HADIS PERTAMA: ALLAH MAHAKUASA ATAS SEGALA SESUATUPerkiraan waktu baca: 3 menit

111
السيرة الذاتية []

40 KISAH DALAM HADIS(1)

Pendahuluan:

     Sesungguhnya memikirkan tanda-tanda sifat Allah ‘Azza wa Jalla merupakan salah satu pintu terbesar untuk menambah keimanan. Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā telah memerintahkan kita untuk memperhatikan dan merenungkan kerajaan-Nya, serta menadaburi ayat-ayat syariat dan ayat-ayat kauniyah-Nya. Kisah ini menjelaskan kepada kita salah satu sisi dari keagungan Allah Ta‘ālā yang mutlak dan kekuasaan-Nya atas segala sesuatu.

Beberapa Tujuan Tarbiah dari Kisah Ini:

     Sepantasnya seorang pendidik memfokuskan dalam pelajaran ini pada makna-makna tarbiyah berikut:

  1. Menjelaskan besarnya kekuasaan Allah Ta‘ālā, dan bahwa tidak ada sesuatu pun yang mampu melemahkan-Nya Subḥānahu wa Ta‘ālā.
  2. Menjelaskan luasnya rahmat Allah yang meliputi segala sesuatu.

Redaksi Hadis:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: كَانَ رَجُلٌ يُسْرِفُ عَلَى نَفْسِهِ، فَلَمَّا حَضَرَهُ الْمَوْتُ، قَالَ لِبَنِيهِ: إِذَا أَنَا مُتُّ فَأَحْرِقُونِي، ثُمَّ اطْحَنُونِي، ثُمَّ ذَرُّونِي فِي الرِّيحِ، فَوَاللَّهِ لَئِنْ قَدَرَ عَلَيَّ رَبِّي لَيُعَذِّبَنِّي عَذَابًا مَا عَذَّبَهُ أَحَدًا، فَلَمَّا مَاتَ فُعِلَ بِهِ ذَلِكَ، فَأَمَرَ اللَّهُ الْأَرْضَ، فَقَالَ: اجْمَعِي مَا فِيكِ مِنْهُ فَفَعَلَتْ، فَإِذَا هُوَ قَائِمٌ، فَقَالَ: مَا حَمَلَكَ عَلَى مَا صَنَعْتَ؟ قَالَ: يَا رَبِّ خَشْيَتُكَ (مَخَافَتُكَ يَا رَبِّ)، فَغَفَرَ لَهُ. رواه البخاري.

Artinya: Dari Abu Hurairah raḍiyallāhu ‘anhu, dari Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Ada seorang lelaki yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri (banyak berbuat dosa). Ketika (tanda-tanda) kematian telah datang kepadanya, ia berkata kepada anak-anaknya: ‘Bagaimanakah aku selama ini menurut kalian?’ Mereka menjawab: ‘Engkau adalah sebaik-baik ayah.’ Ia berkata: ‘Sesungguhnya aku belum pernah melakukan satu kebaikan pun sama sekali. Jika aku meninggal dunia maka bakarlah aku, lalu tumbuklah (tulang-belulangku) hingga halus, kemudian tebarkanlah abu itu di lautan. Demi Allah, jika Rabbku mampu menghidupkanku kembali, niscaya Dia akan mengazabku dengan azab yang belum pernah ditimpakan kepada seorang pun.’ Maka ketika ia meninggal, hal itu pun dilakukan terhadapnya. Lalu Allah memerintahkan bumi: ‘Kumpulkanlah apa yang ada darinya.’ Maka seketika itu ia kembali berdiri sempurna. Allah berfirman: ‘Apa yang mendorongmu melakukan hal itu?’ Ia menjawab: ‘Karena takut kepada-Mu wahai Rabbku.’ Maka Allah pun mengampuninya.” (H.R. al-Bukhari).

Baca juga:  HADIS KEDUA: ADAB-ADAB MASJID

 Takhrij Hadis:

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitabnya al-Shahih; kitab Ahādits al-Anbiya’ shalawatullahi ‘alaihim, no. 3481.

Makna Mujmal Hadis:

     Pada zaman dahulu ada seorang lelaki yang banyak melakukan dosa kepada Allah Ta‘ālā dan sangat kurang dalam menaati-Nya. Ia menyadari kelalaiannya terhadap dirinya sendiri dan merasa tidak memiliki amal yang dapat memberinya syafaat di sisi Allah. Ketika tanda-tanda kematian telah datang kepadanya, ia memerintahkan anak-anaknya yang taat kepadanya agar membakar jasadnya setelah kematiannya, kemudian menghancurkannya hingga menjadi bagian-bagian kecil, lalu menebarkannya pada hari yang anginnya sangat kencang agar bagian-bagian tubuhnya tercerai-berai di bumi. Ia menyangka bahwa dengan cara itu Allah tidak akan mampu menghidupkannya kembali dan membangkitkannya.

     Maka ketika mereka melakukan apa yang diperintahkannya, Allah memerintahkan bumi untuk mengumpulkan kembali bagian-bagian tubuhnya dan menghadirkannya sebagaimana semula. Tiba-tiba lelaki itu telah berdiri di hadapan Allah sebagaimana keadaan awal penciptaannya. Allah ‘Azza wa Jalla pun berfirman kepadanya (dan Dia lebih mengetahui): “Apa yang mendorongmu melakukan hal ini?”

     Lelaki itu menjawab bahwa ia melakukan semua itu semata-mata karena rasa takutnya yang sangat besar kepada Allah Subḥānahu, takut terhadap azab dan kemurkaan-Nya. Maka Allah Ta‘ālā mengampuninya sebagai bentuk karunia dan rahmat dari-Nya, sebagai balasan atas rasa takut yang agung tersebut.

Faedah-faedah Tarbiah dari Kisah:

  1. Sesungguhnya seorang pelaku maksiat, sebesar apa pun dosa dan kejahatannya, tidak akan mampu lari dari Allah Ta‘ālā.
  2. Semua yang ada di langit dan di bumi adalah tentara Allah dan makhluk ciptaan-Nya.
  3. Allah Mahakuasa untuk menghidupkan setiap jiwa dan menghisabnya atas segala amal yang telah dikerjakan, baik ataupun buruk.
  4. Sebaiknya seorang pendidik duduk bersama murid-muridnya dalam sebuah majelis untuk menjelaskan besarnya kekuasaan Allah Ta‘ālā dan hukuman-Nya terhadap umat-umat kafir. Dalam majelis tersebut ia menyebutkan bagaimana Allah membinasakan kaum Nabi Nuh, kaum ‘Ād, Tsamūd, Fir‘aun, pasukan bergajah, dan selain mereka. Setiap kali guru menyebutkan suatu peristiwa, ia menguatkannya dengan ayat Al-Qur’an seraya berkata: “Allah Ta‘ālā berfirman…”, lalu membiarkan salah seorang murid melanjutkan ayat tersebut dari hafalannya.
  5. Seorang murabi hendaknya menghentikan murid-muridnya ketika mendengar ayat apa saja yang menjelaskan keagungan kekuasaan Allah atau luasnya rahmat-Nya, lalu mengingatkan mereka dengan isyarat-isyarat singkat tentang pelajaran dan pengaruh dari sifat-sifat tersebut, serta konsekuensi keimanan seorang hamba terhadapnya.
Baca juga:  HADIS KEDUA: ADAB-ADAB MASJID

Footnote:

(1) Diterjemahkan dan disadur dari buku Arba’ūna Qishshah Tarbawiyyah min As-Sunnah an-Nabawiyyah, karya dari Syekh Prof. Dr. Thālib bin ‘Umar bin Haidarah al-Katsīri hafizhahullah.

Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Oldest
Newest Most Voted