HADIS LARANGAN ISRAF MENGGUNAKAN AIR KETIKA BERWUDU

507
Perkiraan waktu baca: 1 menit
image_pdfUnduh PDF

Soal:

Assalamualaikum.

Bagaimana dengan hadis-hadis larangan boros pada saat berwudu, ustaz? Apakah derajatnya sahih?

(Eki Irwandi, Kendari – Sulawesi Tenggara)

Jawab: 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Bismillahirrahmanirrahim

Yang kami pahami, maksud dari hadis tentang larangan bersikap boros (melampaui batas) tersebut adalah menggunakan air ketika berwudu seperti yang disebutkan dalam hadis berikut.

Hadis Amru bin Syuaib, dari bapaknya, dari kakeknya, bahwa Rasulullah meminta didatangkan bejana berisi air untuk berwudu. Beliau mencuci anggota (tubuh) wudunya masing-masing sebanyak tiga kali. Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda,

هَذَا الوُضُوءُ فَمَنْ زَادَ عَلَى هَذَا فَقَدْ أَسَاءَ وَتَعَدَّى وظَلَمَ

“Demikianlah cara berwudu, barang siapa menambahkan dari ini maka dia telah melakukan keburukan, melampaui batas dan berlaku zalim.” [1]

Hadis ini menunjukkan bahwa membasuh anggota tubuh ketika berwudu lebih dari tiga kali cucian adalah perbuatan yang melampaui batas. Imam Ibnu al-Mubarak rahimahullah berpandangan bahwa orang yang melakukannya berdosa. [2]

Hadis tersebut secara umum dinilai sahih oleh Imam al-Nawawi[3], Ibnu Daqiq al-Ied dan beliau berkata, “Sanadnya sahih hingga Amru bin Syuaib . . . .”[4]

Bagaimana dengan riwayat Amru bin Syuaib hingga kepada Rasulullah ﷺ?

Imam Al-Bukhari menukilkan bahwa Ahmad bin Hambal, Ali bin Abdullah Al-Madiny, Al-Humaidi dan Ishaq bin Ibrahim berhujah dan menerima riwayat Amru bin Syuaib dari bapaknya dari kakeknya.[5]

Sedangkan ulama hadis yang menilai sanadnya hasan adalah Syekh al-Albany[6] dan Syekh Syuaib al-Arnauth[7].

Dengan demikian hadis tersebut makbul atau dapat diterima dan diamalkan.

Selain hadis Nabi Muhammad, ada pula ijmak ulama yang dinukilkan oleh Imam al-Nawawi rahimahullah tentang larangan berlebih-lebihan atau israf menggunakan air, meskipun seorang berwudu dari air di tepi laut yang luas. [8]

Allahu Ta’ala A’lam.

[1] HR. Ahmad (6684), Abu Daud (135), Ibnu Majah (422), An-Nasaai (1/88) dan Ibnu Khuzaimah (174).

[2] As-Syaukani. Nailul Authar. Jilid 1 , hlm 218.

[3] An-Nawawi. Al-Minhaaj. Jilid 3, hlm 129.

[4] Muhammad bin Ali bin Al-Qusyairiy; Ibnu Daqiq Al-Ied. Syarhul Ilmaam Bii Ahaaditsil Ahkam. Jilid 4, hlm 5.

[5] Badruddin Al-Aini. Syarah Sunan Abi Daud. Jilid 1, hlm 322.

[6] Al-Albany. Silsilatul Ahaadits As-Shahihah. Jilid 6, hlm 1199.

[7] Tahkik Musnad Imam Ahmad. Jilid 11, hlm 277.

[8] An-Nawawi. Al-Minhaaj. Jilid 4, hlm 20.

image_pdfUnduh PDF
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments