HADIS KE-19 AL-ARBAIN: PENA TELAH DIANGKAT, LEMBARAN TELAH KERING

742
Perkiraan waktu baca: 5 menit
image_pdfUnduh PDF

عَنْ أَبِي عَبَّاسٍ عَبْدِ اللهِ بنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما قَالَ: كُنْتُ خَلْفَ النبي ﷺ يَومَاً فَقَالَ: يَا غُلاَمُ إِنّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ : احْفَظِ اللهَ يَحفَظك، احْفَظِ اللهَ تَجِدهُ تُجَاهَكَ، إِذَاَ سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَاَ اسْتَعَنتَ فَاسْتَعِن بِاللهِ، وَاعْلَم أَنَّ الأُمّة لو اجْتَمَعَت عَلَى أن يَنفَعُوكَ بِشيءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلا بِشيءٍ قَد كَتَبَهُ اللهُ لَك، وإِن اِجْتَمَعوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشيءٍ لَمْ يَضروك إلا بشيءٍ قَد كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفعَت الأَقْلامُ، وَجَفّتِ الصُّحُفُ. رواه الترمذي، وقال: حديث حسن صحيح  

Dari Abu ‘Abbās, Abdullāh bin ‘Abbās radhiyallahu anhuma, dia berkata, “Suatu hari aku pernah berboncengan bersama Nabi shallallahu alaihi wasallam, lalu beliau bersabda, ‘Wahai nak, sungguh aku akan mengajarimu beberapa kalimat, Jagalah Allah! Niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah! Niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu. Apabila kamu meminta sesuatu mintalah kepada Allah! Apabila engkau memohon pertolongan maka mintalah kepada Allah! Ketahuilah, kalau seandainya umat manusia bersatu untuk memberikan suatu manfaat kepadamu, niscaya mereka tidak akan mampu memberi manfaat kepadamu kecuali sesuai yang telah Allah tentukan untukmu. Kalau seandainya mereka bersatu untuk menimpakan suatu mudarat kepadamu, niscaya tidak akan membahayakanmu kecuali sesuai yang telah Allah tetapkan akan menimpamu. Pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering’.” (H.R. Tirmidzi. Beliau berkata, “Hadis ini hasan sahih.”)

وفي رواية غير الترمذي: اِحفظِ اللهَ تَجٍدْهُ أَمَامَكَ، تَعَرَّفْ إلى اللهِ في الرَّخاءِ يَعرِفْكَ في الشّدةِ، وَاعْلَم أن مَا أَخطأكَ لَمْ يَكُن لِيُصيبكَ، وَمَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُن لِيُخطِئكَ، وَاعْلَمْ أنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ، وَأَنَّ الفَرَجَ مَعَ الكَربِ، وَأَنَّ مَعَ العُسرِ يُسراً

Dalam riwayat selain riwayat Tirmidzi[1] disebutkan, ”Jagalah Allah! Niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu. Ingatlah Allah dalam keadaan lapang! Niscaya Dia akan mengingatmu dalam keadaan sulit. Ketahuilah, bahwa segala sesuatu yang Allah tetapkan luput darimu, tidak akan pernah menimpamu. Segala sesuatu yang telah ditetapkan menimpamu, maka tidak akan luput darimu. Ketahuilah, bahwa pertolongan itu bersama kesabaran dan jalan keluar itu bersama kesulitan dan bersama kesukaran itu ada kemudahan.”

“Aku merenungi hadis ini lantas akupun berdecak kagum. Sangat disayangkan orang yang tidak mengerti hadis ini dan tidak berusaha memahami maknanya,” ujar salah seorang ulama mengomentari hadis ini.[2] Ucapan ini tidaklah berlebihan. Hadis ini begitu sarat hikmah, kaidah penting, dan nasihat agung dari sang baginda, shallallahu alaihi wasallam.

Dalam hadis ini ada beberapa faedah yang dapat dipetik:

Nabi Adalah Pribadi yang Penuh Tawaduk

Dalam hadis ini, terlihat bagaimana seorang pemimpin tertinggi dan panglima agung sudi membonceng seorang anak di atas seekor tunggangan. Di sini juga terdapat pelajaran bahwa dibolehkan membonceng orang lain di atas satu tunggangan dengan syarat tunggangan tersebut mampu. Jika beban tunggangan berlebihan maka penunggangnya jatuh ke dalam kezaliman. Dalam hadis ini juga terlihat antusiasme Nabi shallallahu alaihi wasallam dan perhatian beliau kepada bibit-bibit muda. Beliau memanfaatkan momentum untuk memberikan ajaran yang baik. Keberadaan keduanya di atas seekor tunggangan tidak menghalangi Nabi untuk menyampaikan wejangan-wejangan. Ini pelajaran bagi para dai dan pendidik agar senantiasa memanfaatkan momen baik dan tidak melewatkannya begitu saja. Bahkan beberapa wejangan pada momen-momen tertentu yang tidak lazim mungkin lebih berkesan dan tertinggal di dalam hati.

“Wahai nak, sungguh aku akan mengajarimu beberapa kalimat,” demikian Nabi membuka wejangannya. Ucapan semisal ini disebutkan guna mempersiapkan akal dan pendengaran objek dakwah agar siap menerima apa yang akan disampaikan.

Balasan Sesuai Perbuatan yang Dilakukan

Dengan menjaga Allah, maka Allah akan menjaga seorang hamba. Yang dimaksud dengan menjaga Allah adalah menjaga batasan-batasan-Nya, menunaikan hak-hak-Nya, mengerjakan perintah dan menjauhi larangan-Nya.  Orang yang melakukannya menuai pujian Allah dalam Al-Qur’an,

هٰذَا مَا تُوْعَدُوْنَ لِكُلِّ اَوَّابٍ حَفِيْظٍۚ مَنْ خَشِيَ الرَّحْمٰنَ بِالْغَيْبِ وَجَاۤءَ بِقَلْبٍ مُّنِيْبٍۙ

“(Dikatakan kepada mereka) Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang bertobat dan hafīz.  (Dialah) orang yang takut kepada Zat Yang Maha Pengasih (sekalipun) dia tidak melihat-Nya dan dia datang (menghadap Allah) dengan hati yang bertobat.” (Q.S. Qāf:32-33).

Kata hafīz dalam ayat di atas ditafsirkan sebagai orang yang senantiasa menjaga perintah Allah. Juga ditafsirkan sebagai orang yang senantiasa mengingat dosa-dosanya agar senantiasa bertobat.[3] Di antara perintah Allah yang harus dijaga oleh seorang hamba adalah salat. Allah telah memerintahkan agar salat dijaga. Allah berfirman,

حَافِظُوْا عَلَى الصَّلَوٰتِ وَالصَّلٰوةِ الْوُسْطٰى وَقُوْمُوْا لِلّٰهِ قٰنِتِيْنَ

 “Peliharalah semua salat (fardu) dan salat Wusṭā. Berdirilah karena Allah (dalam salat) dengan khusyuk.” (Q.S. al-Baqarah: 38)

Dalam sebuah hadis qudsi disebutkan,

افْتَرَضْتُ عَلى أُمَّتِكَ خَمْسَ صَلَواتٍ، وعَهِدْتُ عِنْدِي عَهْدًا أنَّهُ مَن حافَظَ عَلَيْهِنَّ لِوَقْتِهِنَّ أدْخَلْتُهُ الجَنَّةَ، ومَن لَمْ يُحافِظْ عَلَيْهِنَّ فَلا عَهْدَ لَهُ عِنْدِي

“Aku wajibkan salat lima waktu bagi umatmu. Aku beri satu janji di sisi-Ku yaitu barang siapa yang menjaga salat lima waktu tersebut pada waktunya maka Aku akan masukkan ia ke dalam surga. Barang siapa yang tidak menjaga salat lima waktu tersebut maka aku tidak beri janji-Ku ini untuknya.”[4]

Dengan menjaga Allah, maka Allah akan menjaga seorang hamba. Penjagaan Allah bagi seorang hamba mencakup dua hal:

  1. Penjagaan Allah untuk hamba terkait maslahat dunia. Misalnya, Allah menjaga tubuh, kesehatan, keselamatan, anak keturunan, dan hartanya. Allah berfirman,

لَهٗ مُعَقِّبٰتٌ مِّنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهٖ يَحْفَظُوْنَهٗ مِنْ اَمْرِ اللّٰهِ

“Baginya (manusia) ada (malaikat-malaikat) yang menyertainya secara bergiliran dari depan dan belakangnya yang menjaganya atas perintah Allah.” (Q.S. al-Ra’d: 11)

Mujāhid berkata, “Setiap hamba pasti bersamanya seorang malaikat yang menjaganya saat terlelap dan terjaga dari gangguan jin, manusia, dan hewan. Jika ada bahaya yang akan datang kepadanya, malaikat berkata, ‘Perhatikan di belakangmu!’ kecuali saat Allah mengizinkan satu musibah terjadi maka musibah itu akan menimpa hamba tersebut.”[5]

Ada seorang ulama yang sudah lanjut usia namun dikaruniai oleh Allah tubuh yang sehat. Suatu ketika sang ulama melompat dengan sangat kuatnya. Seakan-akan masih berusia belasan. Orang-orang yang melihat kejadian itu berdecak kagum diiringi kekhawatiran. Namun sang ulama berkata, “Anggota tubuh ini aku jaga dari kemaksiatan saat muda, maka Allah jaga saat tua.”[6]

Orang yang menjaga Allah di masa hidupnya, Allah akan jaga ia dan peninggalannya selepas ia mati. Bukti terkait hal ini bisa didapatkan dalam surah al-Kahfi.[7]

Yang lebih menakjubkan adalah Allah menjaga sang hamba dengan menggerakkan hewan-hewan buas dan alam untuk melindunginya. Diriwayatkan bahwa Safīnah, mantan budak Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, menyebrangi lautan. Namun kapal yang digunakan bermasalah. Lantas beliau pun menepi ke sebuah pulau. Di pulau itu beliau melihat seekor singa. Saat tengah berjalan, singa itu ikut berjalan bersama beliau bahkan menunjukkan jalan kepada beliau. Ketika beliau sudah sampai di tempat tertentu, si singa mengaum seakan berpamitan lantas meninggalkan beliau.[8]

  1. Penjagaan agama dan keimanan hamba oleh Allah. Allah menjaga hamba dari fitnah syubhat dan syahwat semasa hidup di dunia.

Bersandar kepada Allah Sepenuhnya

Hanya Allah yang dapat mendatangkan manfaat dan menolak mudarat.

Allah berfirman,

وَاِنْ يَّمْسَسْكَ اللّٰهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهٗ ٓاِلَّا هُوَ ۚوَاِنْ يُّرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَاۤدَّ لِفَضْلِهٖۗ يُصِيْبُ بِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِهٖ ۗوَهُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

“Jika Allah menimpakan suatu mudarat kepadamu, tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia dan jika Dia menghendaki kebaikan bagimu, tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikannya (kebaikan itu) kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Yunus: 107)

مَا يَفْتَحِ اللّٰهُ لِلنَّاسِ مِنْ رَّحْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَا ۚوَمَا يُمْسِكْۙ فَلَا مُرْسِلَ لَهٗ مِنْۢ بَعْدِهٖۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ

“Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, tidak ada yang dapat menahannya. (Demikian pula) apa saja yang ditahan-Nya, tidak ada yang sanggup untuk melepaskannya. Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (Q.S. Fātir: 2)

Inilah yang menjadikan Allah satu-satunya yang berhak dicintai, diibadahi, dikagumi, diberikan takzim sejati. Hanya Allah yang mengatur roda kehidupan seorang hamba. Olehnya, rasul berkata, “Jika engkau meminta, mintalah pada Allah! Jika engkau memohon pertolongan, mintalah pertolongan Allah!” Ini senada dengan ayat kelima dalam surah al-Fātihah. “Hanya kepada-Mu kami meminta dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan.” Itu karena manfaat apapun, kebaikan apapun dalam perkara dunia atau pun akhirat berada dalam genggaman-Nya. Allah menyukai permohonan, permintaan, rintihan akan hajat yang disemogakan oleh hambaNya. Olehnya, Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk meminta dan berdoa kepada-Nya,

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ ࣖ

“Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu (apa yang kamu harapkan). Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri tidak mau beribadah kepada-Ku akan masuk (neraka) Jahanam dalam keadaan hina dina’.” (Q,S. Ghāfir: 60)

Rida Terhadap Takdir yang Diberikan oleh Allah

Segala yang terjadi di dunia ini sudah dituliskan. Takdir sudah ada 50.000 tahun sebelum langit dan bumi ini diciptakan. Sesungguhnya Allah menulis takdir seluruh makhluk sejak lima puluh ribu tahun sebelum menciptakan langi dan bumi,” [9] ujar Nabi shallallahu alaihi wasallam. Dalam hadis lain, Nabi mengabarkan, “Sesungguhnya yang pertama diciptakan oleh Allah adalah alqalam. Lalu Allah berfirman, ‘Tulislah’! Maka ia terus menulis sejak saat itu sampai apa yang terjadi pada hari kiamat.”[10]

Dengan mengetahui ini, seorang hamba akan merasa tenang. Semua yang terjadi di dunia ini, baik dan buruk, musibah dan keberuntungan, semuanya telah ditetapkan oleh Allah. Semua kebaikan yang dicapai oleh seorang hamba telah ditakdirkan oleh Allah. Lantas tak pantas ia menyombongkan diri. Semua musibah yang menimpa seorang hamba pun telah ditakdirkan oleh Allah. Lantas tak ada pembenaran bagi hamba untuk membenci takdir, terlalu menyalahkan keadaan, berkeluh kesah, dan lain sebagainya. Bahkan yang terjadi ia akan menerima, rida, bahkan bersyukur.

Artikel singkat ini tidak dapat membahas limpahan mutiara hikmah yang terkandung dalam hadis ini. Untuk mendalami lebih jauh terkait hadis ini, silakan lihat kitab Nūr al-Iqtibās fī Misykāh Washiyyah al-Nabiy Li Ibn Abbās karya Ibnu Rajab atau kitab-kitab lain yang membahas hadis ini.

 


Footnote:

[1] H.R. Abdu bin Humaid (636).

[2] Lihat: Jāmi’ al-‘ulūm wa al-hikam (1/462).

[3] Lihat: Jāmi’ al-ulūm wa al-hikam hal. 414.

[4] H.R. Ibnu Majah (1403).

[5] H.R. Thabari dalam kitab tafsirnya (15352).

[6] Lihat: Siyar a’lām al-Nubalā` (17/668).

[7] Lihat Q.S. al-Kahfi : 82.

[8] Lihat H.R. al-Bazzār (3838).

[9] H.R. Muslim (2648).

[10] H.R. Abu Daud (4700).

image_pdfUnduh PDF
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments