KEUTAMAAN MENUNJUKKAN KEPADA KEBAIKAN

316
Perkiraan waktu baca: 3 menit
image_pdfUnduh PDF

REDAKSI HADIS:

عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :”مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

Dari Abu Mas’ūd raiyallāhu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah allallāhu ‘alayhi wasallam bersabda, ‘Barang siapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka baginya seperti pahala yang melakukannya’.”

TAKHRIJ HADIS:

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad (22339), Imam Muslim (1893), Abu Dawud (5131) dan Tirmiżī (2671) dari jalur al-A’masy, dari Abu ‘Amr al-Syaibāni, dari Abu Mas’ūd al-Anṣārī, dari Rasulullah  allallāhu ‘alayhi wa sallam.

Hadis ini memiliki asbābu al-wurūd sebagaimana dijelaskan oleh Abu Mas’ūd sendiri, beliau mengatakan,

جاء رجل إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقال: إني أبدع بي فاحملني، فقال: ما عندي، فقال رجل: يا رسول الله أنا أدله على من يحمله

“Seseorang datang kepada Rasulullah allallāhu ‘alayhi wasallam dan mengatakan, ’Sesungguhnya hewan tungganganku mati, maka berilah aku tumpangan’, lalu Rasulullah bersabda, ‘Saya tidak punya’, kemudian seseorang mengatakan, ‘Wahai Rasulullah, saya akan menunjukkannya kepada yang dapat memberi tumpangan’, maka Rasulullah allallāhu ‘alayhi wasallam bersabda dengan hadis di atas.

PROFIL SAHABAT[1]:

Nama beliau adalah Uqbah bin ‘Amr bin Ṡa’labah  al-Anṣārī, dikenal dengan kuniyah-nya yaitu Abu Mas’ūd al-Badrī. Para ulama berbeda pendapat terkait penyebab beliau dinisbatkan kepada Badar, sebagian ulama berpendapat bahwa (disebabkan karena) beliau berpartisipasi dalam perang Badar, dan ini merupakan pendapat Imam Bukhari dan orang-orang Kufah, namun sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa beliau tidak berpartisipasi dalam perang Badar, tetapi penisbatan tersebut disebabkan karena beliau tinggal di daerah Badar, ini adalah pendapat dari al-Waqidi sebagaimana dikutip oleh Ibnu Sa’ad.

Di antara keutamaan beliau adalah keikutsertaannya dalam perang Uhud dan perang-perang yang lainnya setelahnya. Beliau tinggal di kota Kufah dan termasuk loyalis dari Khalifah Ali bin Abi Ṭālib, dan beliau pernah ditugaskan sebagai gubernur Kufah. Beliau wafat setelah tahun 40 H di kota Kufah, dan menurut sebagian ulama beliau wafat di kota Madinah.

PENJELASAN HADIS:

Sabda Rasulullah allallāhu ‘alayhi wasallam,

 مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ

“Barang siapa yang menunjukkan kepada kebaikan.”

Di dalam gramatika bahasa Arab, uslub (metode) kalimat di atas merupakan uslub yang menunjukkan pada keumuman karena ada lafaz nakirah (“khairun”) pada redaksi kalimat syarat. Dampaknya sangat luar biasa, yaitu keumuman makna “khairun” (kebaikan) yang mencakup kebaikan yang berhubungan dengan urusan agama, seperti mengajarkan ilmu agama, memberikan nasehat-nasehat untuk mengerjakan syariat agama, dan juga mencakup kebaikan dalam urusan dunia. Latar belakang dari hadis ini adalah terkait dengan kemaslahatan duniawi[2], yaitu menunjukkan seseorang kepada yang dapat memberi tumpangan atau tunggangan baginya. Hadis ini juga menunjukkan kepada keumuman volume kebaikan tersebut, yaitu semua ukuran kebaikan, baik kebaikan yang besar maupun yang kecil. 

Sabda Rasulullah allallāhu ‘alayhi wasallam,

فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

“Maka baginya seperti pahala yang melakukannya.”

Apakah pahala yang dijanjikan di dalam hadis ukurannya sama bagi kedua belah pihak? Ada dua pendapat dari para ulama kita terkait masalah ini.

Pendapat pertama, bisa jadi ukuran pahalanya berbeda antara kedua belah pihak. Imam Nawawi raḥimahullāh mengatakan,

والمراد بمثل أجر فاعله أن له ثوابا بذلك الفعل كما أن لفاعله ثوابا ولايلزم أن يكون قدر ثوابهما سواء

“Maksudnya; bahwa bagi yang menunjukkan kepada kebaikan, pahala disebabkan karena perbuatan tersebut, sebagaimana bagi orang yang mengerjakan kebaikan tersebut juga pahala, namun bukan berarti ukuran pahalanya sama.”[3]

Pendapat kedua, bahwa pahala kedua belah pihak sama. Imam al-Qurṭubī raḥimahullāh mengatakan,

إنه مثله سواء في القدر والتضعيف

“Pahala kedua belah pihak sama persis dalam ukuran dan pelipatgandaanya.”[4]

FIKIH HADIS:

  1. Hadis ini menjelaskan tentang keutamaan orang yang memiliki peran dalam menunjukkan kebaikan dan memberi bantuan bagi orang untuk melaksanakan kebaikan.[5]
  2. Hadis ini juga menunjukkan keutamaan orang yang mengajarkan ilmu syar’i dari kalangan para ulama, dai, ustaz dan lain sebagainya.[6]
  3. Jika menunjukkan kebaikan dan membantu orang dalam masalah duniawi mendapatkan pahala dan keutamaan di sisi Allah ‘azza wa jalla, maka membantu orang untuk mendekatkan diri kepada Allah tentu lebih tinggi keutamaan dan kebaikannya, seperti menyiapkan bekal dan tunggangan bagi orang yang berjihad[7], membiayai para penuntut ilmu dan para dai dan lain sebagainya.
  4. Metode dalam menunjukkan kebaikan dalam hadis ini bersifat umum dan luas, bisa dengan lisan, perbuatan, isyarat atau dengan tulisan. Selama semua metode tersebut dapat menunjukkan kepada kebaikan dengan diiringi niat yang ikhlas, maka ia berhak untuk mendapatkan keutamaan yang dikandung dalam hadis di atas.
  5. Pengertian terbalik (mafhūmu al-mukhālafah) dari hadis ini yaitu bahwa orang yang menunjukkan kepada keburukan, berhak untuk mendapatkan dosa dari pelakunya.
  6. Jangan meremehkan amalan-amalan yang kecil, sebab semua itu akan mendapatkan balasan yang setimpal (bahkan bisa dilipatkangandakan) dari Allah azza wa jalla.
  7. Keutamaan amalan yang muta’addi (amalan yang berkaitan dengan orang lain), seperti berdakwah di jalan Allah, mengajar ilmu Al-Qur’an atau ilmu agama dan lain sebagainya.


Footnote:

[1]Al-Iṣābah (4/524).

[2] Minhatu al-‘Allam (10/129).

[3] Syarḥ al-Nawawi ‘alā Muslim (13/39).

[4]Awnu al-Ma’būd (14/27).

[5] Syarḥ al-Nawawi ‘alā Muslim (13/39).

[6]  Idem.

[7] Idem, Imam Nawawi membuat bab bagi hadis ini, yaitu  “Bab keutamaan membantu orang yang berjihad di jalan Allah…”.

image_pdfUnduh PDF
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments