PERMISALAN RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM DAN UMATNYA

255
Perkiraan waktu baca: 2 menit
image_pdfUnduh PDF

يَاأَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمُ الرَّسُولُ بِالْحَقِّ مِنْ رَبِّكُمْ فَآمِنُوا خَيْرًا لَكُمْ وَإِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا.

“Wahai manusia, sesungguhnya telah datang Rasul (Muhammad) itu kepadamu dengan (membawa) kebenaran dari Tuhanmu, maka berimanlah kamu, itulah yang lebih baik bagimu. Dan jika kamu kafir, (maka kekafiran itu tidak merugikan Allah sedikit pun) karena sesungguhnya apa yang di langit dan di bumi itu adalah kepunyaan Allah. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. an-Nisa’: 170)

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ: خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا فَقَالَ: إِنِّي رَأَيْتُ فِيَ الْمَنَامِ كَأَنَّ جِبْرِيلَ عِنْدَ رَأْسِي وَمِيكَائِيلَ عِنْدَ رِجْلَيَّ، يَقُولُ أَحَدُهُمَا لِصَاحِبِهِ: اضْرِبْ لَهُ مِثْلًا. فَقَالَ لَهُ: اسْمَعْ سَمعَهُ أُذُنُكَ، وَاعْقِلْ عَقَلَ قَلْبُكَ، إِنَّمَا مَثَلُكَ وَمَثَلُ أُمَّتِكَ، كَمَثَلِ مَلِكٍ اتَّخَذَ دَارًا، ثُمَّ بَنَى فِيهَا بَيْتًا، ثُمَّ جَعَلَ فِيهَا مَأْدُبَةً، ثُمَّ بَعَثَ رَسُولًا يَدْعُو النَّاسَ إِلَى طَعَامِهِمْ، فَمِنْهُمْ مَنْ أَجَابَ الرَّسُولَ، وَمِنْهُمْ مَنْ تَرَكَ، فَاللَّهُ هُوَ الْمَلِكُ، وَالدَّارُ الْإِسْلَامُ، وَالْبَيْتُ الْجَنَّةُ، وَأَنْتَ يَا مُحَمَّدُ الرَّسُولُ مَنْ أَجَابَكَ دَخَلَ الْإِسْلَامَ، وَمَنْ دَخَلَ الْإِسْلَامَ دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَمَنْ دَخَلَ الْجَنَّةَ أَكَلَ مِنْهَا.

Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, dia berkisah, “Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menemui kami dan bersabda, ‘Sesungguhnya semalam aku bermimpi melihat Jibril sedang berdiri di sisi kepalaku, sedang Mikail berdiri di sisi kakiku, salah seorang dari keduanya bertanya kepada yang lainnya, ‘Sebutkanlah sebuah permisalan untuk orang ini!’ Maka dia berkata kepadaku ‘Dengarkan dan pahamilah dengan baik! Permisalan dirimu dan umat yang mengikutimu permisalan seorang raja yang memiliki sebidang tanah dan membangun rumah di dalamnya. Dia mengadakan jamuan makan kemudian mengutus seorang utusan untuk mengundang masyarakat menghadiri jamuan tersebut. Maka di antara mereka ada yang memenuhi undangannya dan sebagiannya menolak. Maka perumpamaan Allah adalah sebagai sang raja, sebidang tanah adalah dinul-Islam, rumahnya adalah surga, dan engkau wahai Muhammad ibarat utusan sang raja. Siapa yang memenuhi undangan, dia telah masuk Islam. Siapa yang masuk Islam, akan masuk ke dalam surga. Dan siapapun yang masuk surga niscaya dia akan menyantap hidangannya.’” 

⁕⁕⁕

Sebagai seorang utusan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memiliki tugas utama untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ.

“Dan Kami (Allah) tidak mengutusmu melainkan menjadi rahmat seluruh alam.” 

Dari tugas utama ini, rentetan kewajiban kemudian dipikulkan di atas pundak beliau. Allah berfirman:

يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا وَدَاعِيًا إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيرًا.

“Hai Nabi, sesungguhnya Kami (Allah) mengutusmu untuk menjadi saksi, pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan. Dan untuk jadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi.” 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diutus oleh Allah Subhanahu wa ta’ala kepada seluruh manusia. Dalam realisasinya, umat manusia terbagi menjadi dua jenis: umat dakwah dan umat ijabah. Umat dakwah adalah seluruh manusia yang kepada mereka beliau diutus, baik mereka Arab ataupun ‘ajam (bukan Arab). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ، وَلَا نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ، إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ. 

“Demi Zat yang jiwa Muhammad berada di genggaman-Nya, tidak ada seorang pun yang sampai kepadanya dakwahku, Yahudi atau Nasrani, kemudian dia mati dan tidak beriman kepada risalah Islam yang aku bawa, melainkan dia akan masuk ke dalam neraka Allah.” 

Sedangkan umat ijabah adalah orang-orang yang telah beriman kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan membawa tanggung jawab tablig risalah Allah dengan pengajaran, pengamalan, dan penerapan syariat Allah subhanahu wa ta’ala. Dengan iman tersebut mereka mendapatkan syafaat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan karunia surga yang telah Allah janjikan kepadanya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَنْ يَأْبَى ؟ قَالَ: مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى.

“Setiap umatku akan masuk ke dalam surga kecuali mereka yang enggan.” Para sahabat kemudian bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang enggan itu?” Beliau menjawab, “Siapa yang menaatiku niscaya dia akan masuk surga, dan siapa yang mendurhakaiku maka dia telah enggan.” 

Hadis ini menjelaskan bahwa mendapatkan karunia surga tergantung pada ketaatan seseorang kepada Rasulullah, dan ketaatan kepada beliau adalah ketaatan kepada Allah subhanahu wa Ta’ala sebagaimana disebutkan dalam surah an-Nisa’ ayat 80:

مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ تَوَلَّى فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا.

“Siapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya dia telah mentaati Allah, dan siapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.” 

Badruddin al-’Aini rahimahullah menjelaskan bahwa sikap enggan yang dilakukan manusia terbagi menjadi dua: enggan menerima dakwah Rasulullah dan enggan menjalankan perintahnya. Adapun jenis yang kedua, maka mereka akan tetap masuk ke dalam surga Allah namun terlebih dahulu akan diazab di dalam neraka-Nya atas keengganannya untuk taat kepada syariat dan justru melakukan kemaksiatan kepada Allah. Sedangkan mereka yang enggan menerima dakwah Rasulullah, maka dia ibarat orang yang menolak ajakan utusan sang raja untuk menghadiri jamuan makan di kediamannya, yaitu surga Allah subhanahu wa Ta’ala.

image_pdfUnduh PDF
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments