HADIS KEDUA PULUH DELAPAN: PENGHAFAL AL-QUR’AN PALING BERHAK MENJADI IMAM

45
PENGHAFAL AL QUR’AN PALING BERHAK MENJADI IMAM
Perkiraan waktu baca: 2 menit

40 HADIS PENGAGUNGAN AL-QUR’AN[1]

Daftar Isi:

REDAKSI HADIS:

عَنْ أَبِيْ مَسْعُودٍ الْأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللَّهِ، فَإِنْ كَانُوا فِي الْقِرَاءَةِ سَوَاءً فَأَعْلَمُهُمْ بِالسُّنَّةِ، فَإِنْ كَانُوا فِي السُّنَّةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ هِجْرَةً، فَإِنْ كَانُوا فِي الْهِجْرَةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ سِلْمًا، وَلَا يَؤُمَّنَّ الرَّجُلُ الرَّجُلَ فِي سُلْطَانِهِ، وَلَا يَقْعُدْ فِي بَيْتِهِ عَلَى تَكْرِمَتِهِ إِلَّا بِإِذْنِهِ

Artinya:

Dari Abū Mas’ūd al-Anṣārī raḍiyallāhu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Orang yang berhak menjadi imam atas suatu kaum adalah yang paling menguasai bacaan kitabullah (Al-Qur’an), jika dalam bacaan kapasitasnya sama, maka yang paling tahu terhadap sunah, jika dalam sunah (hadis) kapasitasnya sama, maka yang paling dahulu hijrah, jika dalam hijrah sama, maka yang lebih dahulu masuk Islam, dan jangan sekali-kali seseorang mengimami di daerah kekuasaannya, dan jangan duduk di rumah seseorang di ruang tamunya, kecuali telah mendapatkan izin darinya’.”

TAKHRIJ HADIS:

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitabnya, al-Ṣaḥīḥ, kitab al-Masājid wa Mawāḍi’ al-Ṣalāh, bab “Siapa yang Paling Berhak Menjadi Imam”, no. 673.

BIOGRAFI SAHABAT PERAWI HADIS:

Perawi hadis ini adalah sahabat mulia yang lebih dikenal dengan kuniyah-nya, yaitu Abū Mas’ūd. Nama lengkapnya adalah ‘Uqbah bin ‘Amrū bin Ṡa’labah al-Anṣārī al-Khazrajī al-Badrī raḍiyallāhu ‘anhu. Beliau belum ikut dalam perang Badar dan baru ikut di Uhud serta baiah aqabah kedua, sewaktu itu beliau yang termuda. Beliau meriwayatkan cukup banyak hadis dan termasuk ulamanya sahabat. Pindah ke Kufah dan berdomisili di sana. Beliau meriwayatkan sekitar 102 hadis. Pada saat terjadi perang Ṣiffīn, Abū Mas’ūd bergabung bersama pasukan ‘Ālī bin Abī Ṭālib raḍiyallāhu ‘anhu. Beliau wafat di Madinah dan ada yang mengatakan di Kufah, pada tahun 41 atau 42 H, dan ada juga yang mengatakan di masa khilafah ‘Ālī bin Abī Ṭālib raḍiyallāhu ‘anhu, dan versi lain menyebutkan bahwa beliau wafat pada akhir pemerintahan Mu’āwiyah raḍiyallāhu ‘anhu.[2]

Baca juga:  HADIS KESEPULUH: AL-QUR’AN AKAN MELINDUNGI PEMBACANYA PADA HARI KIAMAT

KOSA KATA DAN SYARAH HADIS:

يَؤُمُّ  : seseorang yang salat dalam posisi menjadi imam terhadap orang-orang yang hadir.

سُلْطَانِهِ : tempat kekuasaan dan pemerintahannya.

تَكْرِمَتِهِ : suatu tempat duduk khusus seseorang dari tikar atau dipan yang dibuat sebagai penghormatan baginya.

FAEDAH DAN PELAJARAN HADIS:

  1. Sahabat Al-Qur’an yang menghafalkannya hendaknya didahulukan dari selainnya dan dia lebih pantas untuk menjadi imam.
  2. Di antara bentuk hikmah adalah menjelaskan dan menerangkan perkara-perkara yang besar dan
  3. Bertahap dan menyiapkan alternatif untuk mencegah adanya perselisihan dan keragu-raguan merupakan manhaj nabawi yang autentik.
  4. Bersungguh-sungguhlah dalam menghafalkan Al-Qur’an niscaya kamu akan di
  5. Jelaskan dan terangkan secara baik perkara-perkara yang penting.
  6. Letakkan dan tempatkanlah alternatif pengganti pada perkara-perkara besar dan hendaknya ia diberlakukan secara bertahap yang sesuai dengan kondisi dan keadaan masyarakat.

 

 


Footnote:

[1] Diterjemahkan dan disadur dari buku al-Arba’ūn Ḥadīṡan fī Ta’ẓīm al-Qur’ān al-Karīm, diterbitkan oleh al-Lajnah al-‘Ilmiyyah bi Masyrū’ Ta’ẓīm al-Qur’ān al-Karīm di Jeddah, Arab Saudi.

[2] Lihat biografi lengkap sahabat ini di: al-Isti’āb fī Ma’rifah al-Aṣḥāb karya Ibnu ‘Abdilbarr (3/1074), Usdu al-Gābah karya Ibnu al-Aṡīr (4/55) dan al-Iṣābah fī Tamyīz al-Ṣaḥābah karya Ibnu Ḥajar (4/432).

Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments