BAIT KE-19 DAN KE-20: HADIS MUDALLAS

24
BAIT KE DAN KE HADIS MUDALLAS
Perkiraan waktu baca: 3 menit
image_pdfUnduh PDF

SYARAH MUDAH MATAN AL-BAIQŪNI[1]
BAIT KE-19 DAN KE-20: HADIS MUDALLAS

Imam al-Baiqūni:

الأَوَّلُ: الإسْقَاطُ لِلشَّيْخِ وَأَنْ … يَنْقُلَ عَمَّنْ[2] فَوْقَهُ بِعَنْ وَأَنْ

وَالثَّانِ: لاَ يُسْقِطُهُ لَكِنْ يَصِفْ … أَوْصَافَهُ[3] بِمَا بِهِ لاَ يَنْعَرِفْ

Artinya:
“Pertama, (penyebutan) gurunya dihilangkan dan dinukil dari (rawi) di atasnya (guru tersebut) dengan ‘an atau an. Kedua, ia tidak menghilangkannya tetapi menyebutnya dengan sifat yang tidak dikenal.”

Syekh ‘Abd al-Sattār mengganti kata والثَّانِ dengan kata وَالثَّالِثُ. Sebab, ulama membagi tadlīs menjadi tiga jenis sebagaimana akan diterangkan, meski Ibn al-Ṣalāḥ dalam Muqaddimah yang masyhur hanya menyebutkan dua jenis.

Jenis-jenis Tadlīs

Tadlīs al-taswiyah[4] yaitu riwayat seorang rawi dari gurunya kemudian menghilangkan rawi daif di antara dua rawi ṡiqah yang pernah bertemu satu sama lain. Yang paling terkenal sering melakukan ini adalah Baqiyyah bin al-Walīd.[5]

Contohnya, Ibn Abi Ḥātim[6] meriwayatkan dengan berkata, “Saya mendengarkan ayah saya…” kemudian beliau menyebutkan hadis yang diriwayatkan oleh Isḥāq bin Rāhawaih dari Baqiyyah, dia berkata, “Abu Wahb al-Asadi telah menyampaikan kepada saya dari Nāfi’ dari Ibn ‘Umar tentang hadis

لَا تَحْمَدُوا إِسْلَامَ الْمَرْءِ حَتَّى تَعْرِفُوا عُقْدَةَ رَأْيِهِ

Artinya:
“Jangan memuji keislaman seseorang hingga engkau mengetahui pemikirannya!”

Ibn Abi Ḥātim berkata bahwa ayahnya berkata, “Ini adalah hadis yang memiliki persoalan yang tidak banyak dipahami. ‘Ubaidullāh bin ‘Amr, seorang yang ṡiqah, meriwayatkan hadis ini dari Isḥāq bin Abu Farwah, seorang yang daif, dari Nāfi’, seorang yang ṡiqah, dari Ibn ‘Umar dari Nabi ṣallallāhu‘alaihiwasallam. Ubaidullāh bin ‘Amr memiliki kunyah Abu Wahb dan seorang Asadi (dari suku Asad), maka Baqiyyah menyebutnya dengan kunyahnya dan menisbatkannya kepada Bani Asad agar ia tidak dikenali sehingga apabila Ishāq bin Abu Wafrah tidak disebutkan dalam sanad setelahnya maka tidak akan terdeteksi.[7]

Baca juga:  HADIS SAHIH

Tadlīs al-Isnād[8] yaitu seorang rawi meriwayatkan dari seseorang -yang ia pernah mendengarkan darinya- sebuah riwayat yang tidak pernah ia dengarkan darinya tanpa menyebutkan secara tegas bahwa ia mendengarkannya. Oleh karena itu, ia menggunakan lafaz yang mengesankan bahwa ia pernah mendengarkannya, misalnya عَنْ (dari), أَنَّ (bahwa), atau قَالَ (dia berkata).

Contohnya, al-Nasāi meriwayatkan dalam ‘Amal al-Yaum wa al-Lailah[9] dengan sanadnya dengan dua jalur,

عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ قَالَ كانَ النَّبيُّ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ لا ينامُ كُلَّ لَيْلَةٍ حتَّى يقرأَ ﴿تَنْزِيلُ﴾ السجدة، وتَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الملْكُ

Artinya:
“Dari Abu al-Zubair, dari Jābir, beliau berkata, Nabi ṣallallāhu‘alaihiwasallam tidak tidur setiap malam hingga membaca tanzīlu (yakni) Surah al-Sajdah dan Tabārakallazi biyadihil-mulk.”

Kemudian setelah itu beliau meriwayatkan dengan sanadnya kepada Zuhair bin Mu’āwiyah bahwa beliau berkata, “Saya bertanya kepada Abu al-Zubair, ‘Engkau mendengar Jabir berkata bahwa Nabi ṣallallāhu‘alaihiwasallam tidak tidur hingga membaca alif lām mīm tanzīlu dan tabārak?’ Dia menjawab, ‘Bukan Jabir yang menyampaikannya kepada saya melainkan Ṣafwān atau Abu Ṣafwān.’”

Di dalam contoh ini, Abu al-Zubair melakukan tadlīs dengan menghilangkan orang yang menjadi perantara baginya terhadap hadis ini dari Jābir.[10]

Tadlīs al-syuyūkh[11] yaitu seorang rawi meriwayatkan dari gurunya sebuah hadis yang ia dengarkan darinya akan tetapi ia menamai, memberi kunyah, memberi nisbat, atau menyebut gurunya dengan sesuatu yang tidak diketahui pada gurunya tersebut sehingga gurunya tersebut menjadi tidak dikenal.

Contohnya, Abu Bakr bin Mujāhid, salah seorang imam qiraat, berkata, “’Abdullāh bin Abu ‘Abdillāh menyampaikan kepada saya….” yang beliau maksud adalah Abu Bakr bin Abu Dāwūd al-Sijistāni, namun dengan penyebutan demikian rawi tersebut menjadi sulit dikenali oleh pendengar.[12]

Baca juga:  BAIT KEDELAPAN DAN KESEMBILAN: HADIS MUSNAD DAN MUTTAṢIL

Al-Ḥāfiẓ Ibn Ḥajar memiliki kitab yang bermanfaat dalam pembahasan ini yang diberi judul Ta’rīf  Ahl al-Taqdīs bi Marātib al-Mauṣūfīn bi al-Tadlīs. Kitab ini telah dicetak dan tersebar.

Masih ada jenis-jenis tadlīs lain yang telah diuraikan oleh para ahli hadis raḥimahumullāh.[13]

 

 


Footnote:

[1] Diterjemahkan dan disadur dari kitab al-Ta’liqāt al-Aariyyah ‘ala al-Manẓūmah al-Baiquniyyah karya Syekh ‘Ali bin Ḥasan al-Ḥalabi al-Aṡari rahimahullāh.

[2] Dalam naskah yang lain: مِمَّنْ

               [3] Demikian lafaz dalam umumnya naskah al-Baiqūni dan demikian pula syarahnya, akan tetapi dalam naskah syarah Syekh al-Halabi disebut (إسناده)

[4] al-Tadrīb (1/224) dan Tauḍīḥ al-Afkār (1/373)

[5] Untuk mengetahui biografinya silakan rujuk: Tahżīb al-Tahẓīb (1/447) dan al-Jarḥ wa al-Ta’dīl (2/434). Dikatakan tentangnya أحاديث بَقِيَّة ليستْ نقيَّة، فكن منها على تقية (Hadis-hadis Baqiyyah tidak bersih, maka berhati-hatilah terhadap hadis-hadis tersebut), sebagaimana dalam Tārīkh Bagdād (7/124), al-Kāmil (2/504), dan al-Żahabi juga menyebutkannya dalam al-Mīzān (1/331) dari Abu Mushir.

[6] ‘Ilal al-Ḥādīṡ (2/155).

[7] Rujuk: al-Tadrīb (78) dan al-Taqyīd wa al-Īḍāḥ (1/225).

[8] Lihat: al-Bā’iṡ (1/172) dan al-Tadrīb (1/186).

[9] h. 431.

[10] Untuk mengetahui lebih lanjut, lihat: Dirāsāt ‘Ilmiyyah fi Ṣaḥīḥ Muslim karya Syekh Ali al-Ḥalabi (h. 68-69).

[11] Lihat: Maḥāsīn al-Iṣṭilāḥ (167), Jāmi’ al-Taḥṣīl (110), dan Fatḥ al-Mugīṡ (1/169).

[12] Lihat: Ṭabaqāt al-Mudallisīn (h. 155) karya Dr. ‘Āṣim al-Qaryūti.

[13] Untuk mengetahui jenis-jenis tersebut, lihat: Muqaddimah Ibn al-Ṣalāḥ (h. 66), al-Iqtirāḥ (h. 208) karya Ibn Daqīq al-‘Īd, Tadrīb al-Rāwi (1/223), dan al-Taqyīd wa al-Īḍāḥ (h. 95).

image_pdfUnduh PDF
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments