BAIT KE-14 DAN KE-15: SANAD ‘ĀLI DAN NĀZIL SERTA HADIS MAUKUF

73
BAIT KE DAN KE SANAD ALI DAN NAZIL SERTA HADIS MAUKU
Perkiraan waktu baca: 2 menit
image_pdfUnduh PDF

SYARAH MUDAH MATAN AL-BAIQŪNI[1]

Imam al-Baiqūni:

وَكُلُّ مَا قَلَّتْ رِجَالُهُ عَلاَ … وَضِدُّهُ ذَاكَ الَّذِي قَدْ نَزَلَا

Artinya:
“Setiap (hadis) yang rawinya sedikit (maka ia) sanad ‘āli (tinggi), dan jika sebaliknya maka ia sanad nāzil (rendah).”

Definisi:

Hadis ‘āli al-isnād (sanadnya tinggi)[2] adalah sanad hadis yang sedikit jumlah rawinya -jika dibandingkan dengan sanad lain dari hadis tersebut dengan rawi yang lebih banyak- sehingga para rawinya menjadi dekat dengan Rasulullah ṣallallāhu‘alaihiwasallam atau salah seorang imam ahli hadis.

Hadis nāzil al-isnād (sanadnya rendah)[3] adalah kebalikan dari hadis ‘āli al-isnād.

Imam al-Baiqūni:

ومَا أَضَفْتَهُ إِلَى الأَصْحَابِ مِنْ … قَوْلٍ وفِعْلٍ فَهُوَ مَوْقُوْفٌ زُكِنْ

Artinya:
“Apa yang engkau sandarkan kepada para sahabat berupa perkataan dan perbuatan maka itu adalah maukuf sebagaimana telah diketahui.”

Definisi:

Sahabat[4] adalah orang yang berjumpa dengan Rasulullah ṣallallāhu‘alaihiwasallam dalam keadaan beriman kepada beliau dan kemudian wafat di atas Islam.

Al-mauqūf (hadis maukuf)[5] adalah apa yang datang dari para sahabat raḍiyallahu’anhum berupa perkataan, perbuatan, dan takrir yang berhenti pada mereka dan tidak sampai kepada Rasulullah ṣallallāhu‘alaihiwasallam.

Contoh:

Al-mauqūf al-qauli (hadis maukuf berupa perkataan), contohnya perkataan ‘Ali bin Abi Ṭālib raḍiyallahu’anhu,

حَدِّثُوا النَّاسَ بِمَا يَعْرِفُوْنَ أَتُرِيْدُوْنَ أَنْ يُكَذَّبَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ[6]

Artinya:
“Berbicaralah dengan manusia dengan apa yang mereka ketahui. Apakah engkau ingin Allah dan rasul-Nya didustakan?”

Al-mauqūf al-fi’li (hadis maukuf berupa perbuatan), contohnya adalah apa yang disebutkan oleh Imam al-Bukhāri,

وَأَمَّ ابْنُ عَبَّاسٍ وَهُوَ مُتَيَمِّمٌ[7]

Artinya:
“Ibn ‘Abbās mengimami salat sedangkan beliau bertayamum.”

Al-Mauqūf al-taqriri (hadis maukuf berupa takrir) contohnya apabila seorang tabiin berkata, “Saya melakukan ini di hadapan seorang sahabat dan beliau tidak mengingkari hal tersebut.”

Baca juga:  GAMBARAN RINGKAS KITAB-KITAB HADIS (BAGIAN TERAKHIR)

Jika seorang sahabat berkata, “Di antara sunah adalah ini dan itu…” atau dia berkata, “Dahulu di masa Rasulullah ṣallallāhu‘alaihiwasallam kami melakukan ini dan itu…” atau dia mengucapkan sesuatu yang di dalamnya tidak ada ruang untuk melakukan ijtihad pribadi maka yang demikian itu tidak dihukumi maukuf akan tetapi ia disebut al-marfū’ hukman (dihukumi marfuk)[8] yakni dinilai sama dengan perbuatan dan perkataan Nabi ṣallallāhu‘alaihiwasallam dari sisi ḥujjiyyah (sebagai hujah).

Kata زُكِنْ di dalam matan dengan huruf zai berharakat damah dan kaf berharakat kasrah artinya “dikenal, diketahui, dan dipahami.”[9]

 

 


Footnote:

[1] Diterjemahkan dan disadur dari kitab al-Ta’liqāt al-Aariyyah ‘ala al-Manẓūmah al-Baiquniyyah karya Syekh ‘Ali bin Ḥasan al-Ḥalabi al-Aṡari rahimahullāh.

[2] Lihat: Ḥāsyiyah al-Ajhūri (h. 51). Untuk menelaah sanad-sanad ‘āli, rujuk: Ṡulāṡiyyāt Musnad al-Imām Aḥmad dengan syarahnya karya al-‘Allāmah al-Safārīni.

[3] Lihat: Tadrīb al-Rāwi (2/171) dan ‘Ulūm al-Ḥadīṡ (h. 237).

[4] Lihat: al-Tadrīb (2/206), al-Bā’iṡ (2/491), dan ‘Ulūm al-Ḥadīṡ (h. 39). Di antara ulama yang memberikan penjelasan yang baik tentang definisi sahabat adalah al-Ḥāfiẓ Ibn Ḥajar al-‘Asqalāni raḥimahullāh dalam al-Iṣābah fi Tamyīz al-Ṣaḥābah (1/7) dan al-Bā’iṡ (1/147), dan Qawā’id al-Taḥdīṡ (h. 135).

[5] Lihat: al-Tadrīb (1/183), al-Bā’iṡ (1/147), dan ‘Ulūm al-Ḥadīṡ (h. 135).

[6] H.R. al-Bukhāri dalam Ṣaḥīḥ-nya (1/225 – Fatḥ al-Bāri) secara mu’allaq. Al-Ḥāfiẓ Ibnu Hajar tidak berkomentar terhadap aṡar ini dalam Taglīq al-Ta’līq.

[7] H.R. al-Bukhāri secara mu’allaq (1/446 – Fatḥ al-Bāri) dan al-Ḥāfiẓ berkata dalam al-Fatḥ, “Ibn Abi Syaibah, al-Baihaqi, dan yang lainnya menyambungkannya dengan sanad yang hasan. Lihat: Taglīq al-Ta’līq (2/187) karya Ibn Ḥajar.

Baca juga:  HADIS LEMAH YANG DISEBABKAN OLEH CACATNYA  SIFAT ‘ADÂLAH SEORANG PERAWI (BAGIAN KETIGA)

[8] Untuk mengetahui lebih lanjut tentang masalah ini beserta contoh-contohnya, lihat: Tadrīb al-Rāwi (1/186) dan Tauḍīḥ al-Afkār (1/56)

[9] Al-Ṣiḥāḥ (5/2131).

image_pdfUnduh PDF
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments