
SYARAH KITAB ‘UMDAH AL-AHKĀM(1)
عَنْ عَائِشَةَ -رضي الله عنها-، قَالَتْ: لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ -صلى الله عليه وسلم- عَلَى شَيْءٍ مِنَ النَّوافِلِ أَشَدَّ تَعاهُدًا مِنْهُ عَلَى رَكْعَتَي الفَجْرِ.
وَفِي لَفْظٍ لِمُسْلِمٍ: ركْعَتَا الفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا ومَا فِيْهَا.
Artinya:
‘Ā’isyah radhiyallāhu ‘anhā mengatakan, “Nabi ﷺ tidak pernah begitu menjaga suatu amalan sunah dibandingkan dengan dua rakaat Fajar.”
Dalam lafaz Muslim disebutkan, “Dua rakaat (sunah) Fajar lebih baik dari pada dunia dan seisinya.”
Takhrij Hadis:
Riwayat pertama diriwayatkan oleh Imam al-Bukhārī dalam Ṣaḥīḥ-nya, Kitābu al-Taṭawwu‘, Bāb “Ta‘āhud Rak‘atay al-Fajr, wa Man Sammāhumā Taṭawwu‘an (Menjaga Pelaksanaan Dua Rakaat Salat Fajar dan yang Menamakan Keduanya sebagai Salat Sunah)”, no. 1116. Riwayat ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Ṣaḥīḥ-nya, Kitābu Ṣalāti al-Musāfirīn wa Qaṣrihā, Bāb “Istihbab Rak’atay Sunnah al-Fajr (Anjuran Salat Dua Rakaat Fajar)”, no. 724.
Adapun riwayat kedua diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Ṣaḥīḥ-nya, Kitābu Ṣalāti al-Musāfirīn wa Qaṣrihā, Bāb “Istihbab Rak’atay Sunnah al-Fajr (Anjuran Salat Dua Rakaat Fajar)”, no. 725.
Syarah dan Faedah yang Terkandung dalam Hadis Ini:
- Hadis ini menunjukkan keutamaan dua rakaat salat sunah sebelum salat Fajar bahwa keduanya lebih baik daripada seluruh kenikmatan dunia.
- Terdapat sunah-sunah khusus terkait dua rakaat ini, yaitu:
- Nabi ﷺ senantiasa mengerjakannya dan tidak meninggalkannya baik dalam keadaan mukim maupun safar, tidak seperti salat sunah rawatib lainnya yang terkadang beliau tinggalkan saat beliau bepergian.
- Dikerjakan secara singkat dan ringan. Disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh ‘Ā’isyah,
كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يُخَفِّفُ الرَّكْعَتَيْنِ اللَّتَيْنِ قَبْلَ صَلاَةِ الصُّبْحِ، حَتَّى إِنِّي لَأَقُولُ: هَلْ قَرَأَ بِأُمِّ الكِتَابِ.
“Nabi ﷺ senantiasa mengerjakan salat sunah dua rakaat sebelum Subuh secara ringkas hingga aku bertanya-tanya apakah beliau membaca ummu al-kitāb?” (2)
5. Disunahkan membaca surah al-Kafirun pada rakaat pertama dan surah al-Ikhlas pada rakaat kedua. (3) Diriwayatkan juga bahwa Nabi ﷺ pada rakaat pertama membaca,
قُوْلُوْٓا اٰمَنَّا بِاللّٰهِ وَمَآ اُنْزِلَ اِلَيْنَا وَمَآ اُنْزِلَ اِلٰٓى اِبْرٰهٖمَ وَاِسْمٰعِيْلَ وَاِسْحٰقَ وَيَعْقُوْبَ وَالْاَسْبَاطِ وَمَآ اُوْتِيَ مُوْسٰى وَعِيْسٰى وَمَآ اُوْتِيَ النَّبِيُّوْنَ مِنْ رَّبِّهِمْۚ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ اَحَدٍ مِّنْهُمْۖ وَنَحْنُ لَهٗ مُسْلِمُوْنَ
“Katakanlah (wahai orang-orang yang beriman), ‘Kami beriman kepada Allah, pada apa yang diturunkan kepada kami, pada apa yang diturunkan kepada Ibrāhīm, Ismā’īl, Isḥāq, Ya‘qūb dan keturunannya, pada apa yang diberikan kepada Mūsā dan ‘Īsā, serta pada apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan (hanya) kepada-Nya kami berserah diri’.” (Q.S. al-Baqarah: 136)
Lalu pada rakaat kedua beliau membaca,
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
“Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Wahai Ahlulkitab, marilah (kita) menuju pada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, (yakni) kita tidak menyembah selain Allah, kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan-tuhan selain Allah’.” Jika mereka berpaling, katakanlah (kepada mereka), ‘Saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang muslim’.” (Q.S. Ali Imran: 64).(4)
Footnote:
(1) Diterjemahkan dan disadur dari kitab “Mūjaz al-Kalām ‘ala ‘Umdah al-Aḥkām” karya Dr. Manṣūr bin Muḥammad al-Ṣaq’ūb hafiẓahullāh.
(2) H.R. Bukhārī (no. 1171).
(3) H.R. Muslim (no. 726).
(4) H.R. Muslim (no. 727).
















