BAB 6 KETIKA PUJIAN KEPADA NABI ﷺ MELAMPAUI BATASPerkiraan waktu baca: 3 menit

6
aqidah

40 HADIS TENTANG KOREKSI KEKELIRUAN AKIDAH[1]

Teks Hadis:

عَنِ الرُّبَيِّعِ بِنْتِ مُعَوِّذٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: دَخَلَ عَلَيَّ النَّبِيُّ ﷺ غَدَاةَ بُنِيَ عَلَيَّ، فَجَلَسَ عَلَى فِرَاشِي كَمَجْلِسِكَ مِنِّي، وَجُوَيْرِيَاتٌ يَضْرِبْنَ بِالدُّفِّ، يَنْدُبْنَ مَنْ قُتِلَ مِنْ آبَائِهِنَّ يَوْمَ بَدْرٍ، حَتَّى قَالَتْ جَارِيَةٌ: وَفِينَا نَبِيٌّ يَعْلَمُ مَا فِي غَدٍ، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «لَا تَقُولِي هَكَذَا، وَقُولِي مَا كُنْتِ تَقُولِينَ».

Artinya: Dari al-Rubayyi‘ binti Mu‘awwidz radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Nabi ﷺ datang menemuiku pada pagi hari setelah malam pengantinku. Beliau duduk di atas alas tidurku sebagaimana engkau duduk di dekatku sekarang. Saat itu, beberapa gadis kecil sedang menabuh rebana sambil melantunkan syair yang mengenang ayah-ayah mereka yang gugur dalam Perang Badar. Lalu, salah seorang dari mereka melantunkan, ‘Di tengah kami ada seorang nabi yang mengetahui apa yang akan terjadi esok hari.’

Nabi ﷺ pun bersabda, ‘Janganlah engkau mengatakan demikian. Lantunkanlah kembali apa yang tadi engkau lantunkan.’”

Takhrij Hadis:

H.R. al-Bukhari dalam Kitab al-Maghazi, no. 4001.

Kekeliruan Akidah

Ucapan yang dilantunkan para gadis kecil di hadapan Nabi ﷺ:

«وَفِينَا نَبِيٌّ يَعْلَمُ مَا فِي غَدٍ».

Artinya: “Di tengah kami ada seorang nabi yang mengetahui apa yang akan terjadi esok hari.”

Koreksi Nabi ﷺ

Ketika salah seorang gadis kecil melantunkan, “Di tengah kami ada seorang nabi yang mengetahui apa yang akan terjadi esok hari,” Nabi ﷺ bersabda:

«لَا تَقُولِي هَكَذَا، وَقُولِي مَا كُنْتِ تَقُولِينَ».

Artinya: “Janganlah engkau mengatakan demikian. Lantunkanlah kembali apa yang tadi engkau lantunkan.”

Nabi ﷺ melarangnya mengucapkan kalimat, “Di tengah kami ada seorang nabi yang mengetahui apa yang akan terjadi esok hari.” Sebab, tidak ada yang mengetahui apa yang akan terjadi esok hari dan pada masa mendatang selain Allah ‘Azza wa Jalla. Beliau memerintahkannya kembali melantunkan syair sebelumnya, yang menyebutkan kebaikan orang-orang yang gugur dalam Perang Badar dan hal-hal semisalnya.

Baca juga:  BAB 2 SABDA NABI ﷺ: “ISTIRAHATKAN KAMI DARI DZU AL-KHALASHAH!”

Sabda beliau, “Janganlah engkau mengatakan demikian,” merupakan larangan yang menunjukkan bahwa ucapan tersebut adalah kemungkaran yang harus segera diluruskan. Kemungkaran itu tidak boleh dibiarkan ataupun ditunda penanganannya.

“Contoh larangan beliau terhadap kemungkaran yang dilakukan di hadapan beliau sangatlah banyak. Siapa pun yang bertemu beliau semasa hidupnya tidak mungkin melakukan kemungkaran di hadapan beliau lalu dibiarkan tanpa teguran.”[2]

Sesungguhnya kunci-kunci perkara gaib berada di sisi Allah; tidak ada yang mengetahuinya selain Dia. Allah Ta‘ala berfirman tentang Nabi-Nya, Muhammad ﷺ:

﴾قُلْ لَا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلَا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلَا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَىٰ إِلَيَّ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الْأَعْمَىٰ وَالْبَصِيرُ أَفَلَا تَتَفَكَّرُونَ﴿

Artinya: “Katakanlah, ‘Aku tidak mengatakan kepada kalian bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan aku tidak mengetahui perkara gaib. Aku juga tidak mengatakan kepada kalian bahwa aku adalah malaikat. Aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku.’ Katakanlah, ‘Apakah sama orang yang buta dengan orang yang dapat melihat? Tidakkah kalian berpikir?’” (Q.S. Al-An‘am: 50)

Allah ‘Azza wa Jalla juga berfirman:

﴾قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ﴿

Artinya: “Katakanlah, ‘Aku tidak kuasa mendatangkan manfaat ataupun menolak mudarat bagi diriku sendiri, kecuali yang Allah kehendaki. Seandainya aku mengetahui perkara gaib, tentu aku akan memperoleh banyak kebaikan dan tidak akan ditimpa keburukan. Aku hanyalah pemberi peringatan dan pembawa kabar gembira bagi orang-orang yang beriman.’” (Q.S. Al-A‘raf: 188)

Allah mengkhususkan pengetahuan tentang perkara gaib bagi diri-Nya. Allah Ta‘ala berfirman:

﴾وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ﴿

Baca juga:  BAB 4 DZAN ANWATH: PELAJARAN TAUHID TENTANG SEBUAH POHON

Artinya: “Di sisi-Nya terdapat kunci-kunci perkara gaib; tidak ada yang mengetahuinya selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak sehelai daun pun gugur tanpa Dia mengetahuinya. Tidak pula sebutir biji dalam kegelapan bumi, dan tidak ada sesuatu yang basah ataupun kering, melainkan tercatat dalam kitab yang jelas.” (Q.S. Al-An‘am: 59)

Allah ‘Azza wa Jalla juga berfirman:

﴾إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ ﴿بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Artinya: “Sesungguhnya hanya di sisi Allah pengetahuan tentang hari Kiamat. Dialah yang menurunkan hujan dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Tidak seorang pun mengetahui apa yang akan diperolehnya esok hari, dan tidak seorang pun mengetahui di bumi mana ia akan meninggal. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.” (Q.S. Luqman: 34)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Inilah kunci-kunci perkara gaib yang pengetahuannya Allah Ta‘ala khususkan bagi diri-Nya. Tidak seorang pun mengetahuinya, kecuali setelah Allah Ta‘ala memberitahukannya. …”

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi ﷺ bersabda:

«مَفَاتِيحُ الْغَيْبِ خَمْسٌ، لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا اللَّهُ: لَا يَعْلَمُ مَا تَغِيضُ الْأَرْحَامُ إِلَّا اللَّهُ، وَلَا يَعْلَمُ مَا فِي غَدٍ إِلَّا اللَّهُ، وَلَا يَعْلَمُ مَتَى يَأْتِي الْمَطَرُ أَحَدٌ إِلَّا اللَّهُ، وَلَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِلَّا اللَّهُ، وَلَا يَعْلَمُ مَتَى تَقُومُ السَّاعَةُ إِلَّا اللَّهُ».

Artinya: “Kunci-kunci perkara gaib ada lima; tidak ada yang mengetahuinya selain Allah. Tidak ada yang mengetahui apa yang berkurang dalam rahim selain Allah. Tidak ada yang mengetahui apa yang akan terjadi esok hari selain Allah. Tidak seorang pun mengetahui kapan hujan akan turun selain Allah. Tidak seorang pun mengetahui di bumi mana ia akan meninggal, kecuali Allah yang mengetahuinya. Tidak ada yang mengetahui kapan Kiamat akan terjadi selain Allah.”[3]

Baca juga:  BAB 3: MEMBANGUN MASJID DAN MEMASANG GAMBAR DI ATAS KUBURAN

Aisyah radhiyallahu ‘anha juga berkata:

«مَنْ حَدَّثَكَ أَنَّهُ يَعْلَمُ مَا فِي غَدٍ فَقَدْ كَذَبَ».

Artinya: “Siapa yang mengatakan kepadamu bahwa beliau mengetahui apa yang akan terjadi esok hari, sungguh ia telah berdusta.”

Kemudian, Aisyah membaca:

﴾وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا﴿

Artinya: “Tidak seorang pun mengetahui apa yang akan diperolehnya esok hari.” (Q.S. Luqman: 34)[4]

Setelah penjelasan ini, bagaimana mungkin seorang muslim menerima syair yang menisbatkan pengetahuan tentang perkara gaib kepada Rasulullah ﷺ berikut ini:

فَإِنَّ مِنْ جُودِكَ الدُّنْيَا وَضَرَّتَهَا
وَمِنْ عُلُومِكَ عِلْمَ اللَّوْحِ وَالْقَلَمِ

“Sesungguhnya dunia dan akhirat termasuk bagian dari kemurahanmu,
dan pengetahuan tentang Lauh dan Qalam termasuk bagian dari ilmumu.”

Ia mengulang-ulang syair itu dengan mengira bahwa dirinya sedang memuji Rasulullah ﷺ, serta meyakini bahwa pengetahuan tentang Lauh dan Qalam termasuk bagian dari ilmu beliau. Inilah sikap berlebihan dan kesesatan yang sesungguhnya. Sebab, pengetahuan tentang perkara gaib hanya milik Allah ‘Azza wa Jalla. Tidak ada malaikat yang didekatkan kepada-Nya ataupun nabi yang diutus yang mengetahuinya. Allah-lah yang memperlihatkan sebagian perkara gaib kepada nabi dan rasul yang Dia kehendaki, semoga selawat dan salam tercurah kepada mereka, berdasarkan hikmah yang Dia ketahui.


Footnote:

[1] Diterjemahkan dari kitab al-Arba‘un al-Nabawiyyah fi Tashwib al-Akhtha’ al-‘Aqadiyyah karya Syekh Zaid bin Falih al-Rab‘ al-Syammari, pembahasan keenam, hlm. 27–29.

[2] Al-Sharim al-Munki fi al-Radd ‘ala al-Subki, hlm. 78.

[3] H.R. al-Bukhari dalam Kitab al-Tauhid, Bab: Firman Allah Ta‘ala, “Dia mengetahui yang gaib, tetapi Dia tidak memperlihatkan kepada siapa pun tentang yang gaib itu”, no. 7379.

[4] H.R. al-Bukhari dalam Kitab al-Tafsir, pada pembahasan Surah al-Najm, no. 4855.

Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Oldest
Newest Most Voted