HADIS KE-23 AL-ARBA’IN: ANEKA KEBAIKAN SELAMATKAN DIRI DARI API NERAKA

273
Perkiraan waktu baca: 4 menit
image_pdfUnduh PDF

عَنْ أَبِي مَالِكٍ الحَارِثِ بنِ عَاصِم الأَشْعَرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ : الطُّهُورُ شَطْرُ الإِيْمَانِ، والحَمْدُ للهِ تَمْلأُ الميزانَ، وسُبْحَانَ اللهِ والحَمْدُ للهِ تَمْلآنِ – أَو تَمْلأُ – مَا بَيْنَ السَّمَاءِ والأَرْضِ، وَالصَّلاةُ نُورٌ، والصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ، وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ، وَالقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَو عَلَيْكَ، كُلُّ النَّاسِ يَغْدُو فَبَائِعٌ نَفْسَهُ فَمُعْتِقُهَا أَو مُوبِقُه. رواه مسلم

Abu Malik al-Harits bin ‘Āshim al-Asy’ari radhiyallahu anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ”Kesucian itu sebagian dari iman. Ucapan alhamdulillah (segala puji hanya bagi Allah) memenuhi timbangan. Ucapan ‘subhanallah’ (Maha Suci Allah) dan alhamdulillah (segala puji hanya bagi Allah) keduanya memenuhi apa yang ada di antara langit dan bumi. Salat adalah cahaya. Sedekah adalah burhan (tanda/bukti). Sabar itu dhiya’ (cahaya panas). Al-Qur’an itu bisa menjadi hujah bagimu atau hujah atasmu. Setiap orang berangkat di pagi hari lantas menjual dirinya sehingga dia membebaskannya atau membinasakannya.” (H.R. Muslim)

Para ulama berbeda pendapat terkait makna sabda beliau, “Kesucian itu sebagian dari iman.”

  1. Sebagian ulama berpendapat bahwa makna ‘kesucian’ yang dimaksud adalah meninggalkan segala yang dilarang syariat. Iman terdiri dari dua bagian; mengerjakan perintah dan meninggalkan yang dilarang. Meninggalkan hal yang dilarang oleh syariat berarti mensucikan diri dari maksiat. Namun pendapat ini terbantahkan oleh keberadaan riwayat lain dari hadis ini yang berbunyi, “wudu adalah separuh keimanan”[1] dan “menyempurnakan wudu adalah separuh keimanan.”[2]
  2. Makna kesucian di dalam hadis ini adalah kesucian dari hadas besar dan kecil. Pendapat ini dipilih oleh mayoritas ulama.

Berdasarkan pendapat kedua, makna iman dalam teks hadis di atas adalah salat, sehingga suci dari hadas adalah sebagian dari salat. Dalam Al-Qur’an, Allah menyebut salat sebagai keimanan. Allah berfirman,

وَكَذٰلِكَ جَعَلْنٰكُمْ اُمَّةً وَّسَطًا لِّتَكُوْنُوْا شُهَدَاۤءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُوْنَ الرَّسُوْلُ عَلَيْكُمْ شَهِيْدًا ۗ وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِيْ كُنْتَ عَلَيْهَآ اِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يَّتَّبِعُ الرَّسُوْلَ مِمَّنْ يَّنْقَلِبُ عَلٰى عَقِبَيْهِۗ وَاِنْ كَانَتْ لَكَبِيْرَةً اِلَّا عَلَى الَّذِيْنَ هَدَى اللّٰهُ ۗوَمَا كَانَ اللّٰهُ لِيُضِيْعَ اِيْمَانَكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ ١٤٣ ( البقرة/2: 143)

“… Kami tidak menetapkan kiblat (Baitulmaqdis) yang (dahulu) kamu berkiblat kepadanya, kecuali agar Kami mengetahui (dalam kenyataan) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang berbalik ke belakang. Sesungguhnya (pemindahan kiblat) itu sangat berat, kecuali bagi orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.” (Q.S. al-Baqarah : 143)

Makna ‘imanmu’ dalam ayat ini adalah salat. Ibnu Katsir berkata, “Makna firman Allah ‘Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu’ ialah salatmu ke arah Baitulmaqdis sebelumnya. Pahala salat tersebut tidak akan sia-sia di sisi Allah.”[3] Al-Barā` menceritakan, “Orang-orang mempertanyakan tentang kawan-kawan mereka yang telah meninggal dunia. Semasa hidup, mereka salat ke arah Baitulmaqdis. Bagaimanakah keadaan mereka? Lantas Allah menurunkan ayat di atas.”[4]

Suci dari hadas adalah sebagian dari salat. Maksudnya ialah salat itu tidak akan diterima bila orang yang mengerjakannya tidak dalam keadaan suci dari hadas. Tanpa bersuci, salat tidak lengkap.

Di sisi lain, salat yang sah setelah bersuci dengan sempurna dapat menghapus segala dosa-dosa kecil. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Utsman bin ‘Affān, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Tidaklah seorang muslim bersuci lalu menyempurnakan bersucinya sebagaimana yang Allah wajibkan baginya, lalu melakukan salat lima waktu melainkan itu menjadi penebus dosa antara salat-salat tersebut.”[5]

Hadis ini juga menjelaskan beberapa amalan lisan yang ringan dikerjakan namun mengandung ganjaran pahala yang berlimpah ruah. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Ucapan alhamdulillah (segala puji hanya bagi Allah) memenuhi timbangan. Ucapannya ‘subhanallah’ (Maha Suci Allah) dan alhamdulillah (segala puji hanya bagi Allah) keduanya memenuhi apa yang ada di antara langit dan bumi.” Alhamdulillah adalah pujian bagi Allah disertai pengagungan. Sedang ‘subhanallah’ adalah menafikan segala macam aib dan kekurangan dari Allah (swt).

Salat adalah nur (cahaya). Sedekah adalah burhan (bukti/tanda). Sabar adalah dhiya`. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menamai ketiga amalan di atas dengan nama-nama cahaya. Nur adalah cahaya mutlak. Sedang burhan adalah sorot sinar matahari sedangkan dhiya`adalah cahaya yang disertai panas. Salat disifati seperti cahaya. Salat akan menjadi cahaya di alam kubur dan di akhirat bagi orang yang senantiasa menjaganya.

Sedekah disifati seperti burhan. Bayangkan jika kita berada dalam sebuah ruangan gelap dan tertutup lantas kita mendapati cahaya matahari masuk melalui celah di langit-langit atau dinding, maka kita dapat menyimpulkan bahwa kala itu kita sedang berada di siang hari. Cahaya yang masuk melalui celah-celah itu menandakan adanya matahari. Demikian pula orang yang bersedekah. Sedekah adalah tanda adanya keimanan dalam diri seseorang. Setiap insan mencintai harta. Apalagi harta yang sudah didapatkan dengan susah payah. Harta itu pun lantas diberikan kepada orang lain. Mengeluarkan harta dengan hati rida karena Allah subhanahu wa taala adalah bukti keimanan seseorang. Dalam sebuah hadis disebutkan, “Tidaklah melakukannya (membayar zakat dengan hati rida) melainkan seorang yang beriman.”[6]

Sabar disifati seperti dhiya`. Itu adalah cahaya yang disertai dengan panas dan dapat membakar. Hal itu karena sabar tidaklah ringan dan membutuhkan perjuangan. Dalam naskah lain Shahih Muslim disebutkan, “Puasa adalah dhiya`.”[7] Puasa adalah amalan yang mengumpulkan tiga jenis kesabaran; sabar di atas ketaatan, sabar untuk meninggalkan maksiat, dan sabar atas takdir lapar dan dahaga yang menimpa saat berpuasa. Oleh sebab itu, puasa termasuk jenis kesabaran tertinggi.

Dalam hadis ini disebutkan bahwa Al-Qur’an itu bisa menjadi hujah. Hujah adalah alasan. Maksudnya ialah Al-Qur’an dapat menjadi alasan Allah memuliakan seorang hamba dan bisa menjadi sebab bagi Allah untuk menghinakannya. Tergantung dari penyikapannya terhadap Al-Qur’an.

Dalam sebuah hadis disebutkan, “Barang siapa yang membaca Al-Qur’an dan mengamalkannya siang-malam,  menghalalkan yang dihalalkannya, mengharamkan yang diharamkannya, maka niscaya Allah akan mengharamkan daging dan darah orang tersebut dari neraka serta menjadikannya teman bagi para malaikat penulis yang mulia lagi berbakti. Hingga pada hari kiamat kelak, Al-Qur’an menjadi hujah baginya.”[8]

Al-Qur’an datang pada hari kiamat, memintakan syafaat bagi orang yang membersamainya dulu di dunia, lalu menjadi penggiringnya ke surga atau Al-Qur’an datang pada hari kiamat bersaksi atasnya (untuk menjatuhkannya) lalu menjadi penggiringnya menuju neraka.”

Setelah menyebutkan ragam amalan saleh berupa bersuci, zikir, salat, sedekah, dan sabar, Rasul pun menutup sabdanya dengan kalimat yang agung yaitu “Setiap orang berangkat di pagi hari lantas menjual dirinya sehingga dia membebaskannya atau membinasakannya.” Maksudnya ialah setiap orang mengusahakan sesuatu untuk dirinya sendiri. Ada yang berusaha untuk membebaskan dirinya dari neraka dengan melakukan ketaatan dan menghindari kemaksiatan. Ada pula yang ‘berusaha’ di dunia ini untuk menjerumuskan diri ke dalam neraka dengan mengerjakan maksiat, dosa, dan lain-lain dan meninggalkan ketaatan dan kebaikan.

Allah berfirman,

اِنَّ سَعْيَكُمْ لَشَتّٰىۗ

“Sesungguhnya usahamu benar-benar beraneka ragam.” (Q.S. al-Lail : 4)

 


Footnote:

[1] H.R. Tirmizi (3517).

[2] H.R. Ibnu Majah (280).

[3] Lihat: Tafsir Ibn Katsir (1/ 458).

[4] Lihat: H.R. Abu Dawud al-Thayālisi (860).

[5] H.R. Muslim (338).

[6] H.R. Baihaqi dalam Syu’ab al-Īmān (2495).

[7] Lihat: Jāmi’ al-‘Ulūm wa al-Hikam hal. 488.

[8] H.R. Thabrani dalam al-Mu’jam al-Shagīr (1120).

image_pdfUnduh PDF
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments