NAQIYYAH, AJAADIB, DAN QII’AAN

205
Perkiraan waktu baca: 2 menit
image_pdfUnduh PDF

فَبَشِّرْ عِبَادِ. الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ وَأُولَئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Maka berikanlah kabar gembira kepada hamba-hamba-Ku, yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi oleh Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.(Q.S. al-Zumar: 17-18)

عَنْ أَبِي مُوسَى، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَثَلُ مَا بَعَثَنِي اللَّهُ بِهِ مِنَ الهُدَى وَالعِلْمِ، كَمَثَلِ الغَيْثِ الكَثِيرِ أَصَابَ أَرْضًا، فَكَانَ مِنْهَا نَقِيَّةٌ، قَبِلَتِ المَاءَ، فَأَنْبَتَتِ الكَلَأَ وَالعُشْبَ الكَثِيرَ، وَكَانَتْ مِنْهَا أَجَادِبُ، أَمْسَكَتِ المَاءَ، فَنَفَعَ اللَّهُ بِهَا النَّاسَ، فَشَرِبُوا وَسَقَوْا وَزَرَعُوا، وَأَصَابَتْ مِنْهَا طَائِفَةً أُخْرَى، إِنَّمَا هِيَ قِيعَانٌ لاَ تُمْسِكُ مَاءً وَلاَ تُنْبِتُ كَلَأً، فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقُهَ فِي دِينِ اللَّهِ، وَنَفَعَهُ مَا بَعَثَنِي اللَّهُ بِهِ فَعَلِمَ وَعَلَّمَ، وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا، وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللَّهِ الَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ

Dari Abu Musa al-Asy’ary radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Perumpamaan apa yang Allah utuskan kepadaku dari petunjuk dan ilmu adalah seperti hujan lebat yang turun ke bumi. Sebagian tanahnya adalah naqiyyah (subur) yang mampu menyerap air dan menumbuhkan tumbuhan dan rerumputan yang banyak. Ada juga bentuk tanah yang ajādib (tandus) yang mampu menahan air, sehingga banyak orang yang memanfaatkannya untuk minum dan mengairi sawahnya. Ada juga bentuk tanah yang disebut qī’ān yang tidak mampu menyerap air dan tidak mampu menumbuhkan tumbuhan. Perumpamaan ini sama dengan seseorang yang telah memahami agama Allah dan bermanfaat baginya, maka dia pun mengetahui, dan mengajarkannya, dan mereka yang tidak mengangkat kepalanya (tidak peka) dan tidak menerima hidayah dari Allah yang aku telah diutus dengannya.”[1]

⁕⁕⁕

Keadaan dan tabiat manusia berbeda-beda antara yang satu dengan yang lainnya. Demikian sunnatullah yang telah ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan segala hikmah yang hanya Dia yang mengetahuinya. Karena perbedaan tersebut, manusia kemudian berbeda-beda pula dalam interaksinya terhadap karunia yang Allah turunkan berupa ilmu pengetahuan dan petunjuk-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberitakan hal ini melalui hadisnya yang mulia untuk dijadikan pelajaran bagi kita semua.

Ibnu Batthal mengutip perkataan al-Muhallab rahimahumallah mengenai hadis di atas bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan permisalan tentang agama, ilmu dan taklim. Apa yang Allah turunkan berupa petunjuk dan dinul-Islam hanya akan diterima oleh hati orang-orang yang bersih dari kesyirikan dan syak. Hati yang suci tersebut ibarat tanah naqiyyah yang haus akan ilmu dan petunjuk yang dengannya ia mengambil manfaat untuk kembali hidup, subur, dan menumbuhkan tetumbuhan dan rerumputan. Mereka adalah orang-orang yang mempelajari ilmu, memahaminya, mengamalkan dan menerapkannya, serta mengajarkan kepada manusia apa yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ القُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.”[2]

Di antara manusia ada yang hatinya hanya siap untuk menerima ilmu, ibarat tanah ajādib yang tandus hanya mampu menahan air untuk dimanfaatkan oleh banyak orang yang melaluinya atau dijadikan sebagai sumber pengairan sawah. Hati yang seperti ini adalah milik mereka yang sekadar menyampaikan ilmu tanpa mengetahui fikih dan makna ilmu tersebut. Mereka memberikan manfaat dengan hafalan yang dimiliki, namun tak sanggup menjadi qudwah (teladan) dalam pengamalan ilmu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

فَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ، وَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ لَيْسَ بِفَقِيْهٍ

“Betapa banyak orang yang menyampaikan ilmu kepada orang yang lebih berilmu, dan betapa banyak orang yang memiliki ilmu namun ia tak memahaminya sedikitpun.”[3]

Di antara manusia ada yang hatinya dipenuhi dengan kebusukan ibarat tanah qī’ān yang tak mampu menyerap air dan tak menumbuhkan tumbuhan. Mereka mendengarkan ilmu namun tak dapat menghafalnya, memahaminya, atau mengambil manfaat darinya, apalagi untuk memberikan manfaat kepada orang lain.[4] Maka mereka adalah seburuk-buruk manusia.

Demikian permisalan indah ini membagi manusia menjadi dua kelompok: pertama, mereka yang terpuji karena manfaat yang mereka ambil dan tebarkan kepada manusia sebagaimana tanah naqiyyah dan ajādib yang memberikan manfaat. Kedua, mereka yang tercela sebab tak mengambil manfaat dari ilmu dan petunjuk Allah. Mereka tak mengangkat kepalanya karena kesombongan yang telah mendarah daging di dalam hatinya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

فَبَشِّرْ عِبَادِ. الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ وَأُولَئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Maka berikanlah kabar gembira kepada hamba-hamba-Ku, yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.”[5]

 


Footnote:

[1] H.R. Bukhari nomor 79 dan Muslim nomor 2282.

[2] H.R. Bukhari nomor 5027.

[3] H.R. Abu Daud nomor 3660 dan al-Tirmidzy nomor 2656, disahihkan oleh Syekh al-Albany dalam Shahih Jami’ Shagir nomor 6763.

[4] Lihat makna perkataan al-Muhallab dalam Syarh Shahih Bukhari karya Ibnu Batthal, 1/163.

[5] Q.S. al-Zumar ayat 17-18.

image_pdfUnduh PDF
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments