HADIS KETIGA PULUH TIGA: KEMAHIRAN DALAM MEMANAHPerkiraan waktu baca: 3 menit

5
HADIS TENTANG OLAHRAGA []

40 HADIS TENTANG OLAH RAGA(1)

Muhammad Thariq Syaifullah

REDAKSI HADIS:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه قالَ: كَانَ أَبُو طَلْحَةَ t يَتَتَرَّسُ مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم بِتُرْسٍ وَاحِدٍ، وَكَانَ     أَبُو طَلْحَةَ t حَسَنَ الرَّمْيِ، فَكَانَ إذا رَمَى تَشَرَّفَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم فَيَنْظُرُ إلى مَوْضِعِ نَبْلِهِ. (رواه البخاري).

Artinya: Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Abu Thalhah Radiyallahu ‘anhu pernah melindungi Rasulullah e dengan satu perisai. Abu Thalhah Radiyallahu ‘anhu adalah seorang pemanah yang sangat terampil. Setiap kali ia melepaskan anak panah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjulurkan kepala untuk melihat ke arah sasaran anak panahnya.”(H.R. Bukhari).

     Dalam riwayat lain dalam Sahih al-Bukhari yang juga diriwayatkan dari Anas Radiyallahu ‘anhu:

لَمَّا كانَ يَوْمَُ أُحُدٍ انْهَزَمَ النَّاسُ عن النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم، وَأَبُو طَلْحَةَ بَيْنَ يَدَيِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم مُجَوِّبٌ عَلَيْهِ بِحَجَفَةٍ لَهُ وَكانَ أَبُو طَلْحَةَ رَجُلًا رامِيًا شَدِيدَ النَّزْعِ، كَسَرَ يَوْمَئِذٍ قَوْسَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا، وَكانَ الرَّجُلُ يَمُرُّ مَعَهُ بِجَعْبَةٍ مِنَ النَّبْلِ، فَيَقُولُ: انْثُرْها لِأَبِي طَلْحَةَ. قالَ: وَيُشْرِفُ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَنْظُرُ إلى الْقَوْمِ، فَيَقُولُ أَبُو طَلْحَةَ: بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي، لَا تُشْرِفْ، يُصِيبُكَ سَهْمٌ مِنْ سِهامِ الْقَوْمِ، نَحْرِي دُونَ نَحْرِكَ. وَلَقَدْ رَأَيْتُ عائِشَةَ بِنْتَ أَبِي بَكْرٍ وَأُمَّ سُلَيْمٍ، وَإِنَّهُما لَمُشَمِّرَتانِ، أَرَى خَدَمَ سُوقِهِما، تُنْقِزانِ الْقِرَب على مُتُونِهِما، تُفْرِغانِهِ فِي أَفْواهِ الْقَوْمِ، ثُمَّ تَرْجِعانِ فَتَمْلَآنِها، ثُمَّ تَجِيئانِ فَتُفْرِغانِهِ فِي أَفْواهِ الْقَوْمِ، وَلَقَدْ وَقَعَ السَّيْفُ مِنْ يَدَيْ أَبِي طَلْحَةَ، إِمَّا مَرَّتَيْنِ وَإِمَّا ثَلَاثًا.

Artinya: “Ketika Perang Uhud berlangsung, orang-orang melarikan diri dari sekitar Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Sementara itu, Abu Thalhah tetap berada di hadapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, melindungi beliau dengan perisainya. Abu Thalhah adalah seorang pemanah yang sangat terampil dan memiliki tarikan busur yang kuat. Pada hari itu, ia mematahkan dua atau tiga busur. Ada seorang laki-laki yang berjalan bersamanya membawa satu tempat anak panah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Keluarkanlah anak-anak panah itu untuk Abu Thalhah.” Anas berkata, ‘Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sesekali menjulurkan kepala untuk melihat keadaan kaum musyrikin. Abu Thalhah berkata, “Demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, janganlah engkau menjulurkan kepala! Bisa jadi salah satu anak panah mereka mengenai engkau. Biarlah leherku menjadi pelindung bagi lehermu.” Sungguh, aku juga melihat Aisyah binti Abu Bakar dan Ummu Sulaim. Keduanya telah menyingsingkan lengan baju. Aku melihat gelang kaki mereka ketika keduanya membawa kantong-kantong air di atas punggung mereka, lalu menuangkan air itu ke mulut para prajurit. Setelah itu, keduanya kembali untuk mengisi kantong-kantong air tersebut, kemudian kembali lagi dan menuangkannya ke mulut para prajurit. Sungguh, pedang itu sempat terjatuh dari kedua tangan Abu Thalhah, dua atau tiga kali.”

Baca juga:  HADIS KE-10 AL-ARBAIN: SUDAH LAMA BERDOA NAMUN TIDAK TERKABUL, MUNGKIN INI SEBABNYA

TAKHRIJ HADIS:

     Riwayat pertama terdapat dalam Shahīh al-Bukhāri, Kitab al-Jihad, Bab al-Junnah wa man Yatarrasu bi Tursi Shāhibihi (Perisai dan Orang yang Melindungi Diri dengan Perisai Sahabatnya), no. 2902.

     Adapun riwayat kedua terdapat dalam Kitab al-Maghāzi, Bab Idz Hammat ath-Thā’ifatāni Minkum an Tafsyalā (Ketika dua golongan di antara kalian hendak mundur karena takut), no. 4064.

BIOGRAFI SINGKAT SAHABAT PERAWI HADIS:

     Abu Thalhah adalah Zaid bin Sahl al-Anshari, suami dari Ummu Sulaim, ibu Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu.

KOSA KATA DAN SYARAH HADIS:

انْهَزَمَ النَّاسُ (orang-orang melarikan diri) : maksudnya, sebagian dari mereka melarikan diri.  

مُجَوِّبٌ عَلَيْهِ (melindungi beliau) : maksudnya, Abu Thalhah t melindungi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dari serangan musuh

بِحَجَفَةٍ لَهُ (dengan perisainya) : makna “al-hajafah” adalah perisai atau tameng.

شَدِيدَ النَّزْعِ (memiliki tarikan busur yang kuat) : maksudnya, ia memiliki kekuatan dalam menarik busur ketika memanah.

كَسَرَ يَوْمَئِذٍ قَوْسَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا (Pada hari itu, ia mematahkan dua atau tiga busur) : maksudnya, busur-busur tersebut patah karena kuatnya tarikan Abu Thalhah ketika memanah.

بِجَعْبَةٍ (Al-Ja’bah): maksudnya wadah yang digunakan untuk menyimpan anak panah.

لَا تُشْرِفْ (Jangan mengangkat kepala): maksudnya, jangan menjulurkan atau mengangkat kepala untuk mengawasi keadaan mereka.

وَلَقَدْ وَقَعَ السَّيْفُ مِنْ يَدَيْ أَبِي طَلْحَةَ، إِمَّا مَرَّتَيْنِ وَإِمَّا ثَلَاثًا (Sungguh, pedang itu sempat terjatuh dari kedua tangan Abu Thalhah, dua atau tiga kali): maksudnya, karena mengantuk.

Dikatakan bahwa seorang pemanah membutuhkan seseorang yang melindunginya, karena kedua tangannya sibuk memegang dan menggunakan busur untuk memanah. Oleh karena itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam melindungi Abu Thalhah dengan perisainya.(2)

     Syekh al-Muthi’i rahimahullah berkata: “Memanah termasuk keterampilan yang wajib dipersiapkan dan dilatih oleh kaum muslimin untuk menghadapi musuh dan berjihad melawan mereka dalam rangka meninggikan kalimat Allah dan merendahkan kalimat orang-orang kafir. Sebagaimana telah diketahui, busur dan anak panah termasuk senjata yang digunakan dalam peperangan. Pada zaman kita, keduanya telah berkembang menjadi berbagai jenis senjata api. Di antaranya ada senjata yang mengenai sasaran dengan cara diarahkan, seperti senapan mesin ringan, dan ada pula yang mengenai sasaran melalui pembidikan dan penembakan secara tepat…Oleh karena itu, keterampilan menembak dengan senapan dan berbagai peralatan modern lainnya termasuk fardu kifayah yang dengannya kemuliaan umat dapat ditegakkan, wilayahnya dapat dilindungi, dan panji-panji Islam dapat dijunjung tinggi…”(3)

Baca juga:  SUCIKAH RAMBUT YANG TELAH DICUKUR?

Footnote:

(1) Diterjemahkan dan disadur dari buku Al-Arba’ūn Al-Riyādhiyyah Arba’ūna Hadītsan fī Fadhāil al-Riyādhah, karya Syekh Muhammad Khair Ramadhan Yusuf hafizhahullah, diterbitkan oleh Dār al-Thayyibah lin Nasyr wa al-Tawzi’ di Riyadh-Saudi Arabia, Cetakan Pertama, tahun 1425H/2004M.

(2) Lihat: Fathu al-Bāri Syarh Shahīh al-Bukhāri (6/191) dan (8/108).

(3) Takmilah al-Majmu’ (16/115–116), dikutip dari Yunus, al-Al’ab ar-Riyadhiyyah, hlm. 85.

Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Oldest
Newest Most Voted