
TANYA JAWAB SEPUTAR ILMU HADIS(1)
🟩 FATWA (12) BAGIAN KEEMPAT: PERBEDAAN ANTARA TADLĪS DAN MURSAL KHAFIY
Pertanyaan:
Apa perbedaan antara tadlīs dan mursal khafiy?
Jawaban:
Tadlīs adalah periwayatan seorang perawi dari gurunya dengan menggunakan lafaz periwayatan yang mengandung dua kemungkinan, yaitu kemungkinan bahwa ia mendengar hadis tersebut secara langsung dari gurunya dan kemungkinan bahwa ia tidak mendengarnya secara langsung. Di antara lafaz yang dimaksud adalah عَنْ (‘an), قَالَ (qāla), dan lafaz-lafaz lain yang semisal.
Secara bahasa, kata tadlīs berasal dari kata الدَّلَسُ, yang bermakna bercampurnya kegelapan dengan cahaya. Kata ini juga digunakan untuk menyebut cacat atau kekurangan pada barang dagangan yang sengaja disembunyikan. Kedua makna tersebut memiliki unsur kesamaan, yaitu الْخَفَاءُ, yang berarti samar atau tersembunyi.
Adapun jenis kedua dari inqithā‘ khafiy (keterputusan sanad yang tersembunyi) adalah hadis mursal khafiy.
Banyak ulama tidak membedakan antara tadlīs dan mursal khafiy. Namun, sejumlah ulama ahli tahqiq, seperti Al-Khatib Al-Baghdadi dan ulama setelahnya, seperti Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, menjelaskan bahwa terdapat perbedaan antara hadis mudallas dan hadis mursal khafiy.
Mursal khafiy adalah periwayatan seorang perawi dari perawi lain yang hidup sezaman dengannya, tetapi keduanya belum pernah bertemu atau perawi tersebut belum pernah mendengar hadis secara langsung darinya. Dalam meriwayatkan hadis itu, ia menggunakan lafaz periwayatan yang mengandung kemungkinan bahwa ia mendengar secara langsung maupun tidak.
Illat semacam ini tidak dapat diketahui kecuali oleh para ulama yang memiliki ketelitian tinggi dalam meneliti hadis, khususnya dalam memastikan apakah seorang perawi benar-benar pernah mendengar hadis dari perawi yang berada di atasnya dalam sanad atau tidak. Inilah yang disebut dengan inqithā‘ khafiy.
Adapun hadis mudallas, pendeteksiannya lebih sulit lagi. Sebab, pada dasarnya telah diketahui bahwa seorang perawi memang pernah meriwayatkan hadis dari gurunya. Namun, bisa jadi hadis tertentu yang sedang diteliti ternyata tidak didengarnya secara langsung dari guru tersebut.
Footnote:
(1) Tulisan ini disadur dan diterjemahkan dari Kitab al-Fatāwā al-Ḥadītsiyyah, yang dikumpulkan serta disusun oleh Syekh Abu ‘Ubaidah Māhir bin Ṣāliḥ Ālu Mubārak ḥafiẓahullāh, berdasarkan jawaban-jawaban Syekh Prof. Dr. Sa‘ad bin ‘Abdullāh bin ‘Abd al-‘Azīz al-Ḥumayyid ḥafiẓahullāh, mantan Guru Besar Ilmu Hadis di Universitas King Saud, Riyadh, Kerajaan Arab Saudi. Kitab ini diterbitkan oleh Dār ‘Ulūm al-Sunnah, Riyadh, pada tahun 1420H.














![BAB 4 DZAN ANWATH: PELAJARAN TAUHID TENTANG SEBUAH POHON IMG WA[]](https://markazsunnah.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG-20261025-WA00781-100x70.jpg)

