BAB: SEPERTI APA PERMULAAN WAHYU KEPADA RASULULLAH SALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM? (HADIS 4)

79
Perkiraan waktu baca: 2 menit
image_pdfUnduh PDF

Hadis 4

قَالَ ابْنُ شِهَابٍ: وَأَخْبَرَنِي أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، أَنَّ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ الأَنْصَارِيَّ، قَالَ: وَهُوَ يُحَدِّثُ عَنْ فَتْرَةِ الوَحْيِ فَقَالَ فِي حَدِيثِهِ: ” بَيْنَا أَنَا أَمْشِي إِذْ سَمِعْتُ صَوْتًا مِنَ السَّمَاءِ، فَرَفَعْتُ بَصَرِي، فَإِذَا المَلَكُ الَّذِي جَاءَنِي بِحِرَاءٍ جَالِسٌ عَلَى كُرْسِيٍّ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ، فَرُعِبْتُ مِنْهُ، فَرَجَعْتُ فَقُلْتُ: زَمِّلُونِي زَمِّلُونِي ” فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى: {يَا أَيُّهَا المُدَّثِّرُ. قُمْ فَأَنْذِرْ} [المدثر: 2] إِلَى [ص:8] قَوْلِهِ {وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ} [المدثر: 5]. فَحَمِيَ الوَحْيُ وَتَتَابَعَ تَابَعَهُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ، وَأَبُو صَالِحٍ، وَتَابَعَهُ هِلاَلُ بْنُ رَدَّادٍ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، وَقَالَ يُونُسُ، وَمَعْمَرٌ بَوَادِرُهُ

Ibnu Syihab berkata, “Telah mengabarkan kepadaku Abu Salamah bin Abdurrahman bahwa Jabir bin Abdullah Al-Anshari berkata, ketika menceritakan tentang kekosongan wahyu, dia berkata di dalam hadisnya, “Ketika sedang berjalan aku mendengar suara dari langit, aku memandang ke arahnya dan ternyata Malaikat yang pernah datang kepadaku di Gua Hiro, duduk di atas kursi antara langit dan bumi. Aku pun ketakutan lalu pulang, maka aku berkata, “Selimuti aku, selimuti aku.” Maka Allah Ta’ala menurunkan wahyu, Wahai orang yang berselimut, bangunlah, lalu berilah peringatan!” sampai firmanNya “Dan berhala-berhala tinggalkanlah.” (QS. Al Muddatstsir: 1-5).  Sejak saat itu wahyu terus turun berkesinambungan.” Hadits ini juga diriwayatkan oleh Abdullah bin Yusuf dan Abu Shalih juga oleh Hilal bin Raddad dari Az Zuhri. Dan Yunus berkata, “Dan Ma’mar menyepakati bahwa dia mendapatkannya dari Az Zuhri.” Berkata Yunus dan Az Zuhri, Bawadiruhu.”

Takhrij Hadis:

Hadis ini juga kembali disebutkan oleh Imam Bukhari pada delapan tempat dari kitab Sahihnya yaitu pada nomor 3238, 4922, 4923, 4924, 4925, 4926, 4954, dan 6214. Hadis ini diriwayatkan pula oleh Imam Muslim dalam Kitab Iman, Bab Permulaan Wahyu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, nomor 161.

Biografi Perawi Hadis[1]:

Hadis ini diriwayatkan oleh Jabir bin Abdullah bin ‘Amru bin Haram Al-Anshari Al-Sulami, Abu ‘Abdillah. Diriwayatkan bahwa Jabir adalah salah seorang sahabat yang ikut dalam baiat Aqabah di kota Mekah. Beliau termasuk salah seorang sahabat yang banyak meriwayatkan hadis dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan membersamai beliau dalam 19 perang dari 21 peperangan yang dilakukan oleh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dua perang yang tidak diikuti oleh Jabir adalah peperangan Badr dan Uhud karena ayah beliau masih hidup saat itu dan melarangnya untuk ikut berjihad. Ketika ayahnya telah meninggal sebagai syahid di perang Uhud, maka Jabir menggantikan ayahnya dalam medan jihad dan tidak pernah tertinggal walaupun sekali.

Diriwayatkan dari Hisyam bin ‘Urwah bahwasanya Jabir memiliki halakah ilmu di Masjid Nabawi. Beliau meninggal pada tahun 78 H pada usia 94 tahun, dan berwasiat agar tidak disalatkan oleh Hajjaj bin Yusuf Al-Tsaqafi pada masa tersebut.

Fawaid Hadis:

  1. Hadis ini berisi penjelasan tentang masa kekosongan wahyu yang disebutkan pada hadis sebelumnya. Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berjalan di Kota Mekah, beliau melihat malaikat Jibril sedang duduk di atas kursi di antara langit dan bumi, maka beliau merasa ketakutan dan berlari ke rumahnya sembari meminta untuk diselimuti, maka turunlah firman Allah yaitu Surah Al-Muddatstsir.
  2. Dalam surah Al-Muddatstsir, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk bangkit dari tidurnya dan memberikan peringatan kepada kaumnya dari azab bagi mereka yang enggan beriman kepadanya.
  3. Di antara perintah Allah dalam surah tersebut adalah membersihkan pakaian dari najis, atau bermakna membersihkan jiwa dari kekurangan dan kelemahan yang ada. Allah juga perintahkan kepadanya untuk meninggalkan patung-patung dan berhala-berhala yang diibadahi selain dari pada Allah Ta’ala.
  4. Setelah kejadian ini, maka wahyu Allah kemudian turun kepada Rasulullah dan tidak pernah lagi berhenti.
  5. Pada akhir hadis ini disebutkan oleh Al-Hafidz bahwa Yunus dan Az-Zuhri meriwayatkannya dengan lafaz ‘bawadiruhu yang artinya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pulang ketakutan setelah melihat Jibril, sedang pundak beliau gemetaran karena rasa takutnya yang sangat dahsyat.

 

 


Footnote:

[1] Lihat: Al-Ishabah Fi Tamyiz Al-Sahabah, Jilid 1, h. 546.

image_pdfUnduh PDF
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments