DURHAKA KEPADA KEDUA ORANG TUA DI ANTARA DOSA TERBESAR SETELAH SYIRIK

418
Perkiraan waktu baca: 2 menit
image_pdfUnduh PDF

عن أَبِي بَكْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ؟ قُلْنَا: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ ثلاثا: الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ، وَكَانَ مُتَّكِئًا فَجَلَسَ، فَقَالَ: أَلَا وَقَوْلُ الزُّورِ وَشَهَادَةُ الزُّورِ أَلَا وَقَوْلُ الزُّورِ وَشَهَادَةُ الزُّورِ. فَمَا زَالَ يَقُولُهَا حَتَّى قُلْتُ: لَا يَسْكُتُ

7/5976. Dari Abu Bakrah radhiyallahu anhu dia berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Maukah aku beritahukan kepada kalian apa saja yang termasuk dosa besar?’ Kami menjawab, ‘Tentu wahai Rasulullah.’ Beliau mengulanginya tiga kali seraya bersabda, ‘Menyekutukan Allah dan mendurhakai kedua orang tua,’ -ketika itu beliau tengah bersandar, kemudian duduk lalu melanjutkan sabdanya-, ‘Perkataan dusta dan kesaksian palsu, perkataan dusta dan kesaksian palsu.’ Beliau terus saja mengulanginya hingga saya mengatakan, ‘(Jangan-jangan) beliau tidak akan diam.’”

Biografi Singkat Sahabat Perawi Hadis

Abu Bakrah adalah kuniyah dari sahabat mulia yang nama aslinya Nufai’ bin Haris bin Kaladah Ats-Tsaqafi. Beliau dijuluki Abu Bakrah karena bersegera dan bercepat-cepat mendatangi Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam dari benteng Thaif. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memerdekakan beliau pada saat itu juga, di mana sahabat yang ditugaskan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam menyeru bahwa barang siapa yang mendatangi Nabi shallallahu alaihi wasallam dari budak penduduk Thaif niscaya akan dimerdekakan. Abu Nuaim Al-Ashbahani berkata, “Abu Bakrah radhiyallahu anhu adalah seorang laki-laki warak dan saleh, Nabi shallallahu alaihi wasallam mempersaudarakan beliau dengan Abu Barzah pada awal hijrah. Beliau berdomisili di Bashrah dan wafat di sana pada tahun 51 atau 52 hijriah. Abu Barzah Al-Aslami bertindak sebagai imam pada saat salat jenazahnya.”(1) radhiyallahu anhuma wa ‘an jami’ ashshahabah alkiram.

Kesimpulan dan Pelajaran:

  1. Di antara metode taklim yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah menghadirkan perhatian dan kesiapan pendengar sebelum menyampaikan sesuatu kepada mereka;
  2. Semangat dan antusias besar yang dimiliki oleh para sahabat radhiyallahu anhum dalam mengambil dan menerima ilmu dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam;
  3. Pentingnya mengetahui perbuatan yang termasuk dosa sebagaimana mengetahui kebaikan. Kebaikan diketahui untuk diamalkan dan dilaksanakan, adapun dosa diketahui untuk dijauhi dan ditinggalkan;
  4. Dosa terbagi menjadi tiga tingkatan: dosa terbesar, dosa besar, dan dosa kecil;
  5. Disunahkan mengulangi perkataan sebanyak tiga kali untuk penekanan akan pentingnya masalah yang disampaikan dan agar lebih dipahami dengan baik;
  6. Mempersekutukan Allah azza wajalla adalah dosa terbesar;
  7. Durhaka kepada orang tua adalah dosa terbesar setelah syirik;
  8. Perkataan dusta dan persaksian palsu termasuk di antara dosa terbesar;
  9. Mengubah posisi tubuh adalah di antara metode pengajaran Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam;
  10. Besarnya rasa cinta dan sayang para sahabat, di antaranya Abu Bakrah radhiyallahu anhu, kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di mana mereka kadang iba dan kasihan kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam ketika beliau harus mengulang-ulangi sabdanya karena itu akan menyulitkan dan meletihkan beliau.

Footnote:

(1) Ma’rifah Ash-Shahabah (5/2680). Lihat juga biografi beliau di Al-Isti’ab fi Ma’rifah Al-Ashhab (4/1530), Usdu Al-Ghabah (5/334), dan Al-Ishabah fi Tamyiz Ash-Shahabah (6/369).

image_pdfUnduh PDF
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments