ANJURAN MENGERJAKAN SALAT SUNAH RAWATIBPerkiraan waktu baca: 3 menit

187
Anjuran Mengerjakan Salat Sunah Rawatib

SYARAH KITAB ‘UMDAH AL-AHKĀM[1]

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما قَالَ: صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الظُّهْرِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْجُمُعَةِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ

وَفِي لَفْظِ: فَأَمَّا الْمَغْرِبُ وَالْعِشَاءُ وَالْجُمُعَةُ: فَفِي بَيْتِهِ

وَفِي لَفْظٍ: أَنَّ ابْنَ عُمَرَ قَالَ: حَدَّثَتْنِي حَفْصَةُ: أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يُصَلِّي سَجْدَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ بَعْدَمَا يَطْلُعُ الْفَجْرُ. وَكَانَتْ سَاعَةً لا أَدْخُلُ عَلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فِيهَا

Artinya:

Abdullah bin Umar radhiyallāhu ‘anhumā meriwayatkan ia berkata, “Aku salat (sunah) bersama Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallam dua rakaat sebelum Zuhur, dua rakaat setelahnya, dua rakaat setelah salat Jumat, dua rakaat setelah Magrib, dan dua rakaat setelah Isya.”

Dalam riwayat lain disebutkan, “Adapun Magrib, Isya, dan Jumat, dikerjakan di rumahnya.”

Dalam riwayat lainnya, Abdullah bin Umar radhiyallāhu ‘anhumā berkata, “Hafshah radhiyallāhu ‘anhā memberitahuku bahwa Nabi shallallāhu ‘alaihi wasallam biasa mengerjakan salat sunah secara ringan setelah terbit fajar. Itu adalah waktu yang tidak aku masuki untuk menemui Nabi shallallāhu ‘alaihi wasallam.”

Takhrij Hadis:

Riwayat pertama diriwayatkan oleh Imam al-Bukhārī dalam Ṣaḥīḥ-nya, Kitābu at-Taṭawwu‘, Bābu aṣ-Ṣalāti an-Nāfilah Raka‘ataini Raka‘ataini (bab Salat Sunah Dikerjakan Dua Rakaat Dua Rakaat), no. 1112. Riwayat ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Ṣaḥīḥ-nya, Kitābu Ṣalāti al-Musāfirīn wa Qaṣrihā, Bābu Faḍli as-Sunan ar-Rawātib (bab Keutamaan Sunah-Sunah Rawatib), no. 729. Lafaz hadis ini sesuai dengan redaksi Imam al-Bukhārī.

Adapun riwayat kedua diriwayatkan oleh Imam al-Bukhārī dalam Ṣaḥīḥ-nya, Kitābu at-Taṭawwu‘, Bābu at-Taṭawwu‘ ba’da al-Maktūbah (bab Salat Sunah Setelah Salat Wajib), no. 1119, kecuali lafaz: “dan Jumat” tidak diriwayatkan oleh Imam al-Bukhārī. Riwayat ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Ṣaḥīḥ-nya, Kitābu Ṣalāti al-Musāfirīn wa Qaṣrihā, Bābu Faḍli as-Sunan ar-Rawātib (bab Keutamaan Sunah-Sunah Rawatib), no. 729.

Baca juga:  HADIS TIDAK BERSUCI SETELAH KENCING TERMASUK DOSA BESAR

Riwayat ketiga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhārī dalam Ṣaḥīḥ-nya, Kitābu at-Taṭawwu‘, Bābu at-Taṭawwu‘ ba’da al-Maktūbah (bab Salat Sunah Setelah Salat Wajib), no. 1119. Riwayat ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Ṣaḥīḥ-nya, Kitābu Ṣalāti al-Musāfirīn wa Qaṣrihā, Bābu Istihbābi Rak‘atay Sunnati al-Fajr wa al-Ḥatthi ‘alayhimā (bab Anjuran Salat Sunah Dua Rakaat Sebelum Fajar dan Motivasi Mengerjakannya), no. 723.

Syarah dan Faedah Yang Terkandung Dalam Hadis Ini:

  1. Hadis ini menunjukkan dianjurkannya mengerjakan salat sunah tersebut yakni salat sunah rawatib.  
  2. Salat sunah rawatib adalah dua rakaat sebelum salat Zuhur, dua rakaat setelahnya, dua rakaat setelah salat Jumat, dua rakaat setelah Magrib, dua rakaat setelah Isya, dan dua rakaat sebelum Subuh.
  3. Melakukan ibadah sunah setelah mengerjakan ibadah wajib berfungsi sebagai penyempurna dan penambal kekurangan yang terjadi di dalam pelaksaan ibadah wajib. Ini didasari oleh hadis marfuk yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu,

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ، فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ، فَإِنْ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ، قَالَ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ: انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ فَيُكَمَّلَ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الفَرِيضَةِ، ثُمَّ يَكُونُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ

Artinya: “Sesungguhnya amalan yang pertama kali dipertanggungjawabkan oleh hamba pada hari kiamat adalah salatnya. Apabila salatnya baik maka ia beruntung dan selamat. Bila rusak, maka ia celaka dan rugi. Apaila ada kekurangan dari salat wajibnya maka Allah pun berfirman, ‘Lihatlah apakah hambaKu memiliki amalan sunah yang bisa menyempurnakan kekurangan amalan wajibnya?’ Lalu seluruh amalannya pun seperti itu’.”2

  1. Disunahkan mengerjakan salat-salat sunah ini di rumah karena lebih jauh dari riya’ dan lebih mudah untuk ikhlas, di sisi lain, mengerjakan ibadah salat sunah di rumah mendatangkan keberkahan bagi rumah agar rumah tidak seperti kuburan yang tidak boleh dilaksanakan ibadah salat di atasnya Selain itu, jika salat sunah dikerjakan di rumah, maka itu menjadi teladan bagi seluruh penghuni rumah
Baca juga:  HADIS KETIGA: OLAHRAGA BERJALAN KAKI

Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallam bersabda,

اجْعَلُوا فِي بُيُوتِكُمْ مِنْ صَلاَتِكُمْ وَلاَ تَتَّخِذُوهَا قُبُورًا

Artinya: “Jadikanlah rumah kalian tempat untuk mengerjakan salat (sunah), jangan jadikan rumah kalian kuburan!”3

  1. Hadis ini juga menunjukkan bahwa disunakan mengerjakan salat sunah dua rakaat setelah salat Jumat. Terdapat hadis dari Nabi shallallāhu ‘alaihi wasallam bahwa jumlah rekaat salat sunah setelah Jumat adalah empat rakaat. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu secara marfu’ disebutkan,

إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمُ الْجُمُعَةَ فَلْيُصَلِّ بَعْدَهَا أَرْبَعًا

Artinya: “Jika kalian mengerjakan salat Jumat maka hendaknya, ia salat (sunah) setelahnya empat (rakaat).”4

  1. Salat sunah setelah Jumat bisa dikerjakan secara bergantian, terkadang empat rakaat, terkadang dua rakaat atau apabila dikerjakan di masjid hendaknya empat rakaat dan apabila dikerjakan di rumah hendaknya dikerjakan dua rakaat.5

 

 


Footnote:

[1] Diterjemahkan dan disadur dari kitab “Mūjaz al-Kalām ‘ala ‘Umdah al-Ahkām” karya Dr. Manṣūr bin Muhammad Al-Ṣaq’ūb hafizhahullāh.

2 HR. Ahmad (no. 9494) dan Tirmizi (no. 413), lafaz ini adalah lafaz Tirmizi.

3 HR. Bukhari (no. 432) dan Muslim (no. 777).

4 HR. Muslim (no. 881).

5 Lihat: al-Mustadrak ‘ala Majmū’ al-Fatāwā Syaikh al-Islām (3/129).

Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Oldest
Newest Most Voted