HADIS DUA PULUH TIGA: BALAP UNTAPerkiraan waktu baca: 1 menit

16
HADIS TENTANG OLAHRAGA []

40 HADIS TENTANG OLAH RAGA(1)

REDAKSI HADIS:

عَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه قَالَ: كَانَ لِلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم نَاقَةٌ تُسَمَّى الْعَضْبَاءَ لَا تُسْبَقُ (أَوْ لَا تَكَادُ تُسْبَقُ) فَجَاءَ أَعْرَابِيٌّ عَلَى قَعُودٍ فَسَبَقَهَا فَشَقَّ ذَلِكَ عَلَى الْمُسْلِمِينَ حَتَّى عَرَفَهُ فَقَالَ: حَقٌّ عَلَى اللهِ أَلَّا يَرْتَفِعَ شَيْءٌ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا وَضَعَهُ. (رواه البخاري).

Artinya: Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ memiliki seekor unta betina yang bernama al-‘Adhba’. Unta tersebut tidak pernah terkalahkan -atau hampir tidak pernah terkalahkan- dalam perlombaan. Kemudian datang seorang Arab Badui dengan menunggang seekor unta muda, lalu berhasil mengalahkannya. Peristiwa itu terasa berat bagi kaum muslimin hingga Rasulullah ﷺ mengetahui apa yang mereka rasakan. Beliau pun bersabda: ‘Sesungguhnya telah menjadi ketetapan Allah bahwa tidak ada sesuatu pun di dunia ini yang meninggi melainkan Dia akan merendahkannya.'” (H.R. Bukhari).

TAKHRIJ HADIS:

     Hadis ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab al-Jihad wa as-Siyar, Bab Nāqat an-Nabī (Bab Unta Milik Nabi ﷺ ), no. 2872.

KOSA KATA HADIS:

  • القَعُود (al-Qa’ud): Unta muda yang telah cukup umur dan siap untuk ditunggangi.
  • عَرَفَهُ (‘Arafahu): Maksudnya, Nabi ﷺ mengetahui kesedihan yang tampak pada wajah kaum muslimin.
  • العَضْبَاء (al-‘Adhba’): Nama unta betina milik Rasulullah ﷺ . Secara bahasa berarti unta yang telinganya terpotong atau terbelah, meskipun menurut sebagian ulama nama tersebut tidak menunjukkan bahwa unta Nabi ﷺ benar-benar memiliki cacat pada telinganya.

SYARAH HADIS:

       Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata bahwa hadis ini mengandung beberapa faedah, di antaranya:

  1. Hadis ini menunjukkan bolehnya menjadikan unta sebagai tunggangan sekaligus sebagai hewan untuk perlombaan.
  2. Hadis ini mengandung anjuran untuk bersikap zuhud terhadap dunia, karena segala sesuatu yang mencapai puncak kejayaan pada akhirnya akan mengalami penurunan. Hal ini merupakan sunnatullah yang berlaku pada seluruh makhluk.
  3. Hadis ini mengajarkan pentingnya bersikap tawadhu’ (rendah hati) dan tidak merasa bangga secara berlebihan terhadap kelebihan yang dimiliki, sebab kejayaan dan keunggulan tidak akan kekal selamanya.
  4. Hadis ini juga menunjukkan kemuliaan akhlak Rasulullah ﷺ , kesempurnaan sifat tawadhu’ beliau, serta besarnya kecintaan dan penghormatan para sahabat kepada beliau. Mereka merasa sedih bukan karena kekalahan seekor unta semata, tetapi karena unta tersebut adalah milik Rasulullah ﷺ yang sangat mereka cintai.(2)
Baca juga:  HADIS KE-17 AL-ARBAIN: PERBUATAN IHSAN

Footnote:

(1) Diterjemahkan dan disadur dari buku Al-Arba’ūn Al-Riyādhiyyah Arba’ūna Hadītsan fī Fadhāil al-Riyādhah, karya Syekh Muhammad Khair Ramadhan Yusuf hafizhahullah, diterbitkan oleh Dār al-Thayyibah lin Nasyr wa al-Tawzi’ di Riyadh-Saudi Arabia, Cetakan Pertama, tahun 1425H/2004M.

(2) Fathu al-Bāri (6/176).

Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Oldest
Newest Most Voted