PERMISALAN UKHUWAH ISLAMIAH

247
Perkiraan waktu baca: 2 menit
image_pdfUnduh PDF

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara. Dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. Ali Imran: 103)

عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ رضي الله عنهما، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

Dari al-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Permisalan orang-orang yang beriman dalam saling mencintai, saling merahmati, dan saling mengasihi diantara mereka ibarat satu tubuh. Apabila salah satu anggota tubuh merintih kesakitan, niscaya seluruh anggota tubuh yang lain akan turut merasakannya dengan tidak bisa tidur pada malam hari dan demam.’”[1]

Sifat visioner Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditunjukkannya dalam banyak momen bersama para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum ajma’in. Hal tersebut tentu saja lahir dari keyakinan beliau yang kuat bahwa Islam akan menjadi agama yang dimenangkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Dia berfirman,

هُوَ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ

“Dialah Allah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai.”[2]

Dan ketika Rasulullah berbicara tentang kemenangan maka apa yang terlintas bukanlah sekadar persatuan suku dan kabilah Arab saja atau kemenangan kaum muslimin atas kaum kuffar Quraisy semata. Lebih dari itu, kemenangan yang diyakininya adalah persatuan Arab dan ‘ajam (non Arab), kejayaan atas Roma dan Persia, kemenangan gemilang atas musuh-musuh Allah, dan Islam menjadi agama yang rahmatan lil ‘alamin.

Namun, kemenangan itu tentu saja tidak akan datang dengan sendirinya. Karenanya, selama nyawa masih dikandung badan terlebih dahulu beliau mengokohkan pondasi utama Islam kepada seluruh pengikutnya untuk menjadi umat yang satu. Umat yang disatukan oleh iman meski berbeda suku dan nasab. Umat yang dikuatkan oleh keyakinan yang sama meski berbeda warna kulit dan bahasa.

Ukhuwah Islamiah merupakan syiar Islam yang paling utama. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوْا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ

“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu dan takutlah terhadap Allah supaya kamu mendapatkan rahmat.”[3]

Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menafikan kesempurnaan iman seseorang kecuali jika dia merealisasikan konsekwensinya, di antaranya melestarikan ukhuwah islamiah. Beliau bersabda:

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ، حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidak beriman salah seorang dari kalian, hingga dia mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya.”[4]

Ibnu al-Jauzi rahimahullah menjelaskan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memisalkan umatnya seperti sebuah tubuh. Karena iman yang telah menyatukan mereka sebagaimana tubuh menyatukan anggota-anggota tubuh lainnya, maka luka dan sakit yang menganga pada salah satu anggota tubuh akan mempengaruhi anggota tubuh lainnya. Begitu pula tubuh Islam yang dibalut oleh guratan iman, kesedihan, kemelaratan, duka, dan derita seorang mukmin adalah kesedihan, kemelaratan, duka, dan derita mereka seluruhnya.[5]

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menukil perkataan Ibnu Abi Jamrah bahwa Rasulullah memisalkan iman sebagai sebuah tubuh dan orang-orang beriman sebagai anggota tubuh itu karena iman adalah inti sedang syariat adalah cabangnya. Maka kekurangan apapun yang terdapat pada cabangnya, akan berpengaruh kepada intinya berupa iman.[6] Persatuan kaum muslimin ibarat sebuah tubuh yang dicerminkan dengan sifat saling mencintai, saling merahmati, dan saling mengasihi, meskipun memiliki makna yang mirip namun hakikatnya terdapat perbedaan masing-masing. Adapun sifat saling merahmati maka orang-orang yang beriman adalah mereka yang saling merahmati dengan dasar ukhuwah imaniah mereka semata. Sifat saling mencintai bermakna bahwa apa yang menghubungkan antara mereka akan menumbuhkan rasa cinta dengan saling mengunjungi atau saling memberi hadiah. Sedangkan sifat saling mengasihi bermakna bahwa mereka saling tolong-menolong antara yang satu dengan yang lainnya agar terbangun kekuatan bersama.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ المُؤْمِنَ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

“Sesungguhnya perumpamaan seorang mukmin dengan mukmin lainnya ibarat sebuah bangunan yang saling menguatkan.”[7]

 


Footnote:

[1] HR. Bukhari nomor 6011 dan Muslim nomor 2586.

[2] QS. al-Taubah ayat 33.

[3] QS. Al-Hujurat ayat 10.

[4] HR. Bukhari nomor 13 dan Muslim nomor 45.

[5] Kasyful Musykil 2/212.

[6] Fathul Bari 10/439.

[7] HR. Bukhari nomor 481 dan Muslim nomor 2585.   

image_pdfUnduh PDF
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments