HADIS KETUJUH: ANAK TIDAK MENANGGUNG KESALAHAN ORANG LAIN

130
ANAK TIDAK MENANGGUNG KESALAHAN ORANG LAIN
Perkiraan waktu baca: 1 menit

40 HADIS PENDIDIKAN ANAK[1]

عن إِيَادٌ، عَنْ أَبِي رِمْثَةَ، قَالَ: انْطَلَقْتُ مَعَ أَبِيْ نَحْوَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ثُمَّ إِنَّ رَسُولَ اللهِ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ لِأَبِي: ابْنُكَ هَذَا؟. قَالَ: إِي وَرَبِّ الْكَعْبَةِ، قَالَ: حَقًّا؟. قَالَ: أَشْهَدُ بِهِ، قَالَ: فَتَبَسَّمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ضَاحِكًا مِنْ ثَبْتِ شَبَهِي فِي أَبِي، وَمِنْ حَلِفِ أَبِي عَلَيَّ، ثُمَّ قَالَ: أَمَا إِنَّهُ لَا يَجْنِي عَلَيْكَ، وَلَا تَجْنِي عَلَيْهِ، وَقَرَأَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ﴿وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى﴾ [الأنعام: 164]

Artinya:
Dari Iyad dari Abu Rimṡah ia berkata, “Saya dan ayah saya berangkat menemui Nabi ṣallallāhu‘alaihiwasallam, lalu Rasulullah ṣallallāhu‘alaihiwasallam bertanya kepada ayah saya, ‘Apakah ini anakmu?’ Dia menjawab, ‘Benar, demi Tuhan Ka’bah.’ Beliau bertanya lagi, ‘Apakah itu benar?’ Dia menjawab, ‘Aku bersaksi atasnya.’ Abu Rimṡah berkata, ‘Rasulullah ṣallallāhu‘alaihiwasallam lalu tersenyum karena aku mirip dengan ayah saya dan karena sumpah yang dilakukannya atas diriku. Kemudian beliau bersabda, ‘Ketahuilah, dia tidak akan memikul dosamu dan kamu tidak akan memikul dosanya.’ Lalu beliau membaca ayat, ‘Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.’” (Q.S. al-An’ām: 164).

Daftar Isi:

Takhrij Hadis

Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Dāwūd dalam al-Sunan, Kitab al-Diyāt, Bab Seseorang Tidak Dihukum Karena Perbuatan Saudaranya atau Ayahnya, nomor 4495. Ini adalah lafaz beliau. Hadis ini juga diriwayatkan oleh al-Nasai dalam al-Sunan, Kitab al-Qasāmah, Bab Apakah Seseorang Dihukum Karena Perbuatan Orang Lain nomor 4832. Hadis ini disahihkan oleh Ibn Ḥibbān, al-Ḥākim, ‘Abd al-Ḥaq al-Isybīli, Ibn al-Mulaqqin, dan al-Albāni. Sanadnya sahih.

Kosakata Hadis

الجِنَايَة: Dosa atau pelanggaran yang mengharuskan adanya sanksi atau kisas.

Baca juga:  HADIS KE-21: MENDAHULUKAN ANAK YANG LEBIH BANYAK HAFALANNYA UNTUK MENJADI IMAM DAN MENOLONG MEREKA

Pelajaran

  1. Seorang anak tidak dihukum lantaran pelanggaran orang tuanya sebagaimana orang tua tidak dihukum karena pelanggaran anaknya.
  2. Seorang manusia tidak dihisab kecuali atas amal-amalnya sendiri. Allah azza wajalla berfirman,

﴾وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى﴿

Artinya:
“Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.”

  1. Keadilan Islam di mana seorang anak kecil tidak dihukum atas perbuatan orang lain meskipun orang tuanya sendiri.
  2. Seorang pendidik tidak boleh menzalimi anak didiknya disebabkan kesalahan orang lain.
  3. Di antara kesalahan dalam pendidikan adalah menyamakan orang yang bersalah dengan yang tidak bersalah.

 

 


Footnote:

[1] Diterjemahkan dan disadur dari kitab al-Arba’ūn al-Jiyād fi Tarbiyah al-Aulād (Empat Puluh Hadis Pendidikan Anak) karya Syekh ‘Abd al-‘Azīz bin Muḥammad al-Ḥuwaiṭan hafiẓahullāh.

Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments