
SYARAH KITAB BULŪG AL-MARĀM[1]
Kitab al–Ṭahārah (Bersuci) | Bab Air
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِي الْبَحْرِ: هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ. أَخْرَجَهُ الْأَرْبَعَةُ، وَابْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَاللَّفْظُ لَهُ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ وَالتِّرْمِذِيُّ، وَرَوَاهُ مَالِكٌ وَالشَّافِعِيُّ وَأَحْمَدُ.
Artinya:
Dari Abū Hurairah raḍiyallāhu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang laut, “Airnya suci dan mensucikan serta bangkainya halal.” Hadis ini diriwayatkan oleh empat imam penulis kitab al-Sunan (Abu Dāwud, al-Tirmiżī, al-Nasā’ī, dan Ibnu Mājah), Ibn Abī Syaibah (dan lafaz hadis ini sesuai redaksi periwayatannya), serta dinyatakan sahih oleh Ibnu Khuzaimah dan al-Tirmiżī. Diriwayatkan pula oleh Mālik, al-Syāfi‘ī, dan Aḥmad.
Daftar isi:
Takhrij & Derajat Hadis
Hadis ini sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Ḥajar al-‘Asqalānī, diriwayatkan oleh empat imam pemilik kitab Sunan, yaitu: Abū Dāwud dalam kitabnya, al-Sunan (no. 83), al-Tirmiżī dalam kitabnya, al-Sunan atau al-Jāmi‘ (no. 69), al-Nasā’ī dalam kitabnya, al-Sunan al-Ṣugrā (no. 59), dan Ibnu Mājah dalam kitabnya, al-Sunan (no. 386). Hadis ini juga diriwayatkan oleh Imam Mālik dalam al-Muwaṭṭa’ (no. 12), Imam al-Syāfi‘ī dalam al-Umm (1/16) dan Musnad al-Syāfi’ī (no. 1), Imam Aḥmad dalam al-Musnad (no. 7192), Ibnu Abī Syaibah dalam al-Muṣannaf (1/130), dan Ibnu Khuzaimah dalam kitab Ṣaḥīḥ-nya (1/59).
Hadis ini telah dinyatakan sahih oleh para imam ahli hadis. Al-Tirmiżī berkata, “Hadis ini hasan sahih,”[2] dan beliau juga berkata, “Aku telah menanyakan hadis ini kepada Muḥammad -yakni al-Bukhārī- maka beliau menjawab, ‘Itu adalah hadis sahih’.”[3]
Hadis ini juga dinyatakan sahih oleh para imam besar lainnya, di antaranya: Ibnu Khuzaimah, Ibnu al-Munżir, al-Ṭahawī, Ibnu Ḥibbān, al-Daraquṭnī, al-Khaṭṭābī, Ibnu Mandah, al-Ḥākim, Ibnu Hazm al-Ẓāhirī, al-Baihaqi, Ibnu ‘Abdil Barr, al-Bagāwī, al-Jauzajanī, ‘Abd al-Haqq al-Isybilī, Ibnu al-Aṡir, Ibnu Daqīq al-‘Īd, Ibnu Taimiyah, Ibnu Kaṡir al-Dimasyqī, Ibnu al-Mulaqqin, Ibnu Ḥajar, dan selain mereka yang jumlahnya lebih dari tiga puluh enam imam.[4]
Kedudukan Hadis:
Hadis ini merupakan salah satu hadis yang sangat penting dalam pembahasan taharah. Berikut ini beberapa pernyataan ulama yang menunjukkan keutamaan hadis tersebut:
- Imam al-Syāfi‘ī berkata, “Hadis ini merupakan setengah dari ilmu taharah.” [5]
- Ibnu al-Mulaqqin berkata, “Sesungguhnya hadis ini adalah hadis yang agung, merupakan salah satu pokok dari pokok-pokok taharah, mencakup banyak hukum dan kaidah-kaidah yang penting.” [6]
- Al-Zarqānī berkata, “Hadis ini adalah salah satu pokok dari pokok-pokok Islam, yang diterima oleh para imam, dan dijadikan rujukan oleh para fukaha di berbagai negeri, pada setiap masa, dan di seluruh penjuru.” [7]
Sabāb Wurūd (Latar Belakang Munculnya) Hadis Ini:
Al-Ḥāfiẓ Ibnu Ḥajar dalam kitabnya, Bulūg al-Maram, telah meringkas hadis ini, beliau hanya menyebutkan bagian yang menjadi intinya (bagian penunjuk hukum), padahal hadis ini memiliki sebab atau konteks.
Sebab disabdakannya hadis ini adalah adalah ketika seorang laki-laki datang kepada Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, kami sering berlayar di laut dan membawa air hanya sedikit. Jika kami berwudu dengannya, kami akan kehausan. Apakah kami boleh berwudu dengan air laut?” Maka Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Air laut itu suci dan mensucikan, serta bangkainya halal.”
Para sahabat raḍiyallāhu ‘anhum sempat ragu menggunakan air laut untuk bersuci karena airnya asin dan baunya kurang sedap; sesuatu yang berbau seperti itu biasanya tidak layak diminum. Mereka pun mengira bahwa apa yang tidak layak diminum juga tidak boleh dipakai bersuci. Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam tidak menjawab pertanyaan mereka dengan hanya mengatakan “Ya” (boleh berwudu dengannya), agar hukum kebolehan itu tidak disangka hanya berlaku dalam kondisi darurat saja padahal tidak demikian. Beliau juga tidak ingin mereka mengira bahwa kebolehan itu hanya berlaku untuk wudu, bukan untuk seluruh bentuk bersuci dari hadas dan najis.[8]
Faedah-faedah Terkait Hadis Ini
- Hadis ini menunjukkan bahwa air laut bersifat suci dan menyucikan; pendapat ini dipegang oleh seluruh ulama, kecuali segelintir yang menyelisihinya.[9]
- Air laut dapat menghilangkan hadas besar dan hadas kecil, serta dapat menghilangkan najis yang menimpa tempat yang suci, baik pada tubuh, pakaian, tanah, maupun selainnya, karena air laut adalah air yang suci dan tetap pada sifat penciptaannya.
- Apabila air berubah rasa, warna, atau baunya karena bercampur dengan sesuatu yang suci, maka air tersebut tetap bersifat menyucikan, selama masih disebut air dan tetap pada hakikatnya, meskipun kadar asin, panas, atau dinginnya bertambah, dan semisalnya.
- Hadis ini menunjukkan bahwa pada saat safar tidak wajib membawa air dalam jumlah yang cukup untuk bersuci walaupun hal itu mampu dilakukannya, karena para sahabat mengabarkan bahwa mereka hanya membawa sedikit air dan tidak disalahkan oleh Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam.
- Bangkai hewan laut halal untuk dimakan. Yang dimaksud dengan bangkai hewan laut adalah hewan-hewan yang mati di dalam laut dan tidak dapat hidup kecuali di dalamnya.
- Air yang digunakan untuk menghilangkan hadas dan najis harus berupa air yang suci dan mensucikan, sebagaimana Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam menjelaskan kebolehan berwudu dengan air laut karena sifatnya yang ṭahūr(suci dan mensucikan).
- Dibolehkan melakukan perjalanan naik kapal atau menyeberangi laut bukan hanya untuk keperluan haji, umrah, atau jihad, tetapi juga untuk kepentingan duniawi yang mubah.
- Seorang mufti (pemberi fatwa), apabila melihat keadaan penanya membutuhkan penjelasan tambahan di luar pertanyaannya, maka disyariatkan baginya untuk menerangkan hal itu. Inilah salah satu keindahan dalam berfatwa sekaligus tanda kecerdasan, ketajaman pengamatan, dan juga bentuk kepedulian terhadap kemaslahatan orang lain. Hal ini tidak dianggap sebagai sikap berlebihan atau mencampuri urusan yang tidak perlu. Wallāhu a‘lam.[10]
Footnote:
[1] Kitab Bulūg al-Marām merupakan salah satu kitab hadis yang membahas hukum-hukum syariat dan termasuk karya fenomenal dari al-Ḥafīẓ Abū al-Faḍl Aḥmad bin ‘Ālī bin Muḥammad al-Kinani al-Miṣrī, yang lebih dikenal dengan Ibnu Ḥajar al-‘Asqalānī raḥimahullāh. Beliau adalah salah seorang ulama besar dalam bidang hadis dari kalangan mazhab Syāfi’ī. Ibnu Hajar lahir pada tahun 773 H dan wafat pada tahun 852 H. Kitab Bulūg al-Marām memiliki banyak syaraḥ (penjelasan). Di antara kitab-kitab syarah yang menjadi rujukan kami adalah Subul al-Salām karya al-Ṣan‘ānī (w. 1182 H), Fatḥu Ẑi al-Jalāl wa al-Ikrām karya Ibnu Uṡaimīn (w. 1421 H), Tawḍīḥ al-Aḥkām karya ‘Abdullāh al-Bassām (w. 1423 H), Tuhfah al-Kirām karya Luqmān al-Salafī (w. 1441 H) –raḥimahumullāhu jamī‘an– serta Minhatu al-‘Allām karya ‘Abdullāh al-Fauzān hafiẓahullāh.
[2] Jāmi’ a-Tirmiżī (1/87).
[3] Al-‘Ilal al-Kabīr (h. 41).
[4] Lihat: al-Badr al-Munīr (1/349), Tahżīb at-Tahżīb (10/257), Irwā’ al-Galīl (1/43), Tauḍīḥ al-Aḥkām (1/115), dan Minḥatu al-‘Allām (1/27).
[5] Lihat: Al-Majmū’ Syarḥu al-Muhażżab (1/84).
[6] Al-Badru al-Munīr (1/374).
[7] Syarḥu al-Zarqānī ‘alā al-Muwaṭṭa’ (1/134).
[8] Lihat: Minhah al-‘Allām (1/28) dan Al-Bayān wa al-Ta’rīf fī Asbāb Wurūd al-Ḥadīṡ al-Syarīf karya al-Ḥusainī al-Ḥanafī (2/236).
[9] Lihat: al-Iqnā‘ fī Masā’il al-Ijmā‘ karya Ibnu al-Qaṭṭān (1/74), dan Bidāyah al-Mujtahid karya Ibnu Rusyd (1/29).
[10] Lihat: ‘Āriḍat al-Aḥważī (1/151), Syarḥ al-Imām bi Aḥādīṡ al-Aḥkām karya Ibnu Daqīq al-‘Īd (1/139), al-Nafḥ al-Syażī Syarḥ Jāmi‘ al-Tirmiżī karya Ibnu Sayyid al-Nās (2/174), Tauḍīḥ al-Aḥkām (1/117), dan Minḥat al-‘Allām (1/28).
















