JIKA TIDAK MAMPU MEMBEDAKAN HAID DAN ISTIHADAH

114
Jika Tidak Mampu Membedakan Haid Dan Istihadah
Perkiraan waktu baca: 3 menit

Daftar Isi:

Redaksi Hadis

 وَعَنْ حَمْنَةَ بِنْتِ جَحْشٍ قَالَتْ: كُنْتُ أُسْتَحَاضُ حَيْضَةً كَثِيرَةً شَدِيْدَةً، فَأَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَسْتَفْتِيهِ وَأُخْبِرُهُ، فَوَجَدْتُهُ فِي بَيْتِ أُخْتِي زَيْنَبَ بِنْتِ جَحْشٍ فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي امْرَأَةٌ أُسْتَحَاضُ حَيْضَةً كَثِيرَةً شَدِيدَةً، فَمَا تَرَى فِيهَا قَدْ مَنَعَتْنِي الصَّوْمَ وَالصَّلَاةَ؟ قَالَ: ((أَنْعَتُ لَكِ الْكُرْسُفَ، فَإِنَّهُ يُذْهِبُ الدَّمَ)). قَالَتْ: هُوَ أَكْثَرُ مِنْ ذَلِكَ. قَالَ: ((فَاتَّخِذِي ثَوْبًا)). فَقَالَتْ: هُوَ أَكْثَرُ مِنْ ذَلِكَ إِنَّمَا أَثُجُّ ثَجًّا. قَالَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ((سَآمُرُكِ بِأَمْرَيْنِ أَيَّهُمَا فَعَلْتِ أَجْزَأَ عَنْكِ مِنَ الْآخَرِ، وَإِنْ قَوِيتِ عَلَيْهِمَا فَأَنْتِ أَعْلَمُ))، فَقَالَ: ((إِنَّمَا هَذِهِ رَكْضَةٌ مِنْ رَكَضَاتِ الشَّيْطَانِ فَتَحَيَّضِي سِتَّةَ أَيَّامٍ أَوْ سَبْعَةَ أَيَّامٍ فِي عِلْمِ اللَّهِ، ثُمَّ اغْتَسِلِي حَتَّى إِذَا رَأَيْتِ أَنَّكِ قَدْ طَهُرْتِ، وَاسْتَنْقَأْتِ فَصَلِّي ثَلَاثًا وَعِشْرِينَ لَيْلَةً أَوْ أَرْبَعًا وَعِشْرِينَ لَيْلَةً وَأَيَّامَهَا وَصُومِي، فَإِنَّ ذَلِكَ يَجْزِيكِ، وَكَذَلِكَ فَافْعَلِي كَمَا تَحِيضُ النِّسَاءُ، وَكَمَا يَطْهُرْنَ مِيقَاتُ حَيْضِهِنَّ وَطُهْرِهِنَّ، وَإِنْ قَوِيتِ عَلَى أَنْ تُؤَخِّرِي الظُّهْرَ وَتُعَجِّلِي الْعَصْرَ فَتَغْتَسِلِينَ حين تطهرين وتصلين الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ جميعا، وَتُؤَخِّرِينَ الْمَغْرِبَ وَتُعَجِّلِينَ الْعِشَاءَ، ثُمَّ تَغْتَسِلِينَ وَتَجْمَعِينَ بَيْنَ الصَّلَاتَيْنِ، فَافْعَلِي، وَتَغْتَسِلِينَ مَعَ الصبح وتصلين، كذلك فَافْعَلِي، وَصُومِي إِنْ قَويتِ عَلَى ذَلِكَ ، فَقَالَ، رَسُول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ: ((وَهُوَ أَعْجَبُ الْأَمْرَيْنِ إِلَيَّ)). رَوَاهُ أَحْمَدُ، وَأَبُو دَاوُد، وَابْنُ مَاجَه، وَالتِّرْمِذِيُّ وَهَذَا لَفْظُهُ، وَصَحَّحَهُ، وَكَذَلِكَ صَحَّحَهُ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَل، وَحَسَّنَهُ البُخَارِيُّ، وَقَالَ الدَّارَقُطْنِيُّ: (تَفَرَّدَ بِهِ ابْنُ عَقِيْلٍ وَلَيْسَ بِقَويٍّ) ، وَوَهَّنَهُ أَبُو حَاتِم. وَقَالَ الْبَيْهَقِيُّ: تَفَرَّدَ بِهِ عَبْدُ اللهِ بْنُ مُحَمَّد بْنِ عَقَيْلٍ، وَهُوَ مُخْتَلَفٌ فِي الِاحْتِجَاجِ بِهِ.

Dari Ḥamnah binti Jaḥsy beliau berkata, “Saya mengalami istihadah yang sangat banyak, maka saya menemui Nabi ﷺ untuk meminta fatwa beliau dan saya mendapati beliau ada di rumah saudari saya Zainab binti Jaḥsy, maka saya pun bertanya, ‘Wahai Rasulullah ﷺ saya mengalami istihadah yang sangat banyak, apa yang anda perintahkan untuk saya dalam masalah ini? Karenanya saya tidak dapat berpuasa dan salat.’ Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Aku sarankan kepadamu untuk memakai tutup kapas, karena ia dapat menghilangkan darah.’ Kata Ḥamnah, ‘Darahnya lebih banyak dari itu, bahkan mengalir deras.’ Beliau bersabda, ‘Kalau begitu pakailah kain.’ Ḥamnah berkata, ‘Darahnya lebih banyak dari itu, ia terus mengalir.’ Nabi ﷺ bersabda, ‘Saya akan perintahkan kepadamu dua hal, yang mana saja di antara keduanya yang kamu lakukan maka sudah cukup bagimu. Jika kamu sanggup melakukan kedua-duanya, maka kamu yang lebih paham tentangnya.’ Kemudian beliau bersabda, ‘Darah istihadah itu adalah akibat perbuatan setan, maka jadikanlah masa haidmu (tidak salat) selama enam atau tujuh hari dan Allah Maha Mengetahui, kemudian mandilah. Sehingga apabila kamu yakin benar-benar telah suci, maka kerjakanlah salat selama dua puluh tiga atau dua puluh empat hari (siang dan malamnya), serta berpuasalah. Maka yang demikian itu telah cukup bagimu. Demikian pula, kerjakanlah seperti itu, sebagaimana perempuan lain (kondisi normal) haid dan suci sekali dalam setiap bulan. Jika kami mampu mengakhirkan salat Zuhur dan memajukan salat Ashar (di awal waktu), maka mandilah dan jamaklah salat Zuhur dan Ashar. kemudian akhirkan salat Maghrib dan majukan salat Isya (di awal waktu), lalu kamu mandi dan jamak kedua salat tersebut, maka amalkanlah hal tersebut. Kemudian mandilah ketika akan melaksanakan salat Subuh, maka amalkanlah hal tersebut. kemudian berpuasalah jika kamu mampu mengerjakannya.’ Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Dan cara yang demikian adalah yang paling aku sukai di antara kedua cara tersebut.’

Baca juga:  HADIS KEDUA PULUH TUJUH: WAJIBNYA BERTOBAT

Hadis riwayat Aḥmad, Abu Dāwūd, Ibn Majah dan Tirmiżi dan lafal tersebut dari beliau.[1] Hadis disahihkan oleh Aḥmad bin Ḥambal dan dihasankan oleh al-Bukhāri, Al-Daraquṭni berkata, ‘Ibn Aqīl rawi hadis tersebut tidak kuat hafalannya dan hanya dia sendiri yang meriwayatkan seperti itu.” Al-Baihaqi berkata, “Hanya ‘Abdullāh bin Muḥammad bin ‘Aqīl meriwayatkan seperti itu dan dia diperselisihkan untuk dijadikan hujah.”

Kosa kata hadis:

  1. Ḥamnah binti Jaḥsyal-Asadiyah adalah saudari Zainab binti Jaḥsy istri Nabi ﷺ. Ḥamnah radhiyallahu anha pernah dinikahi oleh Mus’ab bin Umair yang kemudian syahid pada perang Uhud. Kemudian beliau dinikahi oleh Ṭalhah bin Ubaidillah. Beliau pernah ikut serta dalam perang Uhud dan membantu memberi minum orang-orang yang kehausan dan mengobati yang terluka.[2]

Makna hadis:

Hadis Ḥamnah binti Jaḥsy radhiyallahu anha tersebut dimaknai dan dipahami oleh ulama dari golongan fukaha dan para pensyarah hadis tentang seorang perempuan yang baru pertama sekali haid atau belum pernah mengalami haid sebelumnya, sehingga dia belum mampu membedakan darah yang keluar darinya. Darah tersebut terus mengalir dengan sangat banyak sehingga dia merasa kewalahan dan meminta penjelasan dari Nabi ﷺ terkait masalah tersebut. Nabi Muhammad ﷺ kemudian mengajarkannya dengan memerintahkannya melihat kebiasaan (‘urf) yang lazim dan umum berlaku pada kaum perempuan yaitu haid sekali dalam setiap bulannya.

Bilangan hari enam atau tujuh bukanlah syak dari rawi akan tetapi dapat bermakna bahwa dia pernah haid sebelumnya namun kemudian lupa mana di antara jumlah hari tersebut yang merupakan siklus haidnya. Setan menjadikan hal tersebut celah untuk membuat dia ragu dan terluput dari melaksanakan ibadah dan urusan agamanya.[3]

Baca juga:  HUKUM SESEORANG YANG TIDAK MAMPU BERTAHARAH SECARA SEMPURNA

Faedah dan istinbat dari hadis:

  1. Penentuan bilangan masa haid enam atau tujuh hari dikembalikan kepada ijtihad seorang perempuan ketika mengalami istihadah.[4]
  2. Mandi di setiap kali waktu salat bagi perempuan istihadah bukan merupakan kewajiban berdasarkan hadis tersebut.
  3. Menjamak salat bagi orang yang sakit hukumnya jaiz.
  4. Melaksanakan satu kali taharah untuk dua ibadah fardu dibolehkan.[5]
  5. Hadis ini menjadi landasan hukum mengiaskan dalam masalah haid, kehamilan, baligh dan hal lain yang semisalnya. Kaum perempuan yang bermukim di dalam batas wilayah tertentu juga menjadi standar analogi dan ukuran sesama mereka dalam masalah tersebut.[6]
  6. Hadis ini mengandung perintah untuk membersihkan najis, sekaligus menunjukkan bahwa darah adalah benda najis.[7]

 


Footnote:

[1] HR. Ahmad (27474), Abu Daud (287), Ibnu Majah (622) dan Tirmidzi (128).

[2] Ibn Sa’ad. Op. Cit. Jilid 8, hlm 191.

[3] Al-Khaṭṭābi. Ma’ālim al-Sunan. Jilid 1, hlm 89.

[4] As-Syaukani. Nail al-Auṭār. Jilid 1, hlm 340.

[5] Ibid.

[6] Al-Khaṭṭābi. Ma’ālim al-Sunan. Jilid 1, hlm 89.

[7] An-Nawawi. Al-Minhāj. Jilid 4, hlm 22.

Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments