HADIS KEUTAMAAN BERSIWAK

240
Perkiraan waktu baca: 1 menit
image_pdfUnduh PDF

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْها قَالَتْ، قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: السِّوَاكُ مَطْهَرَةٌ للفَمِ، مَرْضَاةٌ للربِّ. رَوَاهُ أَحْمَدُ، وَالْبُخَارِيُّ تَعْلِيقاً مَجْزُومًا بِهِ، وَالنَّسَائِيُّ، وَابْن حِبَّان، وَأَخْرَجَهُ ابْن خُزَيْمَة بطرِيق أُخْرَى فِي صَحِيحِهِ. وَرَوَاهُ أَحْمَدُ مِنْ حَدِيثِ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيق، وَابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ، وَرَوَاهُ   ابْن حِبَّانَ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ

Aisyah radhiyallahu anha berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda, ‘Bersiwak itu menyucikan mulut, dan (menyebabkan) Allah rida’.” Diriwayatkan oleh Ahmad, al-Bukhari secara ta’liq namun dengan kalimat aktif dan penguatan, al-Nasai, Ibnu Hibban, Ibnu Khuzaimah dengan jalur yang berbeda di kitab Shahih beliau. Diriwayatkan pula oleh Ahmad melalui hadis Abu Bakar al-Shiddiq, Ibnu Umar radhiyallahu anhum. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Hibban melalui hadis Abu Hurairah. 

Kosa kata hadis:

  1. Beliau adalah Aisyah binti Abu Bakar al-Shiddiq radhiyallahu anhuma. Ibunya adalah Ummu Rummaan binti ‘Amir. Beliau dilahirkan pada tahun keempat setelah bi’tsah. Dinikahkan dengan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam saat genap berusia enam tahun dan memasuki usia tujuh tahun. Hidup berumah tangga bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam saat berusia sembilan tahun, dan ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam wafat beliau baru berusia delapan belas tahun. Kun-yah beliau adalah Ummu Abdillah. Atha bin Abi Rabah menyifatkan Aisyah sebagai pribadi yang paling fakih dan berilmu, serta memiliki pendapat yang amat bijaksana. Beliau wafat pada tahun 58 hijriah, dan dimakamkan di pekuburan Baqi’ kota Madinah.[1]
  2. As-siwak(السِّوَاكُ) menurut pakar bahasa Arab adalah kosa-kata yang memiliki makna perbuatan bersugi atau benda yang digunakan untuk bersugi (kayu araak). Sedangkan makna secara istilah ulama adalah penggunaan kayu araak atau yang semisalnya untuk menghilangkan noda kuning dan kotoran pada gigi.[2]

Makna hadis:

Melakukan sunnah Nabi Muhammad ﷺ dengan bersiwak mendatangkan dua faedah yang besar. Pertama, menyucikan mulut orang yang melakukannya, termasuk bagian mulut adalah gigi, gusi, dan lidah. Dengan bersiwak semuanya dibersihkan dari kotoran, noda, dan aroma tak sedap. Kedua, amalan ini juga menyebabkan keridaan Allah Ta’ala kepada hambanya.

Faedah dan istinbat dari hadis:

  1. Mayoritas ulama berpendapat berdasarkan dalil-dalil yang ada bahwa melakukan siwak hukumnya adalah sunah, karena jika seandainya wajib dikerjakan tentu akan diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, terlepas dari memberatkan umatnya atau tidak.[3]
  2. Pada masa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, siwak yang digunakan adalah kayu al-Araak dan al-Basyaam, sehingga semua benda yang tidak melukai mulut, dapat membantu menghilangkan noda kuning dan kotoran pada gigi serta dapat menghilangkan aroma tak sedap pada mulut, boleh digunakan untuk bersugi.[4]

 


Footnote:

[1] Ibnu Hajar al-Asqalany. Al-Ishabah fii Tamyiiz al-Shahabah. Jilid 8, hlm. 235.

[2] Al-Syaukani. Nailul Authar. Jilid 1 , hlm. 133.

[3] Ibnu Batthal. Op. Cit. Jilid 1, hlm. 364.

[4] Ibnu Abdil Barr. Al-Istidzkaar. Jilid 1, hlm. 365.

image_pdfUnduh PDF
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments