HADIS ISTIHADAH

99
HADIS ISTIHADAH
Perkiraan waktu baca: 3 menit

SYARAH KITAB ‘UMDAH AL-AḤKĀM[1]

KITAB HAID

Haid menurut etimologi adalah al-Sailān yang berarti mengalir.

Dalam bahasa Arab disebutkan,

حَاضَ الْوَادِيْ: air mengalir di lembah.

حَاضَتِ الشَّجَرَةُ: jika getah pepohonan itu mengalir.

Kata haid dalam terminologi syariat berarti darah yang keluar dari pangkal rahim wanita pada waktu tertentu setelah ia mencapai usia balig.

HADIS ISTIHADAH

عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ أَبِي حُبَيْشٍ سَأَلَتِ النَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَتْ: إنِّي أُسْتَحَاضُ فَلا أَطْهُرُ، أَفَأَدَعُ الصَّلاةَ؟ قَالَ: لا، إنَّ ذَلِكَ عِرْقٌ، وَلَكِنْ دَعِي الصَّلاةَ قَدْرَ الأَيَّامِ الَّتِي كُنْتِ تَحِيضِينَ فِيهَا، ثُمَّ اغْتَسِلِي وَصَلِّي، وَفِي رِوَايَةٍ: وَلَيْسَتْ بِالْحَيْضَةِ، فَإِذَا أَقْبَلَتْ الْحَيْضَةُ فَاتْرُكِي الصَّلاةَ فِيهَا، فَإِذَا ذَهَبَ قَدْرُهَا فَاغْسِلِي عَنْك الدَّمَ وَصَلِّي

Artinya:

‘Ā’isyah raḍiyallāhu ‘anhā meriwayatkan bahwa Fāṭimah binti Abī Ḥubaisy pernah bertanya kepada Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya saya mengeluarkan darah istihadah maka saya tidak pernah suci. Apakah saya tinggalkan salat?” Nabi menjawab, “Tidak, itu hanyalah darah dari urat (yang terluka). Namun tinggalkan salat pada hari-hari Anda mengalami haid, lalu mandilah dan kerjakanlah salat!” 

Dalam riwayat yang lain disebutkan, “Itu bukan haid. Jika tiba masa haid tinggalkanlah salat, jika masa yang setara dengan masa haid itu telah berlalu, mandilah dan kerjakanlah salat!”

Daftar Isi:

Takhrij Hadis:

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhārī dalam kitabnya al-Ṣaḥīḥ; kitab al-Ḥai, bab “Apabila dalam Satu Bulan Mengalami Tiga Kali Haid”, no. 325, dan Imam Muslim dalam kitabnya al-Ṣaḥīḥ; kitab al-Ḥai, bab “Wanita yang Istihadah, Mandi dan Salatnya”, no. 333.

Baca juga:  HADIS WUDU BAGI YANG JANABAH SEBELUM TIDUR

Riwayat kedua diriwayatkan oleh Imam Bukhārī dalam kitabnya al-Ṣaḥīḥ; kitab al Ḥai, bab “Istihadah”, no. 306 dan Imam Muslim dalam kitabnya al- Ṣaḥīḥ; kitab al-Ḥai, bab “Wanita yang Istihadah, Mandi dan Salatnya”, no. 334.

عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها أَنَّ أُمَّ حَبِيبَةَ اُسْتُحِيضَتْ سَبْعَ سِنِينَ؛ فَسَأَلَتْ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ ذَلِكَ، فَأَمَرَهَا أَنْ تَغْتَسِلَ، قَالَتْ: فَكَانَتْ تَغْتَسِلُ لِكُلِّ صَلاةٍ

Artinya:

‘Ā’isyah raḍiyallāhu ‘anhā meriwayatkan bahwa Ummu Ḥabībah raḍiyallāhu ‘anhā mengalami istihadah sepanjang tujuh tahun. Ia pun bertanya kepada Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam perihal tersebut. Beliau pun memerintahkannya untuk mandi. ‘Ā’isyah raḍiyallāhu ‘anhā berkata, “Ia senantiasa mandi untuk mengerjakan setiap salat.”

Takhrij Hadis:

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhārī dalam kitabnya al-Ṣaḥīḥ; kitab al-Ḥai, bab “Urat Istihadah”, no. 327, dan dan Imam Muslim dalam kitabnya al-Ṣaḥīḥ; kitab al-Ḥai, bab “Wanita yang Istihadah, Mandi dan Salatnya”, no. 334.

Syarah dan Faedah yang Terkandung dalam Dua Hadis Ini:

  1. Di dalam kedua hadis ini terdapat kasus istihadah yang menimpa dua orang ṣaḥābiyāt, yaitu Fāṭimah binti Abī Ḥubaisy dan Ummu Ḥabībah raiyallāhu ‘anhumā.
  2. Istihadah ialah keluarnya darah dari wanita di luar waktu haid yang seharusnya. Darah ini merupakan darah kotor yang tidak normal, menandakan adanya gejala penyakit. Berbeda dengan darah haid yang merupakan darah yang keluar secara normal dan alami. Darah ini dilepaskan oleh rahim setelah mencapai usia balig (puber) pada waktu-waktu tertentu.
  3. Wanita haid meninggalkan salat tanpa harus menggantinya (mengkadanya).
  4. Jika seorang wanita mengalami istihadah dan memiliki jadwal haid yang diketahui, hendaknya ia mengikuti jadwal tersebut untuk membedakan antara darah haid dengan darah istihadah tanpa harus melihat ciri-ciri darah yang keluar (tamyīz) walaupun ia mampu membedakannya.
  5. Jika ada seorang wanita yang biasanya haid pada pekan pertama setiap bulan lalu ia mengalami istihadah, wajib baginya untuk mengacu pada jadwal haidnya yang teratur sebelum mengalami istihadah. Pekan pertama setiap bulan dianggap sebagai haid sesuai dengan kebiasaannya pada masa yang lalu. Sisanya adalah istihadah. Hal ini berlaku juga bagi wanita yang mampu membedakan antara darah haid dengan darah istihadah. Dalam kasus ini, hendaknya mengacu pada jadwal haid yang teratur. Dalilnya ialah hadis yang menceritakan pertanyaan Fāṭimah binti Abī Ḥubaisy raḍiyallāhu ‘anhā di atas. Dalil lainnya ialah hadis Ummu Salamah raḍiyallāhu ‘anhā, istri Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. Beliau bercerita bahwa ada seorang wanita yang mengalami isithadah pada zaman Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. Ummu Salamah pun menanyakan perihal wanita tersebut kepada Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda,
Baca juga:  WAKTU-WAKTU SALAT DAN DURASINYA

لِتَنْظُرْ إِلَى عَدَدِ اللَّيَالِي وَالْأَيَّامِ الَّتِي كَانَتْ تَحِيضُهُنَّ مِنَ الشَّهْرِ قَبْلَ أَنْ يُصِيبَهَا الَّذِي أَصَابَهَا، فَلْتَتْرُكِ الصَّلَاةَ قَدْرَ ذَلِكَ

Artinya:

“Hendaknya ia melihat pada jumlah malam dan siang yang mana ia mengalami haid setiap bulannya sebelum ia mengalami hal yang menimpanya itu (istihadah), hendaknya ia meninggalkan salat sesuai dengan jumlah hari dan malam tersebut.”

Hal ini lebih mudah dikerjakan bagi wanita. Darah yang cenderung berwarna hitam kental mungkin bisa berubah atau mungkin keluar pada awal atau akhir bulan, atau mungkin keluar terputus-putus dan tidak teratur, terkadang yang keluar adalah darah merah dan terkadang darah hitam. Lebih mudah bagi wanita bila mengacu pada jadwal haid bulanannya.

Namun, bila seorang wanita tidak memiliki jadwal haid yang teratur, hendaknya ia menggunakan metode tamyīz. Ia harus membedakan warna darah yang keluar untuk menentukan apakah ia sedang haid atau mengalami istihadah.

  1. Seorang yang mengalami istihadah tidak wajib mandi setiap ingin melaksanakan salat. Hukumnya ialah mustahab (sunah). Namun, ia wajib berwudu setiap tiba waktu salat apabila terdapat darah yang keluar karena darah yang keluar dari vagina membatalkan wudu. Oleh sebab itu, wajib baginya untuk berwudu guna melaksanakan salat.

 

 


Footnote:

[1] Diterjemahkan dan disadur dari kitab “Mūjaz al-Kalām ‘ala ‘Umdah al-Aḥkām” karya Dr. Manṣūr bin Muhammad al-Ṣaq’ūb hafiẓahullāh.

Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments