ANJURAN MENGGUNAKAN TEMPAT YANG TERTUTUP KETIKA BUANG HAJAT

99
ANJURAN MENGGUNAKAN TEMPAT YANG TERTUTUP KETIKA BUANG HAJAT
Perkiraan waktu baca: 1 menit
image_pdfUnduh PDF

Anjuran menggunakan tempat yang tertutup ketika buang hajat[1]

وَعَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ جَعْفَر قَالَ: أَرْدَفَنِي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَلْفَهُ، وَكَانَ أَحَبَّ مَا اسْتَتَرَ بِهِ لِحَاجَتِهِ هَدَفٌ أَوْ حَائِشٌ نَخْلٍ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Abdullāh bin Ja’far raḍiyallāhu ‘anhumā, ia berkata, “Nabi ﷺ pernah membonceng saya di belakangnya dan yang paling beliau sukai ketika buang hajat adalah berlindung pada bangunan yang tinggi atau pepohonan kurma.” Hadis riwayat Muslim.[2]

Kosa kata hadis:

  1. Abdullāh bin Ja’far bin Abī Ṭālib al-Hasyimī lahir di negeri Habasyah namun kemudian bermukim di Madinah.

Beliau diasuh oleh Nabi Muhammad ﷺ setelah bapaknya wafat sebagai syahid pada perang Mu’tah.[3]

Ibunya adalah Asma’ bin ‘Umais al-Khaṡ’amiyah. Abdullāh bin Ja’far raḍiyallāhu ‘anhumā pada wafat tahun 90 hijriah, pada usia 90 tahun.[4]

  1. Hadafun (هَدَفٌ) artinya tanah atau bangunan yang tinggi.
  2. Ḥā’isyun nakhl (حَائِشٌ نَخْلٍ) artinya kumpulan pepohonan kurma atau kebun kurma.[5]

Makna hadis:

Abdullāh bin Ja’far raḍiyallāhu ‘anhumā menyebutkan kisahnya ketika dibonceng oleh Nabi ﷺ dan sunah yang dicontohkan oleh beliau adalah mencari tempat yang tertutup seperti bangunan atau kebun yang dipenuhi pepohonan ketika buang hajat agar terhindar dari pandangan manusia.

Faedah dan istinbat dari hadis:

  1. Hadis ini mengandung fikih bahwa ketika buang hajat, mustahab (dianjurkan) menggunakan tempat yang tertutup berupa bangunan atau kebun dengan tujuan bersembunyi dari pandangan orang lain. Adab mulia ini hukumnya sunah muakkad.[6]
  2. Bolehnya berboncengan di atas kendaraan namun harus sesuai dengan kapasitasnya.
Baca juga:  BERWUDU KARENA MENYENTUH KUBUL (BAGIAN KEDUA)

 


Footnote:

[1] Al-Nawawī. Al-Minhāj. Jilid 4, hlm. 35.

[2] H.R. Muslim (342).

[3] Al-Ẑahabī. Siyār A’lām al-Nubala’. Jilid 3, hlm. 461.

[4] Ibnu Hajar al-Asqalanī. Al-Iṣābah fī Tamyīz al-Ṣaḥābah. Jilid 4, hlm 37.

[5] Al-Khaṭṭābī. Ma’ālim al-Sunan. Jilid 2, hlm. 248.

[6] Al-Nawawī. Al-Minhāj. Jilid 4, hlm. 35.

image_pdfUnduh PDF
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments