BACAAN YANG DIANJURKAN PADA SALAT JUMAT

214
Perkiraan waktu baca: 4 menit
image_pdfUnduh PDF

Para ulama dari keempat mazhab yang muktabar baik itu Hanafi,(1) Maliki,(2) Syafii,(3) dan Hambali(4) sepakat menyebutkan bahwa pada saat Salat Jumat dianjurkan membaca surat al-Jumu’ah di rakaat pertama dan surat al-Munafiqun di rakaat kedua. Imam al-Auza’i mengatakan, “Kami tidak mengetahui seorang pun dari imam kaum muslimin yang meninggalkan membaca surat al-Jumu’ah pada saat Salat Jumat.”(5) Imam Ibnu al-Qayyim menerangkan, “Tidak dianjurkan membaca sebagian ayat saja dari masing-masing surat tersebut di dua rakaat atau membaca salah satu surat saja namun dibagi pada dua rakaat, karena praktek semacam itu menyelisihi sunah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.”(6)

Bacaan lain yang dianjurkan untuk dibaca pada saat Salat Jumat adalah surat al-Alaa dan al-Ghasyiyah. Hal ini disepakati oleh jumhur ulama dari mazhab Hanafi,(7) Maliki,(8) Hambali,(9) dan demikian pula mazhab terdahulu dari Imam Syafii.(10)

Berikut beberapa dalil dari hadis-hadis sahih yang menjadi dasar penetapan hukum para ulama beserta sedikit penjelasan fikih dan faedah hadisnya, semoga bermanfaat.

HADIS PERTAMA:

عَنْ ابْنِ أَبِي رَافِعٍ قَالَ اسْتَخْلَفَ مَرْوَانُ أَبَا هُرَيْرَةَ عَلَى الْمَدِينَةِ، وَخَرَجَ إِلَى مَكَّةَ، فَصَلَّى لَنَا أَبُو هُرَيْرَةَ الْجُمُعَةَ، فَقَرَأَ بَعْدَ سُورَةِ الْجُمُعَةِ فِي الرَّكْعَةِ الْآخِرَةِ: إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ، قَالَ: فَأَدْرَكْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ حِينَ انْصَرَفَ، فَقُلْتُ لَهُ: إِنَّكَ قَرَأْتَ بِسُورَتَيْنِ كَانَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ يَقْرَأُ بِهِمَا بِالْكُوفَةِ. فَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ رضي الله عنه: إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ بِهِمَا يَوْمَ الْجُمُعَةِ. رواه مسلم

Dari Ibnu Abu Rafi’ ia berkata, “Suatu ketika (khalifah) Marwan meminta kepada Abu Hurairah radhiyallahu anhu untuk menggantikannya (sebagai pemimpin sementara) di Madinah, sementara Marwan pergi ke Makkah. Maka pada suatu Hari Jumat, Abu Hurairah mengimami kami Salat Jumat. Ia membaca surat al-Jumu’ah pada rakaat pertama, dan surat al-Munafiqun pada rakaat kedua. Setelah selesai salat, kutemui Abu Hurairah dan kukatakan kepadanya, ‘Kedua surat yang Anda baca tadi, pernah dibaca oleh Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu ketika ia berada di Kufah.’ Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata, ‘Saya telah mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam membaca kedua surat itu pada Hari Jumat.’” [H.R. Muslim, no. 877]

Fikih dan Faedah Hadis:

  1. Pentingnya kepemimpinan dalam Islam.
  2. Apabila seorang pemimpin hendak bepergian meninggalkan pusat pemerintahannya maka dia mendelegasikannya ke salah seorang yang mampu dan pantas mengambil amanah tersebut.
  3. Keutamaan Abu Hurairah radhiyallahu anhu yang mendapat kepercayaan menjadi pemimpin di Madinah walaupun sifatnya sementara.
  4. Pemimpin dalam Islam bukan dipilih berdasarkan harta dan status sosialnya namun berdasarkan ilmu dan kemampuannya sebagaimana yang ada pada sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu.
  5. Sejatinya seorang penguasa dalam pemerintahan dia juga yang memimpin rakyatnya dalam salat jemaah.
  6. Perhatian para salaf terhadap salat jemaah, termasuk di antaranya mengetahui bacaan-bacaan yang dianjurkan pada saat salat.
  7. Pentingnya bertanya kepada ulama terhadap perkataan dan amalannya yang memerlukan penjelasan hukum.
  8. Para sahabat radhiyallahu anhum senantiasa komitmen dalam mengikuti sunah Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam termasuk di antaranya dalam sunah bacaan pada waktu salat, sebagaimana yang dicontohkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu anhu dan Ali bin Abu Thalib radhiyallahu anhu.
  9. Mengikuti dan komitmen terhadap sunah mendatangkan dan melahirkan persatuan di mana pun berada.
  10. Bacaan Salat Jumat dijaharkan.
  11. Disunahkannya membaca surat al-Jumu’ah di rakaat pertama dan surat al-Munafiqun di rakaat kedua pada saat Salat Jumat.
  12. Para sahabat senantiasa menisbatkan perkataan dan perbuatan mereka dalam hal ibadah kepada sunah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

HADIS KEDUA:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقْرَأُ فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ يَوْمَ الْجُمُعَة (الم تَنْزِيلُ) السَّجْدَةِ، وَ(هَلْ أَتَى عَلَى الْإِنْسَانِ حِينٌ مِنْ الدَّهْرِ). وَأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقْرَأُ فِي صَلَاةِ الْجُمُعَةِ سُورَةَ الْجُمُعَةِ وَالْمُنَافِقِينَ. رواه مسلم

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma bahwa biasanya Nabi shallallahu alaihi wasallam ketika mengerjakan Salat Subuh pada hari Jumat, beliau membaca Alif Laam Miim Tanziil (surat al-Sajadah) dan, Hal Ataa ‘Alal Insaani Hiinum Minad Dahri (surat al-Insan), dan dalam Salat Jumat beliau membaca surat al-Jumu’ah dan surat al-Munafiqun. [H.R. Muslim, no. 879]

Fikih dan Faedah Hadis:

  1. Di antara sunah Nabi shallallahu alaihi wasallam pada Hari Jumat adalah membaca surat al-Sajadah dan surat al-Insan pada saat Salat Subuh.
  2. Keutamaan sahabat yang mulia Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhuma.
  3. Perhatian para sahabat untuk mengetahui dan menukil bacaan yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam saat salat berjemaah.
  4. Disunahkan membaca surat al-Jumu’ah dan surat al-Munafiqun pada saat Salat Jumat.

HADIS KETIGA:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِمَّا يَقْرَأُ فِي صَلَاةِ الْجُمُعَةِ بِالْجُمُعَةِ، فَيُحَرِّضُ بِهِ الْمُؤْمِنِينَ، وَفِي الثَّانِيَةِ بِسُورَةِ الْمُنَافِقِينَ فَيُفْزِعُ بِهِ الْمُنَافِقِينَ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu ia berkata, “Di antara yang dibaca Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada saat Salat Jumat adalah surat al-Jumu’ah, dengan bacaan ini beliau menyemangati kaum mukminin dan di rakaat kedua beliau membaca surat al-Munafiqun, dengan bacaan ini membuat panik kaum munafikin. [H.R. Thabarani dalam al-Mu’jam al-Awsath (9/112), no. 927](11)

Fikih dan Faedah Hadis:

  1. Hadis ini ikut menegaskan bahwa di antara bacaan yang sering dibaca Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam pada saat Salat Jumat adalah surat al-Jumu’ah dan surat al-Munafiqun.
  2. Hadis ini menjelaskan di antara hikmah mengapa Nabi shallallahu alaihi wasallam memilih kedua surat ini pada saat Salat Jumat.
  3. Pentingnya memperhatikan bacaan imam pada salat berjemaah.
  4. Anjuran menadaburi dan mengambil hikmah dari bacaan imam pada salat berjemaah.
  5. Disyariatkannya menyemangati kaum mukminin dan membuat takut serta kepanikan bagi kaum munafikin.

HADIS KEEMPAT:

عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ رضي الله عنه: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقْرَأُ فِي صَلَاةِ الْجُمُعَةِ بِـ (سَبِّحْ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى) وَ(هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ)

Dari Samurah bin Jundub radhiyallahu anhu bahwa pada waktu Salat Jumat, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam membaca Sabbihisma Rabbika al-A’laa (surah al-A’laa) dan Hal ataaka haditsu al-Ghasyiyah. (surah al-Ghasyiyah).” [H.R. Abu Daud, no. 1125 dan al-Nasai, no. 1422]


HADIS KELIMA:

عَنْ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ رضي الله عنهما قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الْعِيدَيْنِ، وَفِي الْجُمُعَةِ بِـ (سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى)، وَ(هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ)، قَالَ: وَإِذَا اجْتَمَعَ الْعِيدُ وَالْجُمُعَةُ فِي يَوْمٍ وَاحِدٍ؛ يَقْرَأُ بِهِمَا أَيْضًا فِي الصَّلَاتَيْنِ

Dari Nu’man bin Basyir radhiyallahu anhuma ia berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam biasa membaca surat al-A’la dan surat al-Ghasyiah dalam salat dua hari raya dan Salat Jumat. Bila salat Id bertepatan dengan Hari Jumat, beliau juga membaca kedua surat tersebut dalam kedua salat itu.”

Fikih dan Faedah Hadis Keempat dan Kelima:

  1. Keutamaan sahabat yang mulia Samurah bin Jundub radhiyallahu anhu dan Nukman bin Basyir radhiyallahu anhuma.
  2. Perhatian para sahabat dalam mengetahui dan menukil bacaan-bacaan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada waktu salat.
  3. Disyariatkannya salat Idulfitri dan Iduladha secara berjemaah dan menjaharkan bacaan.
  4. Di antara bacaan yang disunahkan pada saat salat hari raya tahunan (Idulfitri/Iduladha) dan hari raya pekanan (Hari Jumat) adalah surat al-A’laa dan surat al-Ghasyiyah.
  5. Keutamaan dan kekhususan surat al-A’laa dan surat al-Ghasyiyah.
  6. Kedua surat ini tetap dianjurkan dibaca dan diulangi walaupun hari Id bertepatan dengan hari Jumat.
  7. Nabi shallallahu alaihi wasallam tetap melaksanakan Salat Jumat walaupun sudah melaksanakan salat Id di hari yang sama, walaupun ada keringanan bagi yang sudah melaksanakan salat Id untuk tidak lagi hadir Salat Jumat.(12)


Footnote:

(1) Lihat: Al-Binayah Syarhu al-Hidayah karya Badruddin al-‘Aini (3/92) dan Radd al-Mukhtar ‘ala ad-Dur al-Mukhtar karya Ibnu Abidin (2/161).

(2) Menurut mazhab Maliki dianjurkan membaca pada rakaat pertama surat al-Jumu’ah dan rakaat kedua dipilih antara surat al-A’laa, al-Ghasyiyah atau surat al-Munafiqun. Lihat: Al-Kafi karya Ibnu Abdilbarr (1/251) dan al-Fawakih al-Danawi karya al-Nafrawi (1/262).

(3) Lihat: Fathu al-Aziz karya al-Rafii (4/622) dan al-Hawi al-Kabir karya al-Mawardi (2/434).

(4) Lihat: Al-Mughni karya Muwaffaquddin Ibnu Qudamah (2/230), al-Syarhu al-Kabir karya Syamsuddin Ibnu Qudamah (2/189) dan Kasysyaf al-Qina’ karya al-Bahuti (2/38).

(5) Lihat: Al-Istidzkar (2/53) karya Ibnu Abdilbarr.

(6) Zaad al-Ma’ad (1/369).

(7) Lihat: Al-Bahru al-Raiq karya Ibnu Nujaim (2/169) dan al-Mabsuth karya al-Sarakhsi (2/65).

(8) Lihat: Kifayah al-Thalib al-Rabbani karya Abu al-Hasan al-Maliki (1/474).

(9) Lihat: Al-‘Uddah Syarhu al-‘Umdah karya Bahauddin al-Maqdisi (hal. 117).

(10) Lihat: Al-Majmu’ Syarhu al-Muhadzdzab karya al-Nawawi (4/531).

(11) Sanad hadis ini dinilai hasan oleh Nuruddin al-Haitsami dalam Majma’ al-Zawaid wa Manba’ al-Fawaid (2/191), no. 3167, lihat juga Ahadits al-Jumu’ah karya Abdulquddus Muhammad Nadzir (hal. 312).

(12) Lihat rincian permasalahan ini dalam tulisan sebelumnya di link berikut: https://markazsunnah.com/hukum-salat-jumat-jika-bertepatan-dengan-hari-id/

image_pdfUnduh PDF
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments