BAB 4 DZAN ANWATH: PELAJARAN TAUHID TENTANG SEBUAH POHONPerkiraan waktu baca: 3 menit

4
IMG WA[]

40 HADIS TENTANG KOREKSI KEKELIRUAN AKIDAH[1]

Teks Hadis:

عَنْ أَبِي وَاقِدٍ اللَّيْثِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ لَمَّا خَرَجَ إِلَى حُنَيْنٍ مَرَّ بِشَجَرَةٍ لِلْمُشْرِكِينَ يُقَالُ لَهَا: ذَاتُ أَنْوَاطٍ، يُعَلِّقُونَ عَلَيْهَا أَسْلِحَتَهُمْ، فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، اجْعَلْ لَنَا ذَاتَ أَنْوَاطٍ كَمَا لَهُمْ ذَاتُ أَنْوَاطٍ، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «سُبْحَانَ اللَّهِ! هَذَا كَمَا قَالَ قَوْمُ مُوسَى: ﴿اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ﴾، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَتَرْكَبُنَّ سُنَّةَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ».

Artinya: Dari Abu Waqid al-Laitsi radhiyallahu ‘anhu, bahwa ketika Rasulullah ﷺ berangkat menuju Hunain, beliau melewati sebuah pohon milik kaum musyrikin yang disebut Dzat Anwath. Mereka biasa menggantungkan senjata pada pohon tersebut. Para sahabat pun berkata, “Wahai Rasulullah, buatkanlah untuk kami Dzat Anwath sebagaimana mereka memiliki Dzat Anwath.”

Nabi ﷺ bersabda, “Mahasuci Allah! Ucapan ini seperti perkataan kaum Nabi Musa, ‘Buatkanlah untuk kami sesembahan sebagaimana mereka memiliki sesembahan.’ Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalian pasti akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian.”

Takhrij Hadis:

Diriwayatkan oleh al-Tirmidzi dalam Kitab al-Fitan, bab tentang sabda Nabi ﷺ, “Kalian pasti akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian”, no. 2180; al-Nasa’i dalam al-Sunan al-Kubra (10/100), no. 11121; dan Ahmad dalam al-Musnad (36/225), no. 21897. Al-Tirmidzi menilainya hasan sahih. Hadis ini juga dinyatakan sahih oleh al-Albani.

Kekeliruan Akidah

Ketika Rasulullah ﷺ berangkat menuju Hunain, beliau melewati sebuah pohon milik kaum musyrikin yang disebut Dzat Anwath. Mereka menggantungkan senjata pada pohon itu. Para sahabat kemudian meminta, “Wahai Rasulullah, buatkanlah untuk kami Dzat Anwath sebagaimana mereka memiliki Dzat Anwath.”

Baca juga:  BAB 3: MEMBANGUN MASJID DAN MEMASANG GAMBAR DI ATAS KUBURAN

Koreksi Nabi ﷺ

Nabi ﷺ bersabda:

«سُبْحَانَ اللَّهِ! هَذَا كَمَا قَالَ قَوْمُ مُوسَى: ﴿اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ﴾، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَتَرْكَبُنَّ سُنَّةَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ».

Artinya: “Mahasuci Allah! Ucapan ini seperti perkataan kaum Nabi Musa, ‘Buatkanlah untuk kami sesembahan sebagaimana mereka memiliki sesembahan.’ Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalian pasti akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian.”

Nabi ﷺ menyamakan permintaan mereka dengan permintaan Bani Israil. Keduanya sama-sama meminta agar dibuatkan sesuatu yang dipertuhankan dan disembah selain Allah. Meskipun ungkapannya berbeda, maknanya sama. Perubahan nama tidak mengubah hakikat suatu perbuatan.

Ungkapan dalam riwayat lain, “Kaum musyrikin memiliki sebatang pohon bidara yang biasa mereka datangi dan diami,” menggunakan kata ‘ukuf, yaitu menetap dan terus berada di suatu tempat untuk sesuatu. Kata ini juga terdapat dalam perkataan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam:

مَا هَٰذِهِ التَّمَاثِيلُ الَّتِي أَنْتُمْ لَهَا عَاكِفُونَ

Artinya: “Patung-patung apakah ini yang kalian tekun menyembahnya?” (Q.S. Al-Anbiya’: 52)

Kaum musyrikin berdiam di sekitar pohon bidara tersebut untuk mencari berkah dan mengagungkannya. Dalam riwayat ‘Amr disebutkan:

«كَانَ يُنَاطُ بِهَا السِّلَاحُ، فَسُمِّيَتْ ذَاتَ أَنْوَاطٍ، وَكَانَتْ تُعْبَدُ مِنْ دُونِ اللَّهِ»

Artinya: “Senjata-senjata biasa digantungkan pada pohon itu sehingga dinamakan Dzat Anwath. Pohon tersebut disembah selain Allah.”[2]

Adapun ungkapan “mereka menggantungkan senjata pada pohon itu” bermakna bahwa mereka melakukannya untuk mencari berkah.

Hal ini menjelaskan bahwa penyembahan mereka terhadap pohon tersebut dilakukan melalui pengagungan, berdiam di sekitarnya, dan mencari berkah darinya. Melalui ketiga perbuatan itulah pohon-pohon dan benda-benda semisalnya disembah.

Karena itu, perbuatan orang yang meyakini keistimewaan tertentu pada pohon, kuburan, atau batu, kemudian mencari berkah darinya, berdiam di sekitarnya sebagai bentuk pengagungan, dan mempersembahkan sembelihan kepadanya, merupakan kesyirikan. Janganlah seseorang terkecoh oleh perilaku orang-orang awam dan mereka yang tidak berilmu. Jangan pula menganggap mustahil kesyirikan kepada Allah terjadi di tengah umat ini.

Baca juga:  BAB 2 SABDA NABI ﷺ: “ISTIRAHATKAN KAMI DARI DZU AL-KHALASHAH!”

Sebagian sahabat yang baru masuk Islam saja pernah menganggap perbuatan tersebut baik dan memintanya kepada Nabi ﷺ. Beliau kemudian menjelaskan bahwa permintaan itu serupa dengan perkataan Bani Israil:

اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ

Artinya: “Buatkanlah untuk kami sesembahan sebagaimana mereka memiliki sesembahan.” (Q.S. Al-A‘raf: 138)

Jika demikian, tentu kekeliruan seperti ini lebih mungkin tidak disadari oleh orang-orang yang ilmu dan keutamaannya jauh di bawah mereka, terlebih ketika kebodohan merajalela dan masa kehidupan mereka semakin jauh dari masa kenabian.[3]

Yang wajib dilakukan adalah berpegang teguh pada tauhid dan sunah serta mempelajari keduanya dengan baik. Hendaknya seseorang juga mewaspadai praktik mencari berkah yang tidak disyariatkan, sebagaimana dilakukan sebagian orang yang tidak berilmu di kuburan para wali dan orang saleh, seperti mencium kuburan, mengusap ambang bangunannya, dan berbagai bentuk pencarian berkah lainnya yang tidak memiliki dasar syariat.

Praktik-praktik tersebut menjadi jalan bagi setan untuk menjerumuskan mereka secara bertahap ke dalam bidah dan syirik besar, hingga mereka mempersembahkan ibadah, doa, permohonan pertolongan, sembelihan, dan nazar kepada selain Allah ‘Azza wa Jalla.

Pelajaran dari Hadis

  1. Menjaga kemurnian tauhid dan menutup jalan-jalan yang mengantarkan kepada kesyirikan.
  2. Larangan menyerupai atau meneladani orang-orang kafir dan musyrik, serta perintah meninggalkan kebiasaan dan perbuatan jahiliah.
  3. Adanya kemarahan dalam proses pengajaran.
  4. Kesyirikan dapat terjadi tanpa disadari, bahkan pada orang yang termasuk paling berilmu dan paling saleh.
  5. Bukti nyata mukjizat Rasulullah ﷺ, karena apa yang beliau kabarkan benar-benar terjadi.

Footnote:

[1] Diterjemahkan dari kitab al-Arba‘un al-Nabawiyyah fi Tashwib al-Akhtha’ al-‘Aqadiyyah karya Syekh Zaid bin Falih al-Rab‘ al-Syammari, pembahasan keempat, hlm. 22–24.

Baca juga:  BAB 1: PENGHANCURAN BERHALA-BERHALA DI SEKITAR KA'BAH OLEH NABI SHALLALLAHU 'ALAIHI WASALLAM

[2] H.R. al-Thabarani dalam al-Mu‘jam al-Kabir (17/21), no. 27.

[3] Lihat Fath al-Majid, karya Abdurrahman bin Hasan Alu al-Syaikh, hlm. 137–139, dengan penyesuaian redaksi sebagaimana dikutip penulis.

Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Oldest
Newest Most Voted