BERSIWAK KETIKA BERWUDU ATAU HENDAK SALAT

191
Perkiraan waktu baca: 2 menit
image_pdfUnduh PDF

وَقَالَ الإِمَام أَحْمَدُ فِي المـسْنَد: قَرَأتُ عَلَى عبدِ الرَّحْمَن: مَالكٌ، عَن ابْن شهَابٍ عَن حُميد بن عبدِ الرَّحْمَن بن عَوْفٍ عَن أَبي هُرَيْرَة رَضِيَ اللَّهُ عَنْه، عَن رَسُولِ الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ أَنه قَالَ: لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي، لَأَمَرْتُهُم بِالسِّوَاكِ مَعَ كُلِّ وُضُوْءٍ. رُوَاتُه كُلُّهم أَئِمَّةٌ أَثْبَاتُ. وَرَوَاهُ أَحْمَدُ، عَنِ رَوْحٍ، عَنْ مَالِكٍ، مَرْفُوعاً أَيْضاً. وَمَنْ رِوَايَة رَوْحٍ رَوَاهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ فِي صَحِيْحِهِ

Imam Ahmad berkata di dalam kitab al-Musnad, “Saya membacakan kepada Abdurrahman: Malik, dari Ibnu Syihab, dari Humaid bin Abdurrahman bin Auf dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, dari Rasulullah ﷺ bahwa beliau bersabda, ‘Seandainya tidak memberatkan umatku, sungguh akan aku perintahkan kepada mereka bersiwak setiap kali wudu’.” Seluruh rawinya adalah ulama tsiqah. Diriwayatkan oleh Ahmad, dari Rauh, dari Malik secara marfuk.  Riwayat Rauh, diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam kitab Shahihnya.[1]

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ، قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْد كُلِّ صَلَاةٍ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasululullahﷺ  bersabda, ‘Seandainya tidak memberatkan umatku, sungguh akan aku perintahkan kepada mereka bersiwak setiap kali salat’.[2]

Kosa kata hadis:

  1. Lafal hadis لَوْلَا أَنَّ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي sangat banyak, antara lain pada dua hadis tersebut yaitu, مَعَ كُلِّ وُضُوءٍ dan مَعَ كُلِّ صَلَاةٍ.[3]

Makna hadis:

Rasulullah ﷺ amat mencintai kebaikan kepada umatnya dan ingin agar mereka senantiasa mendapatkan manfaat dan kebahagiaan sehingga beliau awalnya berkeinginan mewajibkan bersiwak kepada umat muslim karena beliau mengetahui dengan pasti manfaat bersiwak. Hampir saja beliau mewajibkan hal tersebut kepada umatnya setiap wudu atau salat. Namun demikian, beliau melihat bahwa hal tersebut adalah perkara yang memberatkan, karena ketidakmampuan atau kelemahan mereka.

Faedah dan istinbat dari hadis:

  1. Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhuma pernah berkata, “Rasulullah ﷺ senantiasa memerintahkan kami untuk bersiwak, hingga aku menduga akan diturunkan (perintah tersebut) kepada beliau.”[4]
  2. Hadis ini menunjukkan bolehnya bersiwak di setiap waktu, karena Rasulullah ﷺ menegaskan, “Setiap kali wudu” dan “Setiap kali salat. Bahkan beliau pernah bersiwak dalam keadaan berpuasa.[5]
  3. Kedua hadis tersebut menunjukkan keutamaan bersiwak dan ia merupakan amalan yang dicintai.
  4. Hadis ini juga menjadi dalil tentang keutamaan adanya keringanan dalam urusan agama, dan perkara yang memberatkan dalam urusan agama adalah makruh.[6]
  5. Siwak mustahab dalam setiap keadaan, di antaranya ketika akan melaksanakan salat.
  6. Kaum muslim saat beribadah dan bertakarub kepada Allah Ta’ala diperintahkan untuk senantiasa dalam kondisi yang bersih dan sempurna, sebagai wujud pengagungan terhadap ibadah itu sendiri.
  7. Ada juga ulama yang menyebutkan bahwa ketika salat malaikat begitu dekat dengan hamba dan mereka terusik dengan aroma yang tidak sedap sehingga disunahkan bersiwak. [7]
  8. Islam adalah syariat yang mudah, tidak menyulitkan atau memberatkan.
  9. Hadis ini menjadi dalil bahwa boleh bagi Nabi Muhammad ﷺ berijtihad, selama tidak ada nas dari Allah tentang perkara tersebut.[8]
  10. Nabi Muhammad ﷺ memiliki sifat lembut dan penyayang terhadap umatnya.[9]
  11. Dari hadis tersebut ulama mengambil kaidah fikih,

أَنَّ دَرْءَ المَفَاسِدِ، مُقَدَّمٌ عَلَى جَلْبِ المَصَالِحِ

“Menghindari kemudaratan, lebih diutamakan daripada upaya meraih maslahat”.

Ini adalah salah satu kaidah yang amat penting, karena sang pembawa risalah tidak mewajibkan bersiwak -padahal ada maslahat yang besar di sana-karena khawatir Allah akan menurunkan perintah kewajibannya, kemudian umat ini tidak mampu melaksanakannya sehingga timbullah kerusakan akibat tidak dilaksanakannya perintah atau kewajiban dari Allah Ta’ala.[10]

 


Footnote:

[1] H.R. Ahmad (9928) dan (10696).

[2] H.R. Al-Bukhari (887) dan Muslim (252).

[3] Ibnu Abdil Barr. Al-Istidzkaar. Jilid 1, hlm. 363.

[4] Ibnu Batthal. Op. Cit. Jilid 1, hlm. 363.

[5] Ibnu Abdil Barr. 1387 H. AlTamhiid Limaa fil Muwatta’ minal Ma’aani wal Asaaniid. Wizaarah al-Awqaaf was Syuun al-Islamiyah, Maghrib. Jilid 7, hlm. 198.

[6] Ibid.

[7] Ibnu Daqiiq al-‘Ied. Ihkamul Ahkam Syarh Umdatil Ahkam. Jilid 1, hlm. 107.

[8] Al-Nawawi. Al-Minhaaj. Jilid 3, hlm. 144.

[9] Ibid.

[10] Abdullah bin Shalih al-Bassam. Op. Cit. Jilid. 1, hlm. 47.

image_pdfUnduh PDF
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments