MANUSIA PALING PELIT

830
Perkiraan waktu baca: 2 menit
image_pdfUnduh PDF

Pelit tentunya termasuk dalam salah satu sifat tercela, bahkan tidak jarang dari manusia yang enggan untuk berteman dan berkenalan dengan orang pelit. Bagaimana lagi jika orang tersebut adalah sepelit-pelitnya manusia? Pastinya akan banyak di antara kita yang menjauh bahkan enggan berteman dekat dengan orang tersebut.

Namun pelit yang dimaksud di sini bukanlah pelit dalam masalah harta, akan tetapi pelit yang dimaksud oleh nabi adalah pelit yang paling besar bahkan lebih pelit dari pelitnya orang yang enggan untuk berbagi.

Di antara hadis yang disebutkan oleh nabi tentang orang tersebut;

عنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ – رضي الله عنه – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (البَخِيلُ الَّذِي مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيّ)َ

Dari Ali ibn Abi Thalib radiallahu anhu beliau berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, ‘Orang yang disebut pelit adalah orang yang ketika disebut namaku di sisinya lalu dia tidak berselawat untukku.’”  [HR. at-Tirmidzi dan Ahmad]

Mengenai hadis di atas, para ulama memiliki perbedaan pendapat hukum membaca selawat. Akan tetapi cukuplah penyebutan tentang pelit mengajarkan bahwa membacanya tentu lebih baik dari pada meninggalkannya. Berikut beberapa perkataan dari para ulama mengenai hadis di atas:

  1. Al-Allamah al-Qari rahimahullah berkata ketika mensyarah perkataan hadis nabi di atas, “Adapun mereka yang tidak berselawat kepada nabi termasuk orang yang pelit, mereka menjauhkan diri mereka dari pahala yang mulia maka tidak ada orang lebih pelit dari dirinya; sebagaimana disebutkan juga dalam salah satu riwayat, ‘orang pelit itu adalah orang yang pelit dalam semua hal.’” [Kitab Mirqatul al-Mafatih Syarh Misykatul Mashabih (2/749) karya al-Qari’].
  2. Ash-Shan’ani rahimahullah berkata, “Sabda nabi di atas menjelaskan bahwa mereka disebut pelit karena mereka pelit pada hal yang bermanfaat buat diri mereka dan pada hal yang tidak memberikan mudarat pada mereka.” [Kitab at-Tanwir Syarh al-Jami’ ash-Shagir (3/551) karya ash-Shan’any].
  3. Asy-Syaukani rahimahullah juga berkata, “Hadis di atas adalah dalil wajibnya seseorang berselawat kepada nabi ketika mendengar nama beliau shallallahu alaihi wa sallam disebutkan.” [Kitab Tuhfatu adz-Dzakirin karya ash-Shan’any hal. 41]
  4. Ibnu Hajar al-Haitamy sendiri menyebutkan bahwa dosa besar itu ada enam puluh, di antaranya adalah meninggalkan berselawat kepada nabi shallallahu alaihi wasallam saat mendengar nama nabi disebutkan. Kemudian setelah itu Ibnu Hajar menyebutkan hadis di atas dan beberapa hadis sebagai hujjah beliau rahimahullah. [Kitab az-Zawajir ‘an Iqtiraf al-Kaba’ir 1/191 karya Ibnu Hajar al-Haitamy]
  5. Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah juga berkata mengenai hadis di atas, “Dan di antara pelit yang munkar lagi buruk adalah ketika nama nabi disebutkan di hadapanmu kemudian engkau tidak berselawat kepadanya. Maka sunnah bagi seorang mukmin jika mendengarkan nama nabi disebutkan untuk berselawat kepadanya.”

Setelah membaca beberapa pendapat dari para ulama, kita bisa menyimpulkan bahwa berselawat kepada nabi ketika nama nabi disebutkan adalah wajib hukumnya, walau banyak juga di antara para ulama yang menyebutkan bahwa hukumnya sunah. Beruntung orang yang membasahi lisannya dengan zikir kepada Allah serta salawat kepada nabi dan celaka dan menyesallah orang yang lisannya jauh dari zikir kepada Allah dan juga dari selawat kepada nabi shallallahu alaihi wa sallam.

image_pdfUnduh PDF
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments