HADIS KESEMBILAN BELAS: TERMASUK MENGAGUNGKAN AL-QUR’AN ADALAH MEMPERHATIKAN KAPAN MENJAHARKANNYA DAN KAPAN MENSIRKANNYA

195
TERMASUK MENGAGUNGKAN AL QUR’AN ADALAH MEMPERHATIKAN KAPAN MENJAHARKANNYA DAN KAPAN MENSIRKANNYA
Perkiraan waktu baca: 1 menit

40 HADIS PENGAGUNGAN AL-QUR’AN(1)

Daftar Isi:

REDAKSI HADIS:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ رضي الله عنه قَالَ: اعْتَكَفَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَسْجِدِ فَسَمِعَهُمْ يَجْهَرُونَ بِالْقِرَاءَةِ، فَكَشَفَ السِّتْرَ وَقَالَ: أَلَا إِنَّ كُلَّكُمْ مُنَاجٍ رَبَّهُ، فَلَا يُؤْذِيَنَّ بَعْضُكُمْ بَعْضًا، وَلَا يَرْفَعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ فِي الْقِرَاءَةِ. أَوْ قَالَ: فِي الصَّلَاةِ

Artinya:

Dari Abū Sa’īd raḍiyallāhu ‘anhu, dia berkata, “Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam beriktikaf di masjid, lalu beliau mendengar mereka (para sahabat) mengeraskan bacaan (Al-Qur’an) mereka. Beliau kemudian membuka tirai sambil bersabda, ‘Ketahuilah, sesungguhnya setiap kalian tengah berdialog dengan Rab-nya, oleh karena itu, janganlah sebagian yang satu mengganggu sebagian yang lain dan jangan pula sebagian yang satu mengeraskan terhadap sebagian yang lain di dalam membaca (Al-Qur’an) atau dalam salatnya’.”

TAKHRIJ HADIS:

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Abū Dāwud dalam kitabnya, al-Sunan, Bab “Mengangkat Suara pada Saat Salat”, nomor 1332, dan hadis ini disahihkan oleh al-Albānī dalam Ṣaḥīḥ al-Jāmi’ al-Ṣagīr (1/515).

BIOGRAFI SAHABAT PERAWI HADIS:

Lihat biografinya di link berikut: https://markazsunnah.com/abu-said-al-khudri-mujahid-dan-mufti-madinah/ .

KOSA KATA DAN SYARAH HADIS:

اعْتَكَفَ: iktikaf, berasal dari kata “al-‘ukuf”, yang berarti berhadapan dan menahan diri, dan konsentrasimu terhadap sesuatu dimana kamu tidak berpaling darinya.

مُنَاجٍ: bermunajat, berasal dari kata “al-najw”,  yang berarti tertutup dan tersembunyi, dan kata “al-najwa” berarti pembicaraan rahasia antara dua orang.

FAEDAH DAN PELAJARAN HADIS:

  1. Termasuk bentuk mengagungkan Al-Qur’an adalah tidak meninggikan suara dalam membacanya secara berlebihan.
  2. Membaca Al-Qur’an itu seperti engkau bermunajat kepada Allah.
  3. Di antara hal yang mengganggu pembaca Al-Qur’an dari dia menadaburi Al-Qur’an adalah (disebabkan) bacaan keras dari pembaca Al-Qur’an yang lainnya, lalu bagaimana lagi jika suara keras itu selain bacaan Al-Qur’an.
  4. Hendaknya kita bersikap pertengahan dalam membaca Al-Qur’an, antara keras dan pelan (sedang), dan dapat melihat kondisi di sekitar kita.
  5. Resapilah dan hayatilah ketika sedang membaca Al-Qur’an bahwa kita sedang bermunajat kepada-Nya.
  6. Berhati-hatilah dari mengganggu orang lain karena bacaan Al-Qur’an kita yang keras.
Baca juga:  HADIS KEDUA PULUH LIMA: SATU AYAT AL-QUR’AN LEBIH BAIK DARI HARTA DUNIA

 

 


Footnote:

(1) Diterjemahkan dan disadur dari buku al-Arba’ūn Ḥadīṡan fī Ta’ẓīm al-Qur’ān al-Karīm, diterbitkan oleh al-Lajnah al-‘Ilmiyyah bi Masyrū’ Ta’ẓīm al-Qur’ān al-Karīm di Jeddah, Arab Saudi.

Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments