HADIS KE-27 AL-ARBA’IN: KEBAIKAN VS KEJELEKAN

1836
Perkiraan waktu baca: 4 menit
image_pdfUnduh PDF

عن النواس بن سمعان رضي الله عنهما عن النبي ﷺ قال: البر حسن الخلق ، والإثم ما حاك في نفسك وكرهت أن يطلع عليه الناس  .رواه مسلم

وعن وابصة بن معبد رضى الله عنه، قال : أتيت رسول الله ﷺ ، فقال : جئت تسأل عن البر و الإثم؟ قلت : نعم ؛ قال : استفت قلبك ؛ البر ما اطمأنت إليه النفس واطمأن اليه القلب ، والإثم ما حاك في النفس وتردد في الصدر ، وإن أفتاك الناس وأفتوك .حَدِيْثٌ حَسَنٌ، رَوَيْنَاهُ فِي مُسْنَدَيْ الإِمَامِين أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ، وَالدَّارِمِي بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ

Dari Nawwās bin Sam’ān radhiyallahu anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, “Kebaikan itu adalah akhlak yang baik sedangkan kejelekan (dosa) itu adalah sesuatu yang meresahkan jiwamu dan engkau tidak suka apabila jika diketahui orang lain.” (H.R. Muslim)

Wābishah bin Ma’bad radhiyallahu anhu berkata, “Aku mendatangi Nabi ﷺ, lalu beliau bersabda, ‘Engkau datang untuk bertanya tentang kebaikan?’ Aku pun menjawab, ‘Ya’. Beliau bersabda, ‘Tanyalah hatimu karena kebaikan itu adalah sesuatu yang membuat jiwa dan hati merasa tenang, sedangkan kejelekan (dosa) itu adalah sesuatu yang meresahkan jiwa dan menjadikan bimbang di dada meskipun orang-orang telah berulang kali memberi fatwa kepadamu’.” (Hadits ini hasan. Kami meriwayatkannya dari musnad dua Imam, yaitu Ahmad bin Hanbal dan al-Darimi dengan sanad yang hasan).

Dua hadis di atas ialah hadis yang hampir serupa. Hadis yang pertama ialah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari al-Nawwās bin Sam’ān. Beliau senantiasa membersamai Rasulullah, hadir dalam majelis-majelis beliau, mendengarkan untaian nasihat dan hikmah dari lisan beliau yang agung menjadi sebuah keinginan para sahabat Nabi. Belajar secara langsung mengenai syariat Islam dari Nabi menjadikan para sahabat datang silih berganti ke kota Madinah. Tak mau tertinggal, al-Nawwās bin Sam’ān pun datang ke kota Madinah, seorang sahabat yang berasal dari negeri Syam. Beliau berkata, “Aku tinggal untuk membersamai Nabi ﷺ selama setahun di kota Madinah. Tidak ada yang menghalangiku untuk kembali kecuali pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan kepada rasul oleh para sahabatnya. Apabila salah seorang di antara kami pergi menuju kampung halamannya, ia tidak dapat bertanya apa pun kepada Rasulullah ﷺ.  Lantas aku pun bertanya kepada beliau ﷺ tentang kebaikan. Beliau menjawab, ‘Kebaikan itu adalah akhlak yang baik sedangkan kejelekan (dosa) itu adalah sesuatu yang meresahkan jiwamu dan engkau tidak suka apabila jika diketahui orang lain’.”[1]

Hadis kedua ialah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan al-Dārimi. Imam al-Nawawi menyebutkan secara singkat dalam hadis Arba’in-nya. Dalam musnad Imam Ahmad disebutkan bahwa Wābishah berkata, “Saya datang kepada Rasulullah ﷺ dan saya ingin agar tidak luput satu pun kebaikan atau keburukan kecuali saya telah menanyakannya pada beliau. Pada saat itu, di sekeliling beliau terdapat banyak kaum muslimin yang sedang meminta fatwa beliau. Aku pun melangkahi mereka hingga orang-orang itu berkata, ‘Wahai Wābishah, menjauhlah dari Rasulullah!’ Menanggapi mereka saya pun berkata, ‘Biarkan saya mendekat kepada beliau karena beliau adalah orang yang paling saya cintai dan sukai untuk saya dekati’. Beliau pun bersabda, ‘Biarkan Wābishah mendekat! Mendekatlah wahai Wābishah!’ Beliau mengatakannya dua atau tiga kali.” Wābishah berkata, “Saya pun mendekat kepada beliau hingga saya duduk di hadapannya. Kemudian beliau bertanya, ‘Wahai Wābishah, aku beritahukan kepadamu atau kamu yang akan bertanya padaku?’ Saya menjawab, ‘Tidak, akan tetapi beritahukanlah padaku.’ Beliau lantas bersabda, ‘Kamu datang untuk bertanya mengenai kebaikan dan keburukan (dosa)’? Saya menjawab, ‘Benar’. Beliau kemudian menyatukan jemarinya seraya menepukkannya ke dada saya. Setelah itu beliau bersabda, ‘Wahai Wābishah, tanyalah hati dan jiwamu’! (beliau mengulanginya tiga kali). ‘Kebaikan itu adalah sesuatu yang membuat jiwa merasa tenang, sedangkan kejelekan (dosa) itu adalah sesuatu yang meresahkan jiwa dan menjadikan bimbang di dada meskipun orang-orang telah berulang kali memberi fatwa kepadamu’.”[2]

Kebaikan

Jika diperhatikan, pada kedua hadis di atas terdapat perbedaan pemaknaan kebaikan yang ditafsirkan oleh Rasulullah ﷺ. Dalam hadis al-Nawwās disebutkan bahwa kebaikan ialah akhlak mulia sedangkan dalam hadis Wābishah disebutkan bahwa kebaikan adalah sesuatu yang membuat jiwa dan hati merasa tenang. Dapat disimpulkan bahwa kebaikan itu dapat dilihat dari dua sudut pandang dan makna:

  1. Interaksi sosial (hubungan horizontal). Orang yang dianggap baik adalah orang yang mampu berinteraksi dengan seluruh makhluk secara baik dan berakhlak. Apabila orang itu mampu mengamalkan seluruh sifat orang beriman yang tertera di dalam Al-Qur’an, ia adalah orang baik dan telah menggapai kebaikan. Jika ingin melihat sifat orang yang beriman, bukalah Q.S. al-Anfāl:2-4, Q.S. al-Taubah:112, Q.S. al-Mu’minūn:1-10, dan Q.S. al-Furqān: 63- Untuk mengukur sejauh mana tingkat akhlak kita sebagai seorang mukmin, bacalah ayat-ayat di atas dan bandingkan diri kita dengan orang-orang yang disebutkan dalam ayat-ayat tersebut.
  2. Segala jenis ketaatan kepada Allah yang bersifat lahir maupun batin, dikerjakan oleh anggota tubuh maupun oleh hati (hubungan vertikal).

Keburukan

Dalam kedua hadis di atas, terdapat pelajaran dari Nabi ﷺ bagi kita untuk mendeteksi keburukan dan kejelekan berdasarkan hati. Hadis ini menunjukkan bahwa keburukan memiliki dua tanda:

  1. Adanya kerisauan hati saat akan mengerjakannya.
  2. Adanya keinginan agar tidak diketahui orang lain.

Tentu yang dimaksud di sini ialah hati yang masih sesuai fitrah dan tunduk patuh pada syariat Allah. Ibnu Mas’ūd radhiyallahu anhu berkata, “Apa yang menurut orang beriman adalah sebuah kebaikan, itulah kebaikan di sisi Allah. Apa yang menurut orang beriman adalah sebuah kejelekan, itulah kejelekan di sisi Allah.[3] Di sisi lain, hadis ini menunjukkan bahwa Allah sudah membekali setiap hamba dengan fitrah untuk menerima kebenaran dan kebaikan.

Meninggalkan/Mengikuti Fatwa

Nabi bersabda, “…kejelekan (dosa) itu adalah sesuatu yang meresahkan jiwa dan menjadikan bimbang di dada meskipun orang-orang telah berulang kali memberi fatwa kepadamu.” Demikianlah pesan Nabi ﷺ kepada Wābishah. Fatwa yang dimaksud ialah fatwa picisan yang tidak bersandar pada dalil syariat dan berlandaskan hawa nafsu belaka. Fatwa sejenis ini tidak sepatutnya diikuti apalagi jika terdapat gejolak di dalam batin walaupun difatwakan oleh lebih dari satu orang. Adapun fatwa yang beranjak dari dalil-dalil syariat yang dikeluarkan oleh orang atau lembaga yang kompeten, maka peminta fatwa harus mengikutinya. Intinya, tidak ada sikap lain apabila berhadapan dengan nas syariat yang lugas melainkan tunduk dan patuh.

Mukjizat Sang Nabi

Dalam hadis Wābishah tersingkap mukjizat Nabi ﷺ yang telah mengetahui tanda tanya di benak Wābishah sebelum beliau mengungkapkannya. Ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad ﷺ ialah benar-benar hamba yang mendapatkan wahyu dari Allah.

 


Footnote:

[1] H.R. Muslim (15).

[2] H.R. Ahmad (17320). Ibnu Rajab menyebutkan bahwa di dalam sanad ini terdapat dua masalah yang menyebabkan sanadnya lemah:

  1. Terputusnya sanad antara al-Zubair bin Abdi al-Salam dengan Ayyūb bin Abdillāh;
  2. Kelemahan periwayatan al-Zubair tersebut (lihat: Jāmi’ al-‘Ūlūm wa al-Hikam 539-541).

[3] H.R. al-Bazzār (1816).

image_pdfUnduh PDF
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments