
40 HADIS TENTANG OLAH RAGA(1)
REDAKSI HADIS:
وَفِي حَدِيثٍ طَوِيلٍ رَوَى فِيهِ سَلَمَةُ بْنُ الْأَكْوَعِ t قِصَّةَ غَزْوَةِ ذِي قَرَدٍ، وَأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ أَرْدَفَهُ وَرَاءَهُ عَلَى الْعَضْبَاءِ، رَاجِعَيْنِ إِلَى الْمَدِينَةِ، قَالَ: فَبَيْنَمَا نَحْنُ نَسِيرُ قَالَ، وَكَانَ رَجُلٌ مِنَ الْأَنْصَارِ لَا يُسْبَقُ شَدًّا، قَالَ: فَجَعَلَ يَقُولُ: أَلَا مُسَابِقٌ إِلَى الْمَدِينَةِ؟ هَلْ مِنْ مُسَابِقٍ؟ فَجَعَلَ يُعِيدُ ذَلِكَ، قَالَ: فَلَمَّا سَمِعْتُ كَلَامَهُ قُلْتُ: أَمَا تُكْرِمُ كَرِيمًا وَلَا تَهَابُ شَرِيفًا؟ قَالَ: لَا، إِلَّا أَنْ يَكُونَ رَسُولَُ اللهِ e. قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، بِأَبِي وَأُمِّي ذَرْنِي فَلِأُسَابِقَ الرَّجُلَ، قَالَ: إِنْ شِئْتَ. قَالَ: قُلْتُ: اذْهَبْ إِلَيْكَ، وَثَنَيْتُ رِجْلَيَّ، فَطَفَرْتُ فَعَدَوْتُ، قَالَ: فَرَبَطْتُ عَلَيْهِ شَرَفًا أَوْ شَرَفَيْنِ، أَسْتَبْقِي نَفَسِي، ثُمَّ عَدَوْتُ فِي إِثْرِهِ فَرَبَطْتُ عَلَيْهِ شَرَفًا أَوْ شَرَفَيْنِ، ثُمَّ إِنِّي رَفَعْتُ حَتَّى أَلْحَقَهُ، قَالَ فَأَصُكُّهُ بَيْنَ كَتِفَيْهِ، قَالَ: قُلْتُ: قَدْ سُبِقْتَ وَاللهِ، قَالَ: أَنَا أَظُنُّ، قَالَ: فَسَبَقْتُهُ إِلَى الْمَدِينَةِ.
Artinya: Dalam sebuah hadis yang panjang, Salamah bin al-Akwa’ radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan kisah Perang Dzi Qarad. Beliau menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ memboncengnya di belakang beliau di atas punggung al-‘Adba’, unta milik Rasulullah ﷺ, ketika dalam perjalanan pulang menuju Madinah. Salamah t berkata: Ketika kami sedang dalam perjalanan, tiba-tiba seorang laki-laki dari kaum Anshar yang tidak pernah terkalahkan dalam lomba lari berseru, “Siapakah yang mau berlomba lari menuju Madinah? Adakah yang ingin berlomba denganku?” Ia terus mengulang-ulang tantangannya. Ketika aku mendengar ucapannya, aku berkata, “Apakah engkau tidak menghormati orang yang mulia dan tidak segan kepada orang yang terhormat?” Ia menjawab, “Tidak, kecuali jika orang itu adalah Rasulullah ﷺ.” Aku pun berkata, “Wahai Rasulullah, demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, izinkan aku berlomba dengannya.” Beliau bersabda, “Jika engkau menghendakinya, silakan.” Aku berkata kepada laki-laki itu, “Majulah terlebih dahulu.” Setelah itu aku menekukkan kedua kakiku, lalu melompat dan mulai berlari dengan cepat. Pada awalnya aku membiarkannya berada di depanku sejauh satu atau dua bukit agar aku dapat mengatur napasku. Kemudian aku kembali mempercepat lari hingga berhasil mendekatinya dari belakang. Setelah itu aku kembali mengendurkan lariku sejauh satu atau dua bukit, lalu aku mempercepat lagi hingga berhasil menyusulnya. Ketika telah berada di sampingnya, aku menepuk kedua bahunya seraya berkata, “Demi Allah, aku telah mendahuluimu.” Ia menjawab, “Aku juga mengira demikian.” Salamah berkata, “Akhirnya aku berhasil mendahuluinya hingga memasuki Madinah.” (HR. Muslim).
TAKHRIJ HADIS:
Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya, Kitab al-Jihad wa as-Siyar, Bab Perang Dzi Qarad dan Hadis-Hadis Lain yang Berkaitan Dengannya (no. 1807).
BIOGRAFI SINGKAT SAHABAT PERAWI HADIS:
Salamah bin al-Akwa’ radhiyallahu ‘anhu merupakan salah seorang sahabat yang ikut serta dalam Baiat Ridwan. Beliau membaiat Rasulullah ﷺ untuk berjuang hingga akhir hayat. Beliau dikenal sebagai sosok yang pemberani, ahli memanah, dermawan, dan berbudi pekerti luhur. Beliau sempat menetap di ar-Rabadzah, lalu wafat di Madinah al-Munawwarah pada tahun 74 H dalam usia 80 tahun.(2)
SYARAH HADIS:
Imam an-Nawawi rahimahullah berkata: “Hadis ini menjadi dalil bolehnya mengadakan perlombaan lari. Para ulama sepakat mengenai kebolehannya apabila dilakukan tanpa adanya hadiah atau kompensasi bagi para peserta. Adapun apabila perlombaan tersebut disertai hadiah atau kompensasi yang diperebutkan oleh kedua peserta, maka para ulama berbeda pendapat tentang hukumnya. Menurut pendapat yang paling kuat dalam mazhab kami (mazhab Syafi’i), perlombaan semacam itu tidak diperbolehkan (tidak sah).”(3)
Hadis yang panjang ini menunjukkan bahwa perlombaan lari telah dikenal dan dipraktikkan secara luas di kalangan para sahabat, serta mendapat pengakuan dari Rasulullah ﷺ. Bahkan, Salamah bin al-Akwa’ radhiyallahu ‘anhu termasuk sahabat yang memiliki kemampuan luar biasa dalam berlari. Kemampuan itulah yang menjadi sebab keberhasilannya mengejar para pencuri yang membawa lari unta-unta Rasulullah ﷺ yang digembalakan di padang penggembalaan. Beliau mengejar mereka hanya dengan berlari menggunakan kedua kakinya hingga berhasil mengungguli unta dan kuda-kuda yang mereka tunggangi. Setelah berhasil mendekati mereka, beliau memanah mereka secara terus-menerus hingga membuat mereka kelelahan dan akhirnya berhasil merebut kembali unta-unta yang telah mereka curi, bahkan memperoleh kembali lebih banyak daripada yang sempat mereka bawa.(4)
Footnote:
(1) Diterjemahkan dan disadur dari buku Al-Arba’ūn Al-Riyādhiyyah Arba’ūna Hadītsan fī Fadhāil al-Riyādhah, karya Syekh Muhammad Khair Ramadhan Yusuf hafizhahullah, diterbitkan oleh Dār al-Thayyibah lin Nasyr wa al-Tawzi’ di Riyadh-Saudi Arabia, Cetakan Pertama, tahun 1425H/2004M.
(2) Lihat: Tahdzīb al-Kamāl (11/301).
(3) Al-Minhāj Syarhu Shahih Muslim bin al-Hajjāj (6/183).
(4) Lihat: Al-Al’āb al-Riyādhiyyah: Ahkāmuhā wa Dhawābituhā (hlm. 121).
















