
40 HADIS TENTANG KOREKSI KEKELIRUAN AKIDAH(1)
Hadis
عن جرير بن عبد الله رضي الله عنه قال قال لي رَسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم: ألا تُريحُني مِن ذي الخَلَصةِ؟ فقُلتُ: بَلى، فانطَلَقتُ في خَمسينَ ومِئةِ فارِسٍ مِن أحمَسَ، وكانوا أصحابَ خَيلٍ، وكُنتُ لا أثبُتُ على الخَيلِ، فذَكَرتُ ذلك للنَّبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم، فضَرَبَ يَدَه على صَدري حتَّى رَأيتُ أثَرَ يَدِه في صَدري، وقال: اللهُمَّ ثَبِّتْه، واجعَلْه هاديًا مَهديًّا، قال: فما وقَعتُ عن فرَسٍ بَعدُ، قال: وكان ذو الخَلَصةِ بَيتًا باليَمَنِ لخَثعَمَ وبَجيلةَ، فيه نُصُبٌ تُعبَدُ، يُقالُ له: الكَعبةُ، قال: فأتاها فحَرَّقَها بالنَّارِ وكَسَرَها، قال: ولَمَّا قدِمَ جَريرٌ اليَمَنَ، كان بها رَجُلٌ يَستَقسِمُ بالأزلامِ، فقيلَ له: إنَّ رَسولَ رَسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم هاهنا، فإن قدَرَ عليك ضَرَبَ عُنُقَكَ، قال: فبينَما هو يَضرِبُ بها إذ وقَفَ عليه جَريرٌ، فقال: لَتَكسِرَنَّها ولَتَشهَدَنَّ: أن لا إلَهَ إلَّا اللهُ، أو لَأضرِبَنَّ عُنُقَكَ؟ قال: فكَسَرَها وشَهِدَ، ثُمَّ بَعَثَ جَريرٌ رَجُلًا مِن أحمَسَ يُكنى أبا أرطاةَ إلى النَّبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم يُبَشِّرُه بذلك، فلَمَّا أتى النَّبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم قال: يا رَسولَ اللهِ، والذي بَعَثَكَ بالحَقِّ، ما جِئتُ حتَّى تَرَكتُها كَأنَّها جَمَلٌ أجرَبُ، قال: فبَرَّكَ النَّبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم على خَيلِ أحمَسَ ورِجالِها، خَمسَ مَرَّاتٍ
Artinya: Dari Jarir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Rasulullah ﷺ berkata kepadaku: “Maukah engkau menenangkan hatiku dari Dzu al-Khalashah?” Aku menjawab, “Tentu.” Maka aku pun berangkat bersama seratus lima puluh pasukan berkuda dari kabilah Ahmas. Mereka adalah para penunggang kuda yang mahir, sedangkan aku sendiri tidak begitu mantap ketika menunggang kuda. Maka aku menyampaikan hal itu kepada Nabi ﷺ. Beliau lalu meletakkan tangan beliau di dadaku hingga aku melihat bekas tangan beliau di dadaku, kemudian beliau berdoa: “Ya Allah, teguhkanlah dia dan jadikanlah dia sebagai pemberi petunjuk lagi mendapat petunjuk.” Jarir berkata: Setelah itu aku tidak pernah lagi terjatuh dari kuda. Jarir berkata: Dzu al-Khalashah adalah sebuah bangunan di Yaman milik Khats‘am dan Bajilah. Di dalamnya terdapat berhala yang disembah, dan disebut sebagai “Ka‘bah”. Rawi berkata: Maka dia mendatanginya, lalu membakarnya dengan api dan menghancurkannya. Rawi berkata: Ketika Jarir tiba di Yaman, di sana ada seorang laki-laki yang melakukan undian dengan azlam (anak panah untuk ramalan nasib). Lalu dikatakan kepadanya, “Utusan Rasulullah ﷺ ada di sini. Jika ia berhasil menangkapmu, ia akan memenggal lehermu.” Jarir berkata: Ketika orang itu sedang mengocok anak-anak panah tersebut, tiba-tiba Jarir mendatanginya dan berkata: “Engkau harus menghancurkannya dan bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah. Jika tidak, aku akan memenggal lehermu!” Jarir berkata: Maka orang itu pun menghancurkannya dan bersaksi. Kemudian Jarir mengutus seorang laki-laki dari Ahmas yang dikenal dengan kunyah Abu Arthah kepada Nabi ﷺ untuk menyampaikan kabar gembira tersebut. Ketika ia tiba di hadapan Nabi ﷺ, ia berkata: “Wahai Rasulullah, demi Zat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak datang kepadamu sampai aku benar-benar telah menjadikannya seperti unta yang terkena penyakit kudis.” Jarir berkata: Maka Nabi ﷺ mendoakan keberkahan bagi pasukan berkuda Ahmas dan para lelaki mereka sebanyak lima kali.
Takhrij Hadis
H.R. Bukhari, Kitab al-Maghazi, Bab “Perang Dzu al-Khalashah” nomor 4357.
H.R. Muslim, Kitab Fadhail al-Shahabah, Bab “Di antara keutamaan Jarir” nomor 2476.
Masalah Akidah
Dzu al-Khalashah adalah sebuah tempat di Yaman milik Khats‘am dan Bajilah. Di dalamnya terdapat berhala yang disembah dan disebut sebagai “Ka‘bah”, dan dikatakan juga “Ka’bah Yaman dan Ka’bah Syam.
Koreksi Nabi ﷺ
Nabi ﷺ memerintahkan penghancuran berhala yang disembah selain Allah tersebut. Beliau mengutus Jarir untuk melakukannya seraya berkata:
أَلَا تُرِيحُنِي مِنْ ذِي الْخَلَصَةِ
Artinya: “Maukah engkau menenangkan hatiku dari Dzul Khalashah?”
Tidak ada sesuatu yang lebih berat bagi hati Nabi ﷺ daripada adanya sesuatu yang dipersekutukan dengan Allah Ta‘ala. Maka Jarir pun mendatanginya, membakarnya, dan menghancurkannya hingga tempat itu tampak seperti unta yang terkena penyakit kudis.
Karena syirik merupakan dosa terbesar, kemungkaran paling besar, dan kejahatan yang paling berat, maka hal itu sangat membebani hati Nabi ﷺ dan membuat beliau merasa terganggu, sampai-sampai penghancuran dan pemusnahannya menjadi sesuatu yang menenangkan hati beliau. Oleh sebab itu beliau berkata kepada Jarir:
!أَلَا تُرِيحُنِي مِنْ ذِي الْخَلَصَةِ
Artinya: “Maukah engkau menenangkan hatiku dari Dzul Khalashah?”
Karena itulah Jarir segera melaksanakan perintah mulia dari Nabi ﷺ tersebut. Ia bersegera menuju Dzu al-Khalashah untuk menghancurkan dan membakarnya. Jarir juga mengetahui betapa besar pengaruh kemungkaran ini terhadap hati Nabi ﷺ serta betapa beratnya hal itu bagi beliau, maka ia tidak menunggu sampai dirinya kembali sendiri untuk menyampaikan kabar gembira. Ia segera mengutus seseorang dari Ahmas yang berkuniyah Abu Arthah kepada Nabi ﷺ untuk memberinya kabar gembira tentang hal tersebut.
Ketika dia mendatangi Nabi ﷺ dia berkata, “Wahai Rasulullah, demi Zat yang mengutus Anda dengan kebenaran! Saya tidak datang ke tempat ini hingga saya meninggalkan berhala tersebut dalam keadaan seakan-akan unta yang berkudis.” Rawi berkata, “Nabi ﷺ mendoakan keberkahan atas kuda-kuda Ahmas dan para penunggangnya sebanyak lima kali.”
Doa Nabi ﷺ sebanyak lima kali serta doa keberkahan beliau untuk pasukan berkuda Ahmas menunjukkan betapa besar kegembiraan beliau, semoga shalawat dan salam tercurah kepada beliau, atas penghancuran dan pembakaran Dzu al-Khalashah yang mereka lakukan.
Berkenaan dengan penyebutan Dzu al-Khalashah ini, telah diriwayatkan dalam hadis Abu Hurairah bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَضْطَرِبَ أَلَيَاتُ نِسَاءِ دَوْسٍ عَلَى ذِي الْخَلَصَةِ
Artinya: “Kiamat tidak akan terjadi sampai bokong-bokong wanita Daus berguncang di sekitar Dzu al-Khalashah.”(2)
Dzu al-Khalashah adalah sesembahan kabilah Daus yang dahulu mereka sembah pada masa Jahiliyah.
Dalam hadis ini terdapat isyarat tentang akan terjadinya kemurtadan dan kembalinya manusia kepada penyembahan berhala.
Ucapan Nabi ﷺ:
تَضْطَرِبَ أَلَيَاتُ نِسَاءِ دَوْسٍ
Artinya: “Bokong-bokong wanita Daus berguncang,”
Ditafsirkan oleh para ulama sebagai gambaran ibadah wanita-wanita tersebut kepada berhala itu dan tawaf mereka di sekelilingnya. Guncangan bokong di sini merupakan ungkapan kiasan tentang gerakan dan langkah mereka ketika mengelilingi berhala tersebut.
An-Nawawi berkata: Yang dimaksud ialah mereka bergerak ketika thawaf di sekitar Dzu al-Khalashah, yakni mereka kafir dan kembali menyembah berhala.(3)
Kesimpulannya, ungkapan tersebut menunjukkan ibadah mereka kepada berhala itu, semangat mereka dalam tawaf dan berkeliling di sekitarnya, serta berdesak-desakan mereka dalam melakukan kemungkaran besar tersebut.
Footnote:
(1) Diterjemahkan dan disadur dari kitab al-Arba’ūn al-Nabawiyyah fi Tashwib al-Akhtha’ al-Aqadiyyah karya Syekh Zaid bin Falih asy-Syamari hafiẓahullāh.
(2) H.R. Al-Bukhari dalam Kitab Al-Fitan, Bab: Perubahan zaman hingga berhala kembali disembah, (no. 7116); dan Muslim dalam Kitab Al-Fitan, Bab: Kiamat tidak terjadi hingga Daus menyembah Dzu al-Khalashah, (no. 2906).
(3) Syarh Shahih Muslim (18/33).















