BAB TAYAMUM

51
BAB TAYAMUM
Perkiraan waktu baca: 2 menit

SYARAH KITAB ‘UMDAH AL-AHKĀM[1]

عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ -رضي الله عنه-: أَنَّ رَسُولَ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- رَأَى رَجُلاً مُعْتَزلاً، لَمْ يُصَلِّ فِي الْقَوْمِ، فَقَالَ: يَا فُلانُ، مَا مَنَعَكَ أَنْ تُصَلِّيَ فِي الْقَوْمِ؟ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَصَابَتْنِي جَنَابَةٌ، وَلا مَاءَ، فَقَالَ: عَلَيْك بِالصَّعِيدِ، فَإِنَّهُ يَكْفِيَكَ

Artinya:

‘Imrān bin Ḥuṣain raḍiyallahu’anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wasallam melihat seorang pria menjauhkan diri tidak salat bersama jemaah. Beliau pun bertanya, “Wahai Fulan, apa yang menghalangimu salat bersama jemaah?” Ia menjawab, “Wahai Rasulullah, saya terkena janabah sedangkan tidak ada air.” Beliau berkata, “Harusnya engkau menggunakan debu/tanah. Itu cukup bagimu.”

Daftar Isi:

Takhrīj Hadis:

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhāri dalam kitabnya al-Ṣaḥīḥ, kitab al-Tayammum, bab Tayamum dengan Satu Tepukan, nomor 348 dan Imam Muslim dalam kitabnya al-Ṣaḥīḥ; kitab al-Masājid wa Mawāḍi’ al-Ṣalāh, bab Mengganti Salat yang Luput dan Anjuran Mempercepatnya, nomor 682. Lafaz hadis ini sesuai dengan periwayatan al-Bukhāri.

Syarah dan Faedah Yang Terkandung Dalam Hadis Ini:

  1. Tayamum menurut etimologi berarti bermaksud. Makna ini terdapat dalam firman Allah,

وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيْثَ مِنْهُ تُنْفِقُوْنَ وَلَسْتُمْ بِاٰخِذِيْهِ اِلَّآ اَنْ تُغْمِضُوْا فِيْهِ

Artinya: Janganlah kamu bermaksud memilih yang buruk untuk kamu infakkan, padahal kamu tidak mau mengambilnya, kecuali dengan memicingkan mata (enggan) terhadapnya. (Q.S. al-Baqarah: ayat 267).

Menurut terminologi syariat, tayamum berarti beribadah kepada Allah dengan mengusap wajah dan kedua tangan dengan debu/tanah dengan cara khusus.[2]

  1. Adanya syariat tayamum. Ini ditunjukkan oleh beberapa dalil:
  2. Firman Allah subhanahu wa taala,

فَلَمْ تَجِدُوْا مَاۤءً فَتَيَمَّمُوْا صَعِيْدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوْا بِوُجُوْهِكُمْ وَاَيْدِيْكُمْ مِّنْهُ ۗ

Baca juga:  HUKUM SALAT TARAWIH EMPAT RAKAAT

Artinya: “… lalu tidak memperoleh air, bertayamumlah dengan debu yang baik (suci), usaplah wajahmu dan tanganmu dengan (debu) itu.” (QS. Al-Mā`idah: 6)

  1. Beberapa hadis juga menjelaskan disyariatkannya tayamum, di antaranya ialah hadis ini.
  2. Ijmak (konsensus) para ulama bahwa tayamum disyariatkan.
  3. Apabila seorang yang junub tidak bisa menggunakan air, dibolehkan baginya bertayamum. Ini berlaku pada dua keadaan:

Pertama: Ketika tidak ada air. Yakni ketika seseorang tidak mendapati air di tempat tinggal dan di sekitarnya menurut ‘urf yang berlaku. Allah berfirman,

فَلَمْ تَجِدُوْا مَاۤءً فَتَيَمَّمُوْا صَعِيْدًا طَيِّبًا

Artinya: “… sedangkan kamu tidak mendapati air, maka bertayamumlah kamu dengan debu yang baik (suci).” (QS. An-Nisā`: 43).

Kedua: Kekhawatiran akan adanya mudarat yang muncul ketika menggunakan air seperti munculnya mudarat pada tubuh, bertambah sakit, ketika cuaca dingin yang dikhawatirkan munculnya mudarat jika seseorang mandi junub, dan lain sebagainya.

  1. Tayamum mengangkat hadas namun hanya sementara hingga uzur hilang atau air didapatkan.
  2. Tayamum dilakukan menggunakan ṣa’īd yakni tanah dan semua hal yang berasal dari jenis tanah.

 

 


Footnote:

[1] Diterjemahkan dan disadur dari kitab Mūjaz al-Kalām ‘ala ‘Umdah al-Ahkām karya Dr. Manṣūr bin Muhammad Al-Ṣaq’ūb hafizhahullāh.

[2] Al-Muṭli’ ‘Alā Abwāb Al-Muqni’, karya Ibn Abi al-Fatḥ al-Ba’li, halaman 32.

Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments