HADIS KETIGA: MEMULIAKAN AHLI AL-QUR’AN

1038
HADIS KETIGA MEMULIAKAN AHLI ALQURAN
Perkiraan waktu baca: 2 menit

40 HADIS PENGAGUNGAN AL-QUR’AN(1)

Daftar Isi:

REDAKSI HADIS:

عَنْ أَبِيْ مُوْسَى الْأَشْعَرِيِّ رضي الله عنه، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ مِنْ إِجْلَالِ اللَّهِ إِكْرَامَ ذِي الشَّيْبَةِ الْمُسْلِمِ، وَحَامِلِ الْقُرْآنِ غَيْرِ الْغَالِي فِيهِ وَالْجَافِي عَنْهُ، وَإِكْرَامَ ذِي السُّلْطَانِ الْمُقْسِطِ.

Artinya: Dari Abu Musa al-Asy’ari raḍiyallahu’anhu ia berkata bahwa Rasulullah ṣallallāhu‘alaihiwasallam bersabda, “Termasuk dari pengagungan Allah adalah dimuliakannya seorang muslim yang telah beruban, para hāmil (pemikul) al-Qur’an yang tidak guluw (bersikap berlebihan di dalamnya) dan tidak pula jafā’ (bersikap jauh darinya), dan penguasa yang adil.”

TAKHRIJ HADIS:

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dalam kitabnya al-Sunan, kitab al-Adab, bab Memosisikan Manusia Sesuai dengan Kedudukannya, no. 4843. Hadis ini dinyatakan sebagai hadis hasan oleh al-Albāni dalam Ṣaḥīḥ al-Adab al-Mufrad, hal. 143 dan Ṣaḥīḥ al-Targīb wa al-Tarhīb (1/151), juga dinyatakan sanadnya hasan oleh Syu’aib al-Arnāūṭ dalam tahkiknya terhadap Sunan Abu Dawūd (7/212).

BIOGRAFI SAHABAT PERAWI HADIS:

Abu Mūsā al-Asy’arī raḍiyallāhu‘anhu, nama asli beliau adalah Abdullāh bin Qais bin Sulaim bin Haḍḍar bin Harb. Rasulullah ṣallallāhu‘alaihiwasallam pernah bersabda kepada beliau, “Engkau telah diberi salah satu seruling keluarga Daud ‘alaihi al-salām.” Abu Mūsa memiliki perawakan kurus dan pendek, jenggot beliau juga tidak terlalu lebat. Beliau meninggalkan negerinya, Yaman, menuju ke Makkah ketika mendengar adanya seseorang yang mendakwahkan tauhid di sisi Kabah. Selama di Makkah, beliau duduk di majelis Rasulullah ṣallallāhu‘alaihiwasallam dan talaqqi berkaitan dengan akidah, adab, serta ilmu syariat lainnya. Abu Mūsa pulang ke negerinya dengan membawa kalimat tauhid. Menjelang beliau wafat, semangat dan kesungguhan beliau dalam ibadah bertambah. Ketika ditanya apa penyebabnya, beliau menjawab bahwa kuda ketika sudah hampir mencapai finisnya dia akan mengeluarkan seluruh kekuatan dan kemampuannya, waktu yang tersisa dari ajalnya lebih sedikit dari itu. Beliau wafat di Kufah dan ada juga yang mengatakan di Madinah, pada masa pemerintahan Muawiyah raḍiyallāhu‘anhu tahun 50 H, 51 H, 52 H, atau 53 H dalam usia 63 tahun, raḍiyallāhu‘anhu(2).

Baca juga:  HADIS KEENAM BELAS: MAHKOTA KEMULIAAN BAGI PEMBAWA AL-QUR’AN

KOSA KATA DAN SYARAH HADIS:

مِنْ إِجْلَالِ اللَّه : di antara pengagungan dan pemuliaan

حَامِل الْقُرْآنِ: pemikul al-Qur’an. Dinamakan seperti itu karena dia memikul beban yang sangat berat dan banyak, lebih dari beban-beban lain yang biasa dipikul umumnya orang. Maksud dari pemikul al-Qur’an di sini adalah pembaca al-Qur’an, penghafalnya, dan ahli tafsirnya.(3)

الْغَالِي: bentuk subjek dari kata ghuluw yang berarti ekstrem dan melampaui batas. Maksud dalam hadis ini bahaya sikap ghuluw dalam membaca al-Qur’an, memahaminya, dan senantiasa mengikuti ayat-ayat musytabihāt.

الْجَافِي: bentuk subjek dari kata jafā’ yang berarti memutuskan hubungan dan meninggalkan kebaikan.  Maksud dalam hadis ini bahaya meninggalkan al-Qur’an, di antara bentuknya tidak membacanya, tidak memahami maknanya, dan tidak mengamalkannya.

FAEDAH DAN PELAJARAN HADIS:

  1. Di antara bentuk pengagungan terhadap al-Qur’an adalah selalu bersikap pertengahan, tidak berlebihan, dan tidak pula meninggalkannya.
  2. Di antara bentuk pengagungan kepada Allah subḥānahuwata’ala dengan mengagungkan perkataan-Nya, dan bentuk mengagungkan perkataan-Nya adalah memuliakan para pemikulnya.
  3. Sikap ghuluw dan jafā’ merusak keagungan al-Qur’an dan para ahlinya.
  4. Muliakanlah Al-Quran dan angkatlah ia ke kedudukan yang selayaknya.
  5. Berusahalah untuk selalu pertengahan dan adil ketika membaca al-Qur’an dan dalam mengamalkannya.
  6. Jangan pernah meninggalkan al-Qur’an dan jangan meninggalkan dalam membacanya karena itu adalah bentuk al-jafā’ (acuh tak acuh) terhadap Al-Quran.
  7. Hadis ini juga menunjukkan kewajiban memuliakan orang yang sudah beruban (berumur) dan para pemimpin yang adil.

 

 


Footnote:

(1) Diterjemahkan dan disadur dari buku al-Arba’ūn Ḥadīṡan fī Ta’ẓīm al-Qur’ān al-Karīm, diterbitkan oleh al-Lajnah al-‘Ilmiyyah bi Masyrū’ Ta’ẓīm al-Qur’ān al-Karīm di Jeddah, Arab Saudi.

(2) Lihat biografi lengkap beliau di: al-Isti’āb fī Ma’rifah al-Asḥāb karya Ibnu ‘Abd al-Bar (3/979) dan (4/1762), Usd al-Gābah karya Ibn al-Aṡīr (3/364) dan al-Iṣābah fī Tamyīz al-Ṣaḥābah karya Ibn Ḥajar al-‘Asqalāni (4/181).

Baca juga:  HADIS KEDUA PULUH SATU: AL-QUR’AN ADALAH CAHAYA DI BUMI DAN PERBENDAHARAAN BAGIMU DI LANGIT

(3) Lihat: ‘Aun al-Ma’būd Syarhu Sunan Abi Dāwūd (13/ 132), karya Syaraf al-Ḥaq al-Aẓīm Ābādi.

Subscribe
Notify of
guest
2 Komentar
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Luluk

Yth al-karimin. Izin setor fikih. Membaca Al-Qur’an tidak wajib berdasarkan khobar yang menginformasikan bahwa orang yang mukmin bagai utrujah dan kurma..dst.. entahlah.. aku takut kepada Allah kalo baca Al-Qur’an tidak sesuai malah dosa bukannya berpahala. Tapi… ini keyakinan yg berlebihan; karena ada pahala ajroon bagi orang yang masih terbata-bata dalam baca Al-Qur’an. . Bljr iman akidah ninggalin baca Al-Qur’an krna kawatir kayak orang yang munafik yang baca Al-Qur’an..

Luluk Purwicendani binti Jasmo

بسم الله الرحمن الرحيم
بسم الله الذي لا يضر مع اسمه شيء في الأرض و لا في السماء وهو السميع العليم
اللهم صل على محمد عبدك ورسولك كما صليت على إبرهيم وبارك على محمد و على ءال محمد كما باركت على إبرهيم ءال إبرهيم
والحمد لله رب العالمين

Yth al-karimin.

والسلام علينا و على عباد الله الصالحين

Tentang:

 “Engkau telah diberi salah satu seruling keluarga Daud ‘alaihi al-salām.

Makna (bukan matan) hadis ini sudah diingkari / dikritik oleh seorang ustadz _yang semoga Allah Menjaga kami/kita dan beliau serta kaum muslimin agar sabar hingga wafat sebagai muslimun_
Doa perwakilan/ ambassador yang mencegah kemurtadan / kristenisasi:
ربنآ أفرغ علينا صبرا وتوفنا مسلمين
Bukan seruling. Coba pikir kembali makna apa yang tepat; nada, irama, lagu, makom jiharkah, atau apa? Saya tidak mengatakan apa yang tepat karena lupa, dan tidak bisa mencarinya di korteks serebral (yakni salah satu bagian otak untuk menyimpan memori jangka panjang), barangkali hipokampus (yakni salah satu bagian otak) sudah menghapusnya (karena tidak saya murojaah atau karena perselisihan /perdebatan menghilangkan ilmu yang bermanfaat). Itulah penyesalan bagi yang tidak mengikat ilmu dengan tulisan yang rapi dan tidak tercecer apalagi tercampur dengan kebathilan. Terlebih tidak ada matan hadis asli nya, yang ada makna palsunya. Hati-hati. Allah itu Cinta sama orang yang berperangai Al-Hilmu dan Al-Anah. Tapi makasih ya.
Hehehe (tertawa).
Oya Ust yth. Saya meragukan tentang riwayat waqof (baca: wakof) dari Ibnu Abbas yang disampaikan
Muhammad Yusran ibnu Anshar bahwa beliau mewasolkan frasa kata;
وما يعلم تأويله إلا الله
Tapi pernah saya amalkan. Muhafizh dan Muhafizhoh kami menulis dalam buku mereka “Pengantar Ilmu Tahsin” dengan bebagai macam cara baca/waqof-ibtidak. Sayangnya buku itu sudah tidak di saya.
بسم الله الذي لا يضر مع اسمه شيء في الأرض و لا في السماء وهو السميع العليم
Izin setor kaidah waqof ibtidak.
Rencananya insyaaaAllah saya akan menyetorkan bacaan Al-Qur’an (ujian) yang baru dengan mengamalkan kaidah ini pada bulan Maret mendatang. Kaidah pertamanya sudah ditulis tangan oleh Al-Akh Al-Karim Ust. Ihsan Hafiz Abdullah yang semoga Allah Meridhoinya.
Kalau salah cukup luruskan saja tanpa dipatahkan seperti ketika hendak makan pop mie kan ada garpu lipat bisa kok diluruskan tanpa dipatahkan.
بسم الله الذي لا يضر مع اسمه شيء في الأرض و لا في السماء وهو السميع العليم
والحمد لله رب العالمين

Kaidah ke Satu (kaidah umum)

Tidak mengulang ucapan orang-orang yang buruk agar tidak serupa dengan mereka, akan tetapi hendaknya mengulang dari kata قال قالوا dan semisal. Karena
.. من تشبه بقوم فهو منه

Kaidah ke Dua (pengkhususan)

Tetap berhenti di ayat-ayat yang telah disepakati kaum muslimin di zaman ini. Ini yang terbaik (best) meski boleh bagi seseorang hanya menjadi orang yang good atau better.
Karena dalam hadis Ummul Mukminin yang saya sangat cemburu dengannya yang semoga Allah Merahmati kami dan Ummu Salamah berkata;
أن النبي صلى الله عليه وسلم كان إذا قرأ قطع قراءته آية آية يقول : بسم الله الرحمن الرحيم ثم يقف ثم يقول : الحمد لله رب العالمين ثم يقف ثم يقول : الرحمن الرحيم ثم يقف ثم يقول : ملك يوم الدين

Lafal seperti itu yang saya dapatkan di mukodimah mushaf yang mereka namakan “Ash-Shahib.”

Tepis berbagai syahwat tersembunyi dengan doa :
اللهم آت نفسي تقواها
Kalau tidak mempan, masih suka bunuh orang, bunuhlah cicak karena cicak itu hewan yang tidak sayang dengan anaknya yang masih telur sudah dibiarkan jatuh dari atas hingga pecah karena terkena gaya tumbukan+gaya gravitasi.
Tepis berbagai syirik tersembunyi dengan doa :
اللهم إني أعوذ بك أن أشرك بك أن أعلم
Tepis ujub dengan doa :
والحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات
Kk hadapilah ujian umat ini: harta dengan albaqiyatussolihat, ada hadis dan huda yang nyebut itu.
Sedangkan Allah Yang Maha (paling) Mengetahui.