BERHEMAT MENGGUNAKAN AIR KETIKA BERWUDU

89
Perkiraan waktu baca: 1 menit
image_pdfUnduh PDF

BERHEMAT MENGGUNAKAN AIR KETIKA BERWUDU[1]

وَعَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ يتَوَضَّأُ بِالمـُدِّ وَيَغْتَسِلُ بالصَّاعِ إِلَى خَمْسَةِ أَمْدَادٍ. مُتَّفقٌ عَلَيْهِ

Dari Anas bin Mālik, beliau berkata, “Rasulullah ﷺ berwudu hanya dengan satu mud (air) dan mandi hanya dengan satu sha’ hingga lima mud (air).” (muttafaqun ‘alaihi) [2]

Kosa kata hadis:

  1. Mud (المـُدِّ) adalah ukuran penuh dua telapak tangan seseorang yang berukuran sedang.[3] Jika dikonversi dengan ukuran zaman ini, satu mud setara dengan 0,688 liter.[4]
  2. Sedangkan sha’ setara dengan 2,75 liter.[5] Namun ukuran tersebut bisa berbeda karena ada perbedaan massa jenis air dan benda yang lain seperti kurma, gandum atau beras.

Makna hadis:

Berwudu dengan satu mud dan mandi dengan satu sha’ hingga lima mud air adalah kebiasaan Nabi Muhammad ﷺ. Kadar tersebut cukup standar karena beliau selalu menyempurnakan wudu dengan volume air yang mungkin dianggap sedikit bagi sebagian orang.

Hadis ini diriwayatkan oleh Anas bin Mālik t, beliau menjadi khadam dan bertanggung jawab menyediakan air wudu bagi Nabi Muhammad ﷺ selama 10 tahun lamanya.

Faedah dan istinbat dari hadis:

  1. Kadar yang dianjurkan dalam menggunakan air ketika berwudu adalah satu mud dan untuk mandi adalah satu sha’ atau boleh hingga lima mud.[6]
  2. Maksud hadis ini adalah tanbihat tentang keutamaan berhemat menggunakan air dan tidak israf. Mustaḥab bagi yang mampu menyempurnakan wudu dengan kadar air yang sedikit untuk tidak menambahkan penggunaan air, karena israf adalah sesuatu yang terlarang dalam syariat Islam. [7]
  3. Perbedaan kadar air yang digunakan oleh Nabi ﷺ dari riwayat-riwayat hadis yang ada, dapat juga dibawa kepada suatu kompromi bahwa tidak ada batasan jumlah minimal dan maksimal dalam penggunaan air ketika bersuci. Yang mesti diperhatikan adalah kesempurnaan bersuci dan memenuhi standar sah bersuci tersebut. Pendapat ini adalah pilihan Imam al-Syafi’i raḥimahullāh dan beberapa ulama lainnya.[8]

 


Footnote:

[1] Muḥammad bin Isma’īl al-Ṣan’ānī. Op. Cit. Jilid 1, hlm. 78.

[2] H.R. al-Bukhārī (201) dan Muslim (325).

[3] Muḥammad bin Isma’īl al-Ṣan’ānī. Op. Cit. Jilid 1, hlm. 68.

[4] Prof. Dr. Wahbah bin Musṭafā al-Zuhailī. Al-Fiqh al-Islāmī wa Adillatuhu. Jilid 1, hlm. 75.

[5] Ibid.

[6] Al-Nawawī. Al-Minhāj. Jilid 4, hlm. 6.

[7] Ibnu Baṭṭal. Op. Cit. Jilid 1, hlm. 303.

[8] Al-Nawawī. Al-Minhāj. Jilid 6, hlm. 6.

image_pdfUnduh PDF
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments