SALAT SUNAH DI ATAS KENDARAAN DAN TIDAK MENGHADAP KIBLATPerkiraan waktu baca: 1 menit

30
Markasz

SYARAH KITAB ‘UMDAH AL-AHKĀM(1)

عَنْ أَنَسِ بْنِ سِيرِينَ، قَالَ: اسْتَقْبَلْنَا أَنَسًا رضي الله عنه حِينَ قَدِمَ مِنَ الشَّامِ، فَلَقِينَاهُ بِعَيْنِ التَّمْرِ، فَرَأَيْتُهُ يُصَلِّي عَلَى حِمَارٍ، وَوَجْهُهُ مِنْ ذَا الْجَانِبِ -يَعْنِي: عَنْ يَسَارِ الْقِبْلَةِ- فَقُلْتُ: رَأَيْتُكَ تُصَلِّي لِغَيْرِ الْقِبْلَةِ؟ فَقَالَ: لَوْلاَ أَنِّي رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- يَفْعَلُهُ لَمْ أَفْعَلْهُ.

Artinya:

Anas bin Sirin berkata, “Kami menyambut Anas radhiyallahu ‘anhu ketika beliau datang dari Syam, dan kami bertemu dengan beliau di ‘Ain at-Tamr. Aku melihatnya salat di atas seekor keledai dan wajahnya menghadap ke sisi ini (yaitu ke arah kiri kiblat). Aku pun bertanya kepada beliau, ‘Aku melihat engkau salat tidak menghadap kiblat?” Beliau pun menjawab, ‘Kalau bukan karena aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukannya, tentu aku tidak akan melakukannya’.”

Takhrij Hadis:

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhārī dalam Ṣaḥīḥ-nya, Kitāb Shalāh ath-Tathawwu’ ‘ala al-Himār (Salat Sunah di Atas Keledai), no. 1049, dan juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Ṣaḥīḥ-nya, Kitābu Shalāti al-Musāfirīn wa Qashrihā, Bāb Jawāz Shalāti an-Nāfilah ‘ala ad-Dābbati fī as-Safari Haytsu Tawajjahat (Bab Bolehnya Melaksanakan Salat Sunah di Atas Kendaraan Saat Safar, ke Arah Mana pun Kendaraan itu Menghadap, no. 702.

Syarah dan Faedah Yang Terkandung Dalam Hadis Ini:

  1. Hadis ini menunjukkan bolehnya salat sunah di atas tunggangan meskipun tidak menghadap kiblat.
  2. Bolehnya salat di atas keledai sebagaimana judul bab yang diberikan oleh Imam al-Bukhari
  3. Ibnu Taimiyyah menggunakan hadis ini sebagai dalil bahwa rambut keledai adalah suci, sedangkan yang najis hanyalah daging, kotoran, dan urinnya.(2)
  4. Hadis ini juga menegaskan pentingnya meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam perbuatan dan perkataan, karena Anas radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa ia melakukan hal itu karena pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukannya.
  5. Adapun lokasi ‘Ain at-Tamr yang disebutkan dalam hadis ini, Ibnu Hajar berkata, “Sebuah tempat di jalan menuju Irak setelah Syam. Di tempat itu dulu terjadi peperangan terkenal di akhir masa kekhalifahan Abu Bakar antara pasukan Khalid bin Walid dan non Arab.”(3)
Baca juga:  HADIS KE-38 AL-ARBA'IN: WALI ALLAH

Footnote:

(1) Diterjemahkan dan disadur dari kitab “Mūjaz al-Kalām ‘ala ‘Umdah al-Ahkām” karya Dr. Manṣūr bin Muhammad Al-Ṣaq’ūb hafizhahullāh.

(2) Majmu’ al-Fatawa (21/520).

(3) Fathu al-Bari (1/576).

Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Oldest
Newest Most Voted