HADIS KE-31 AL-ARBA’IN: CARA MERAIH CINTA ALLAH DAN CINTA MANUSIA

373
Perkiraan waktu baca: 3 menit
image_pdfUnduh PDF

عَنْ أَبي العَباس سَهلٍ بنِ سَعدِ السَّاعِدي رضي الله عنه قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النبي ﷺ فَقَالَ: يَا رَسُول الله: دُلَّني عَلَى عَمَلٍ إِذَا عَمَلتُهُ أَحَبَّني اللهُ، وَأَحبَّني النَاسُ ؟ فَقَالَ: (ازهَد في الدُّنيَا يُحِبَّكَ اللهُ ، وازهَد فيمَا عِندَ النَّاسِ يُحِبَّكَ النَّاسُ) حديث حسن رواه ابن ماجه وغيره بأسانيد حسنة

Dari Abul Abbās Sahl bin Sa’ad al-Sā’idī raḍiyallāhu ‘anhu, ia berkata, “Ada seseorang datang kepada Nabi r lalu mengatakan, ‘Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku sebuah amalan yang bila kukerjakan, Allah ta’ālā dan manusia mencintaiku’. Beliau menjawab, ‘Bersikaplah zuhud terhadap dunia, niscaya Allah akan mencintaimu dan bersikaplah zuhud terhadap apa yang ada pada manusia niscaya mereka akan mencintaimu’.” Ini adalah hadis yang hasan, diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan lain-lain dengan sanad yang hasan.

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Mājah (4102), al-‘Uqayli dalam kitab al-Ḍu’afā` (11/2), Ibnu ‘Adi dalam al-Kāmil (3/13), al-Ḥākim (4/313) dan Abū Nu’aim dalam Ḥilyah al-Auliyā` (3/252). Sanad hadis ini berporos pada Khālid bin ‘Amr al-Qurasyi dari Sufyān al-Ṡauri dari Abū Ḥāzim dari Sahl bin Sa’ad al-Sā’idī.

Khālid adalah perawi yang dipermasalahkan oleh ahli hadis[1].  Al-Sindi berkata, “Dalam sanad hadis ini, ada Khālid bin ‘Amr, dimana ia adalah perawi yang telah disepakati kelemahannya dan dituduh memalsukan hadis.”[2]

Terdapat jalur lain yakni jalur Muhammad bin Katsir al-Maṣīṣi dari Sufyān. Abu Ḥātim berkata, “Ini adalah hadis yang batil, yakni melalui jalur ini (jalur Muhammad bin Katsir al-Maṣīṣi).”[3]

Kesimpulannya, kedua jalur yang disebutkan telah dilemahkan oleh para ulama.

Hadis ini menunjukkan keutamaan zuhud terhadap dunia. Diterangkan bahwa zuhud adalah sebab kecintaan Allah kepada hamba-Nya. Yang dimaksud dengan zuhud terhadap dunia ini ialah memutuskan keterikatan hati terhadap dunia walaupun seseorang tetap bekerja, berusaha, berdagang, bercocok tanam dan lain sebagainya. Sekeras apa pun seseorang bekerja dan berusaha di dunia ini, ia tetap dikategorikan bersifat zuhud selama hatinya terpaut terhadap akhirat dan senantiasa bersiap menyambutnya.

Ibnu Qayyim berkata, “Keinginan terhadap akhirat tidak akan sempurna melainkan dengan bersikap zuhud terdahap dunia ini. Sikap zuhud tersebut tidak akan benar kecuali setelah meluruskan cara pandang terhadap dua hal. Pertama, cara pandang terhadap dunia, bahwa dunia  sangat cepat musnah, fana, menghilang, berkurang, dan hina. Adanya kepedihan berebut dunia dan ketamakan terhadap dunia. Di dalam itu semua terdapat kekeruhan, rasa sakit, dan kesedihan. Akhirnya adalah sirna dan musnah, disusul dengan penyesalan. Oleh karena itu, orang yang mengejar dunia tidak akan pernah terlepas dari kegundahan, baik sebelum mencapainya, saat memperolehnya, maupun ketika kehilangannya. Kedua, cara pandang terhadap akhirat, bahwa akhirat adalah fase yang pasti tiba, kekal, dan abadi. Di dalamnya terdapat kebaikan, kebahagiaan, dan kesenjangan yang begitu jauh antara kehidupan di sana dengan kehidupan di sini. Akhirat seperti yang disebutkan oleh Allah,

وَالْاٰخِرَةُ خَيْرٌ وَّاَبْقٰىۗ

“Kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” (Q.S. al-A’lā:17)

Akhirat ialah kebaikan sempurna yang abadi. Sedangkan dunia adalah fatamorgana tak sempurna yang akan sirna. Jika kedua cara pandang ini sudah benar, seseorang akan memilih berdasakan konsekuensi logis dan bersikap zuhud dari terhadap pilihan berdasarkan konsekuensi logis tersebut.”[4]

Sikap ini diamalkan oleh para sahabat dalam kehidupan perjuangan dakwah bersama Rasulullah r. Al-Khabbāb berkata,

هَاجَرْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَلْتَمِسُ وَجْهَ اللهِ ، فَوَقَعَ أَجْرُنَا عَلَى اللهِ ، فَمِنَّا مَنْ مَاتَ لَمْ يَأْكُلْ مِنْ أَجْرِهِ شَيْئًا، مِنْهُمْ مُصْعَبُ بْنُ عُمَيْرٍ ، وَمِنَّا مَنْ أَيْنَعَتْ لَهُ ثَمَرَتُهُ فَهُوَ يَهْدِبُهَا ، قُتِلَ يَوْمَ أُحُدٍ فَلَمْ نَجِدْ مَا نُكَفِّنُهُ إِلَّا بُرْدَةً ، إِذَا غَطَّيْنَا بِهَا رَأْسَهُ خَرَجَتْ رِجْلَاهُ ، وَإِذَا غَطَّيْنَا رِجْلَيْهِ خَرَجَ رَأْسُهُ ، فَأَمَرَنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نُغَطِّيَ رَأْسَهُ، وَأَنْ نَجْعَلَ عَلَى رِجْلَيْهِ مِنَ الْإِذْخِرِ

“Kami berhijrah bersama Nabi ﷺ dengan hanya mengharapkan rida Allah dan kami telah mendapatkan pahala di sisi Allah. Lalu di antara kami ada yang meninggal lebih dahulu sebelum menikmati pahalanya sedikit pun (di dunia ini), di antaranya adalah Muṣ’ab bin ‘Umayr. Di antara kami ada pula yang buah (perjuangannya) sudah masak lalu dia memetiknya.  Muṣ’ab bin ‘Umayr terbunuh di medan Perang Uhud namun kami tidak mendapatkan kain untuk mengafaninya kecuali burdah (kain bergaris). Bila kain tersebut kami gunakan untuk menutup kepalanya, kakinya terbuka. Bila kakinya yang hendak kami tutup, kepalanya terbuka. Olehnya, Nabi ﷺ memerintahkan kami untuk menutup kepalanya dengan kain tersebut sedangkan kakinya kami tutup dengan dedaunan.”[5]

Telah diketahui bahwa Muṣ’ab bin ‘Umayr dulunya termasuk pemuda paling berada di kota Mekkah. Abu Dzar mengisahkan,

كُنْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا أَبْصَرَ يَعْنِي أُحُدًا. قَالَ: مَا أُحِبُّ أَنَّهُ تَحَوَّلَ لِي ذَهَبًا يَمْكُثُ عِنْدِي مِنْهُ دِينَارٌ فَوْقَ ثَلَاثٍ إِلَّا دِينَارًا أُرْصِدُهُ لِدَيْنٍ. ثُمَّ قَالَ: إِنَّ الْأَكْثَرِينَ هُمْ الْأَقَلُّونَ إِلَّا مَنْ قَالَ بِالْمَالِ هَكَذَا وَهَكَذَا -وَأَشَارَ أَبُو شِهَابٍ بَيْنَ يَدَيْهِ وَعَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ- وَقَلِيلٌ مَا هُمْ

“Aku duduk-duduk bersama Nabi ﷺ dan ketika beliau melihat gunung Uhud, beliau bersabda, ‘Aku tidak menyukainya seandainya bukit itu diubah untukku menjadi emas lalu berada padaku melebihi tiga hari kecuali satu dinar saja yang kusiapkan untuk membayar hutang.’ Kemudian beliau melanjutkan, ‘Sesungguhnya orang-orang yang paling banyak (harta), merekalah orang-orang yang paling sedikit (pahala) kecuali orang yang berkata hartanya begini begini )Abu Syihab -rawi hadis ini- memberi isyarat dengan tangannya ke arah kanan dan kiri) dan betapa sedikitnya mereka’.”[6]

Maksudnya ialah kecuali orang yang menyalurkan hartanya untuk orang lain yang ada di kanan, kiri, dan depannya.[7]

Seseorang pernah berkata kepada Muhammad bin Wāsi’, “Berilah saya wasiat/wejangan!” Beliau pun mengatakan, “Aku nasihatkan padamu, jadilah raja di dunia dan di akhirat.” “Bagaimana bisa?” tanya orang itu. “Bersikaplah zuhud di dunia ini,” jawab Muhammad bin Wāsi’.[8]

Hadis ini juga mengajarkan kepada kita agar zuhud terhadap apa yang dimiliki orang lain. Hal ini dapat mengundang kecintaan mereka. Sebabnya adalah tabiat manusia yang mencintai harta benda dan enggan melepaskannya kepada orang yang memintanya. Oleh karena itu, orang yang tidak ‘melirik’ harta orang lain lebih disukai sedangkan orang yang tamak terhadap harta orang lain dibenci.


Footnote:

[1] Lihat: ‘Ilal Aḥmad (3/254), al-Jarḥ wa al-Ta’dīl (3/343), Tahdzīb al-Kamāl (8/138).

[2] Syarḥ al-Sindi (2/523).

[3] Lihat: al-‘Ilal (1815).

[4] Lihat: al-Fawā`id hal. 136-137.

[5] H.R. Bukhari (1276).

[6] H.R. Bukhari (2388).

[7] Lihat: ‘Umdah al-Qārī (2/227).

[8] Ḥilyah al-Auliyā` (6/302).

image_pdfUnduh PDF
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments