2, hlm. 237.

[6] Abdullah bin Shalih al-Bassam. Op. Cit. Jilid. 1, hlm. 732.

[7] H.R. al-Bukhari (5175).

[8] Ibnul Jauzi. Op. Cit. Jilid 2, hlm. 238.

[9] Ibid.

[10] Al-Nawawi. Al-Minhaaj. Jilid 14, hlm. 31.

[11] Ibid.

[12] Ibnu Daqiiq al-‘Ied. Op. Cit. Jilid 2, hlm. 297.

image_pdfUnduh PDF
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments