55 FAEDAH TERKAIT HARI ARAFAH (BAGIAN PERTAMA)

239
Perkiraan waktu baca: 10 menit
image_pdfUnduh PDF

55 FAEDAH TERKAIT HARI ARAFAH(1) (BAGIAN PERTAMA)

Mukadimah

Segala puji bagi Allah ‘azza wa jalla yang melimpahkan begitu banyak nikmat kepada makhluk-Nya, selawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada junjungan nabi kita Muhammad ṣallallāhu ‘alayhi wa sallam. Tulisan ini merupakan rangkuman faedah yang berkaitan dengan hari Arafah, mudah-mudahan bisa bermanfaat bagi para pembaca dan kaum muslimin secara umum.

Faedah Pertama:

Hari Arafah merupakan di antara sepuluh hari yang utama di bulan Zulhijah, juga merupakan hari yang paling utama. Hari Arafah adalah hari paling utama sepanjang tahun setelah hari kurban, bahkan sebagian ulama lebih mengutamakannya dibandingkan hari kurban dan mereka mengatakan bahwa hari Arafah adalah hari Haji Akbar. Namun demkian, pendapat yang lebih benar adalah hari kurban lebih utama dari hari Arafah dan juga hari kurbanlah yang disebut sebagai hari Haji Akbar, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis,

إِنَّ أَعْظَمَ الْأَيَّامِ عِنْدَ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَوْمُ النحر

“Sesungguhnya hari yang paling agung di sisi Allah tabāraka wa ta’ālā adalah hari kurban.(2)

Faedah Kedua:

Hari Arafah merupakan hari ke-9 dari sepuluh hari pertama bulan Zulhijah yang merupakan hari yang paling utama di dunia.  Dia terletak sehari sebelum hari terakhir dari sepuluh hari terbaik bulan Zulhijah sehingga waktunya penuh dengan keutamaan. Seorang mukmin tentu bersegera untuk memanfaatkan waktu tersebut dan bersegera pula untuk mencari rida Allah pada momen-momen tersebut karena jiwa dan umur kita terbatas.  

Faedah Ketiga:

Hari Arafah merupakan hari dimana agama Islam disempurnakan begitupun dengan nikmat Allah kepada kaum muslimin.  Seorang Yahudi berkata kepada Umar bin Khaththab raḍiyallāhu ‘anhu  raḍiyallāhu ‘anhu, “Wahai amirulmukminin, ada satu ayat di dalam kitab kalian yang senantiasa kalian baca, jikalau seandainya dia turun kepada kami (kaum Yahudi) niscaya kami akan menjadikannya sebagai hari Id.” Umar bertanya,  “Ayat yang mana?” Dia membaca,

اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْاِسْلَامَ دِيْنًاۗ

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu.” (Q.S. al-Maidah: 3)

Umar berkata,  “Sungguh kami telah mengetahui hari itu dan tempat turunnya ayat tersebut kepada Nabi ṣallallāhu ‘alayhi wa sallam, ayat tersebut turun ketika beliau berdiri di padang Arafah pada hari Jumat.”(3)

Faedah Keempat:

Allah ta’ālā telah menyempurnakan agama-Nya di hari Arafah pada saat Haji Wadak. Jumhur ahli tafsir berkata, “Allah menyempurnakannya dengan menampakkan agama Islam di atas agama-agama yang lain, dimana pada tahun itu kaum muslimin berhaji tanpa dicampur dengan orang-orang musyrik. Pada hari Arafah, mayoritas kewajiban-kewajiban, hukum hudud dan halal-haram telah dijelaskan. Setelah ayat ini (Q.S. al-Maidah: 3) diturunkan, turun pula beberapa ayat tentang  hukum seperti ayat tentang riba, warisan terkait kalalah dan lain-lain.”(4)

Faedah Kelima:

Hari Arafah termasuk hari yang paling afdal di sisi Allah azza wa jalla. Allah mengagungkannya dan mengangkat kadarnya dibandingkan hari-hari lain. Allah memberikan kesempatan kepada para hamba-Nya untuk memperbanyak ibadah, Allah mengabulkan segala permintaan, memaafkan dan mengampuni segala dosa dan kesalahan. Di hari itu, ketika manusia mengangkat tangan-tanganya dengan penuh kehinaan memohon dan berharap kepada Allah ‘azza wa jalla maka manusia dibangga-banggakan oleh Allah di hadapan para malaikat-Nya, utamanya mereka yang melakukan wukuf di padang Arafah.

Faedah Keenam:

Di antara keutamaan hari Arafah adalah Allah ta’ālā bersumpah atasnya, dan Allah subḥānahu wa ta’ālā tidak bersumpah atas makhluk-Nya melainkan ketika makhluk tersebut memiliki keutamaan di sisi-Nya. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَشَاهِدٍ وَّمَشْهُوْدٍۗ

“Demi yang menyaksikan dan yang disaksikan.” (Q.S. al-Buruj: 3)

Oleh karenanya, hari Arafah adalah hari yang disaksikan, dimana manusia  menyaksikannya karena menghadirinya dan berkumpul padanya. Penafsiran tersebut terdapat pada sebuah hadis marfuk,

الْيَوْمُ الْمَوْعُودُ : يَوْمُ الْقِيَامَةِ، وَالْيَوْمُ الْمَشْهُودُ : يَوْمُ عَرَفَةَ، وَالشَّاهِدُ : يَوْمُ الْجُمُعَةِ

“Hari yang dijanjikan adalah hari kiamat, hari yang disaksikan adalah hari Arafah, dan syahid adalah hari Jumat.”(5)

Faedah Ketujuh:

Wukufnya manusia di Arafah mengingatkan manusia tentang berkumpulnya mereka nanti di hari kiamat. Pakaian ihramnya yang putih juga mengingatkan tentang kematian dan kafan kafan mereka. Allah ta’ālā bercerita tentang hari kiamat,

اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيَةً لِّمَنْ خَافَ عَذَابَ الْاٰخِرَةِ ۗذٰلِكَ يَوْمٌ مَّجْمُوْعٌۙ لَّهُ النَّاسُ وَذٰلِكَ يَوْمٌ مَّشْهُوْدٌ

“Sesungguhnya pada yang demikian itu pasti terdapat pelajaran bagi orang-orang yang takut kepada azab akhirat. Itulah hari ketika semua manusia dikumpulkan (untuk dihisab), dan itulah hari yang disaksikan (oleh semua makhluk).” (Q.S. Hud: 103)

Faedah Kedelapan:

Di antara keutamaan hari Arafah, ia adalah al-watr (ganjil) dimana Allah bersumpah dengannya dalam firman-Nya,

وَّالشَّفْعِ وَالْوَتْرِۙ

“Demi yang genap dan yang ganjil.” (Q.S. al-Fajr: 3)

Ibnu Abbas, Ikrimah, dan al-Dhahhak berkata, “Al-syaf’u (genap) itu adalah hari kurban karena tanggal 10, dan al–watru itu adalah hari Arafah karena dia di hari ke-9 yang merupakan hari ganjil.”(6)

Faedah Kesembilan:

Allah ‘azza wa jalla turun ke langit terendah pada hari Arafah. Terdapat riwayat sahih dari Abu Zubair, dari Jabir raḍiyallāhu ‘anhu, Nabi ṣallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda,

وَمَا مِنْ يوْمٍ أَفْضَلُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ يوْمِ عَرَفَةَ يَنْزِلُ اللَّهُ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَيُبَاهِي بِأَهْلِ الْأَرْضِ أَهْلَ السَّمَاءِ

“Tidak ada hari yang paling utama di sisi Allah melainkan hari Arafah, Allah turun ke langit terendah, dan Allah membanggakan penduduk bumi (yang beribadah pada hari Arafah) di hadapan penduduk langit (para malaikat).”(7)

Begitupun dengan riwayat dari Ummu Salamah raiyallāhu anhā,  beliau berkata,

نِعْمَ الْيَوْمُ يَوْمُ عَرَفَةَ، يَنْزِلُ فِيهِ رَبُّ الْعِزَّةِ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا

“Hari terbaik adalah hari Arafah; dimana Allah ‘azza wa jalla turun pada hari itu ke langit terendah.”(8)

Syekh al-Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “Allah ‘azza wa jalla menyifatkan diri-Nya dengan sifat turun pada petang hari Arafah, begitu banyak hadis sahih yang menyebutkannya.”(9)

Faedah Kesepuluh:

Allah ta’ālā memberikan keutamaan kepada hamba-Nya di hari tersebut berupa pembebasan hamba dari api neraka bagi siapa yang Allah kehendaki; baik itu yang wukuf di Arafah, begitupun dengan kaum muslimin yang tidak wukuf di belahan dunia juga mendapat keutamaan tersebut.  Itulah sebabnya hari setelahnya merupakan hari raya bagi kaum muslimin di seluruh belahan dunia, baik yang mendapat kesempatan untuk haji maupun yang tidak, disebabkan keikutsertaan mereka pada magfirah Allah di hari Arafah tersebut. Meskipun kaum muslimin tidak seluruhnya ikut serta dalam ibadah haji yang mulia tersebut, maka sebagai bentuk rahmat Allah kepadanya, Allah meringankan beban tersebut dengan menjadikan haji hanya wajib dilakukan satu kali seumur hidup, bukan setiap tahunnya.(10)

Faedah Kesebelas:

Hari Arafah adalah hari berprasangka baik kepada Allah dan tidak berputus asa atas rahmat-Nya. Allah akan memberikan kepada orang yang wukuf, magfirah atau ampunan kepadanya dan juga rahmat-Nya.

Abdullah bin Mubarak rahimahullāh berkata, “Suatu ketika, saya menghampiri Sufyān al-Tsaurī di hari Arafah dalam keadaan dia bersimpuh dengan kedua lututnya dan saya melihat kedua matanya bercucuran air mata. Lalu kemudian aku bertanya, ‘Siapakah orang yang paling buruk keadaannya sekarang di padang Arafah ini’? Beliau menjawab, ‘Orang yang berprasangka bahwa Allah tidak akan mengampuninya’.”(11)

Faedah Kedua Belas:

Keutamaan Arafah berupa pembebasan dari api neraka dan juga ampunan dosa pada hari nan agung ini tidak dikhususkan kepada jemaah haji atau mereka yang wukuf saja, akan tetapi keutamaan ini bersifat umum bagi siapa saja yang berusaha menjalani sebab-sebab yang bisa mendatangkan kedua keutamaan tersebut.

Faedah Ketiga Belas:

Keutamaannya ada pada harinya, bersifat umum, baik yang haji maupun yang tidak haji dari setiap kaum muslimin di berbagai belahan dunia. Adapun bagi yang melaksanakan haji maka dia telah mengumpulkan keutamaan tempat dan waktu.

Faedah Keempat Belas:

Dianjurkan bagi kaum muslimin di hari ini, sebisa mungkin untuk memperbanyak ketaatan ketaatan dan ibadah kepada Allah yang dengannya bisa menjadi wasilah untuk mendapatkan ampunan dan pembebasan dari api neraka, seperti memperbanyak zikir kepada Allah khususnya tahlil yang merupakan asal dan dasar pokok agama kita dan Allah telah menyempurnaka dinul Islam pada hari itu.(12)

Faedah Kelima Belas:

Dalam sebuah hadis disebutkan,

خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ، وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِي : لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ. 

“Sebaik-sebaik doa adalah doa di hari Arafah, dan sebaik baik perkataan adalah perkataanku dan para nabi sebelumku, ‘Lā ilāha illallāhu waḥdahu lā syarīka lahu, lahul mulku walahul ḥamdu, wahuwa ‘alā kulli syain qadīr’ (tiada yang patut disembah selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya segala kerajaan, dan bagi-Nya segala pujian, serta Dia Mahakuasa atas segala sesuatu).”(13)

Di riwayat yang lain,

كَانَ أَكْثَرُ دُعَاءِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَرَفَةَ : ” لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ، وَلَهُ الْحَمْدُ، بِيَدِهِ الْخَيْرُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ “

“Di antara doa yang paling banyak disebutkan Rasulullah ṣallallāhu ‘alayhi wa sallam di hari Arafah adalah ‘Lā ilāha illallāhu waḥdahū lā syarīka lahū, lahul mulku walahul ḥamdu, wahuwa ‘alā kulli syain qadīr’ (tiada yang patut disembah selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya segala kerajaan, dan bagi-Nya segala pujian, serta Dia Mahakuasa atas segala sesuatu)’.”(14)

Faedah Keenam Belas:

Balasan itu selaras dengan amalan kita. Barang siapa yang membebaskan budak maka Allah pun akan membebaskannya dari api neraka, dan memperbanyak zikir dengan tahlil serta merealisasikan tauhid maka seorang muslim akan dibalas seperti pahala membebaskan budak, sedangkan membebaskan budak itu menjadi wasilah seseorang terbebas pula dari api neraka.

Faedah Ketujuh Belas:

Dua kalimat syahadat itu menyamai pahala membebaskan budak, dimana pahala membebaskan budak adalah terbebasnya pula seseorang dari api neraka. Dalam sebuah hadis disebutkan,

مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ كَانَتْ لَهُ عَدْلَ عَشْرِ رِقَابٍ وَكُتِبَتْ لَهُ مِائَةُ حَسَنَةٍ وَمُحِيَتْ عَنْهُ مِائَةُ سَيِّئَةٍ وَكَانَتْ لَهُ حِرْزًا مِنْ الشَّيْطَانِ يَوْمَهُ ذَلِكَ حَتَّى يُمْسِيَ وَلَمْ يَأْتِ أَحَدٌ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ إِلَّا أَحَدٌ عَمِلَ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ

“Barang siapa yang membaca, ‘Laa ilāha illallāhu waḥdahū lā syarīka lahū, lahul mulku wa lahul ḥamdu wa huwa ‘alā kulli syai’in qadīr (tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah Yang Mahaesa tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala puji dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu)’ sebanyak seratus kali dalam sehari, maka baginya mendapatkan pahala seperti membebaskan sepuluh orang budak, ditetapkan baginya seratus kebaikan dan dijauhkan darinya seratus keburukan dan baginya ada perlindungan dari (godaan) setan pada hari itu hingga petang dan tidak ada orang yang lebih baik amalnya dari orang yang membaca doa ini kecuali seseorang yang dapat lebih banyak mengamalkan (membaca) zikir ini”(15).

Faedah Kedelapan Belas:

Kalimat tauhid yang direalisasikan secara ikhlas dan jujur dapat menghancurkan kumpulan dosa-dosa, menghapuskannya, hingga tak tersisa sedikit pun. Barang siapa menyebutkannya secara ikhlas dam merealisasikannya maka Allah akan mengharamkannya dari api neraka(16).

Faedah Kesembilan Belas:

Dahulu para salaf saleh sangat bersemangat dan bersungguh-sungguh untuk mengerjakan kebaikan dan ketaatan di hari seperti ini. Hakim bin Hizam raḍiyallāhu ‘anhu sedang wukuf di Arafah dan bersamanya 100 ekor unta begitupun dengan 100 orang budak, maka dia membebaskan seluruh budaknya, sehingga manusia penuh tangisan dan berdoa berkata, “Ya, Rabb, hambamu ini membebaskan budaknya, dan kami ini adalah hambamu maka bebaskanlah kami (dari api neraka).(17)Barang siapa yang membebaskan budak maka Allah akan membesakan setiap anggota tubuhnya dari api neraka.”

Faedah Kedua Puluh:

Disunahkan untuk memperbanyak zikir kepada Allah ta’ālā di hari ini,  di setiap waktu dan  bagaimana pun keadaannya, baik dia berdiri, duduk, jalan, ataupun dalam keadaan berkendara.

Faedah Kedua Puluh Satu:

Begitupun disunahkan untuk memperbanyak takbir, tahlil, dan tahmid, sebagaimana dalam sabda Nabi ṣallallāhu ‘alayhi wa sallam tentang sepuluh hari pertama bulan Zulhijah yang mana hari Arafah termasuk di dalamnya,

فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ مِنَ التَّهْلِيلِ، وَالتَّكْبِيرِ، وَالتَّحْمِيدِ

“Maka perbanyaklah di dalamnya tahlil, takbir dan tahmid.”(18)

Faedah Kedua Puluh Dua:

Jika hari Arafah bertepatan dengan hari Jumat maka ini adalah kebaikan besar, dimana 2 hari raya berkumpul, merupakan 2 hari yang utama, karena ini juga bertepatan dengan yang terjadi pada saat Nabi ṣallallāhu ‘alayhi wa sallam wukuf yaitu pada hari Jumat, dan juga tentunya berkumpulnya momen-momen diijabahnya doa setelah salat Asar dan juga kumpulnya para jemaah haji yang berwukuf di padang Arafah serta keutamaan-keutamaan yang lain.(19)

Faedah Kedua Puluh Tiga:

Sebagian orang awam berkeyakinan bahwa jika hari Arafah bertepatan dengan hari Jumat maka pahalanya setara dengan haji sebanyak 7 kali, 70 kali, atau 72 kali atau yang lainnya. Keyakinan seperti ini batil dan tidak memiliki landasan dalil atasnya.

Faedah Kedua Puluh Empat:

Puasa sunah Arafah bagi orang yang tidak melaksanakan haji merupakan sunah dan juga bagaikan ganimah yang sangat besar, yang dengannya Allah ‘azza wa jalla menghapuskan dosa  2 tahun sekaligus; 1 tahun yang lalu dan satu tahun yang akan datang sebagimana dalam hadis,

 صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ، وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ،

“Puasa hari Arafah saya berharap kepada Allah dapat menghapuskan dosa satu tahun yang lalu dan satu tahun yang akan datang.”(20)

Faedah Kedua Puluh Lima:

Bagi ibadah puasa nafilah yang sudah ditentukan maka lebih baik dan sempurna jika diniatkan untuk dikerjakan sejak malam harinya supaya dapat mendapatkan pahala yang sempurna, dan sahur seseorang sudah menunjukkan niatnya.

Faedah Kedua Puluh Enam:

Hendaknya seseorang memperhatikan kelurganya, anak-anaknya, begitupun orang yang berada ditanggungannya untuk melakukan puasa Arafah, dan membangunkannya untuk sahur. Said bin Jubair rahimahullāh berkata, “Bangunkanlah khadam-khadam kalian untuk makan sahur melaksanakan puasa hari Arafah.”

Faedah Kedua Puluh Tujuh:

Jika hari Arafah bertepatan dengan hari Jumat atau hari Sabtu maka tidak mengapa dia berpuasa di hari itu saja karena puasa disyariatkan karena hari Arafahnya bukan karena hari Jumat atau Sabtunya.(21)

Faedah Kedua Puluh Delapan:

Barang siapa yang memiliki utang puasa di bulan Ramadan, tidak mengapa dia mendahulukan puasa Arafah lalu setelah itu membayar utang puasa Ramadannya menurut pendapat yang kuat dikarenakan puasa Arafah dibatasi dengan waktu, sementara puasa qada maka waktunya luas, bisa dikerjakan di waktu yang lain.

Faedah Kedua Puluh Sembilan:

Barang siapa yang memiliki utang puasa Ramadan lalu kemudian dia puasa Arafah dengan niat mengqada Ramadan, maka puasanya sah dan telah dihitung menunaikan puasa qadanya. Begitupun pahala Arafah, insyāAllāh, tetap didapatkan menurut pendapat sebagian ulama, hal ini juga yang difatwakan oleh Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullāh.

Faedah Ketiga Puluh:

Namun demikian, tetap afdal bagi dia untuk mengqada utangnya di hari yang lain, selain di hari Arafah. Dia berpuasa Arafah di hari tersendiri dengan niat sunah Arafah, kemudian niat puasa qada di hari yang lain agar dia mengumpulkan dua keutamaan yaitu puasa qada dan puasa sunah Arafah sekaligus.(22)

Faedah Ketiga Puluh Satu:

Barang siapa yang dalam keadaan musafir, tidak mengapa dia melaksanakan puasa Arafah jika hal tersebut tidak memberatkan baginya.

Faedah Ketiga Puluh Dua:

Barang siapa yang terhalangi puasa Arafah karena uzur seperti sakit, haid, menyusui dan lain-lain padahal dia senantiasa kerjakan setiap tahunnya, maka dia akan tetap mendapatkan niat pahala puasa Arafah selama dia niatkan untuk melaksanakannya, dan hendaknya orang tersebut berusaha mengerjakan dan memperbanyak  ibadah yang lain seperti zikir, sebagaimana dalam hadis Nabi,

إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا “

“Jika seorang hamba sakit, atau sedang safar pahala ibadahnya tetap dicatatkan seperti yang dia lakukan tatkala dalam keadaan sehat dan mukim.”(23)


Footnote:

(1) Tulisan ini disadur dan diterjemahkan dari situs resmi Syekh Muhammad Saleh al-Munajjid hafiahullāhhttps://almunajjid.com/books/lessons/124 dan juga telah dicetak dalam format e-sebuah buku oleh Zad Group.

(2) H.R. Abu Daud (no. 1765) dan dinyatakan sahih oleh al-Albani.

(3) H.R. Bukhari (no. 45) dan Muslim (no. 3017).

(4) Lihat: Tafsīr al-Qurṭūbi (8/80), al-Baghawi (3/13), Ibnu Athiyyah (2/154) dan Fathu al-Qadir karya al-Syaukani (2/13).

(5) H.R. al-Tirmidzi (no. 3339) dan dinyatakan hasan oleh al-Albani.

(6) Lihat: Tafsīr al-Ṭabarī (24/348), al-Qurṭubī (20/40) dan Ibnu Katsīr (8/391).

(7) H.R. Ibnu Hibbān (no. 3583) dan selainnya.

(8) Kitab al-Radd ‘alā al-Jahmiyah karya al-Dārimī (no. 137) dan Syarhu Uṣūl I’tiqād Ahli al-Sunnah karya al-Laka-i (3/499).

(9) Majmū’ al-Fatāwā (5/373).

(10) Laṭāif al-Ma’ārif (hal. 276).

(11) Laṭāif al-Ma’ārif (hal. 287).

(12) Laṭāif al-Ma’ārif (hal. 283).

(13) H.R. al-Tirmidzi (no. 3585) dan dinyatakan sahih oleh al-Albani.

(14) H.R. Ahmad (no. 6916) dan dinyatakan sebagai hadis hasan ligayrih oleh para pentahkik Musnad.

(15) H.R. Bukhari (no. 3293) dan Muslim (no. 2691).

(16) Laṭāif al-Ma’ārif (hal. 214).

(17) Laṭāif al-Ma’ārif (hal. 283).

(18) H.R. Ahmad (no. 5446) dan dinyatakan sahih oleh para pentahkik Musnad.

(19) Lihat: Zād al-Ma’ād (1/60).

(20) H.R. Muslim (no. 1162).

(21) Lihat: Fatḥu al-Bārī (4/234), Fatāwā Ibnu Baz (15/414) dan Fatāwā Ibnu Utsaimin (20/58).

(22) Lihat: Fatāwā al-Lajnah al-Dā’imah (10/398).

(23) H.R. al-Bukhari (no. 2996).

image_pdfUnduh PDF
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments